Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial mengorientasikan diri untuk menjadi katalisator terwujudnya Mulkiyah Allah di muka bumi, dan bersama-sama menggalang kekuatan kolektif dari potensi-potensi yang telah sejak lama berada dipangkuan Ummat Islam... Billahi Hayaatuna Wallahu Fii Hayati 'I-Mustadz'afin... Hidup Kita Bersama Allah, dan Allah Berada Dalam Kehidupan Kaum Tertindas... Inna fatahna laka fathan mubina… Yuqtalu au yaghlib !

Jilbab Lebar dan Eksklusivitas

Ukhuwah

Tidak dipungkiri bahwa setiap orang terikat dengan orang lain, seperti yang selalu diungkapkan pada setiap kali pelajaran Sosiologi dimulai: Manusia adalah makhluk sosial. Maka, pada setiap gerombolan manusia (dua orang atau lebih), selalu ada setidaknya satu hal yang menyatukan.
Kelompok belajar disatukan oleh keinginan untuk belajar lebih daripada yang dipelajari di sekolah/kampus. Mereka yang tidak berkeinginan belajar lebih lanjut, tentu saja, tidak akan bergabung dengan kelompok ini.  Orang-orang yang tergabung dalam kategori anak gaul, pergi clubbing atau nangkring di kafe dan mall dengan sesama mereka yang senang dengan aktivitas tersebut. Mereka yang tidak senang dengan aktivitas tersebut juga tidak akan mengikuti kelompok ini.

P 

‘Satu hal’ ini dapat beragam, tidak hanya berupa ketertarikan utama. Misalnya saja dari kedua kelompok di contoh sebelumnya, seseorang di kelompok belajar dapat juga dekat dengan si anak gaul karena beraktivitas di satu divisi organisasi yang sama dan memiliki bahasan yang sama dalam hal tersebut. Di antara kelompok-kelompok besar, ada sangat banyak faktor yang mendukung kedekatan-kedekatan dalam skala yang lebih kecil, bahkan skala individu.


Pun, gerombolan para perempuan berkerudung lebar dan laki-laki berjenggot dan celana cungkring. Satu hal yang menyatukan orang-orang ini adalah ketertarikan mereka terhadap segala sesuatu mengenai keyakinannya, terhadap Tuhannya.  Terlepas dari landasan awal setiap individunya dalam ‘memilih busana’, pada akhirnya bukan karena pakaiannya-lah gerombolan ini terbentuk. Pemilihan pakaian ini adalah output dari keyakinan dan pemahamannya, yang tentu saja berawal dari ketertarikannya—ketertarikan untuk menjadi manusia yang baik, ketertarikan untuk taat pada Tuhannya.

Dari kelompok besar ini pun ada banyak ketertarikan sekunder dan tersier yang memisahkannya menjadi kelompok-kelompok yang lebih kecil, seperti perkara ideologi, fikih, metode pergerakan, dan sebagainya.

Dengan demikian, jelaslah terlihat bahwa eksklusivitas bukanlah permasalahan pakaian, bukan juga milik para aktivis dakwah saja. Setiap ketertarikan dan cita-cita memiliki kelompok eksklusifnya masing-masing. Hal ini dinamakan ukhuwah.

lucu
Eksklusivitas: Antara Naluri dan Degradasi

Dari Abu Hurairah radhiallahu anhu dia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam muncul dalam keadaan asing, dan ia akan kembali dalam keadaan asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasingkan itu.” (HR. Muslim no. 208)

Ketahuilah satu hal. Jilbab adalah bentuk ketaatan. Dengan begitu banyaknya yang berjilbab tapi telanjang, berjilbab rapi adalah suatu prestasi ketaatan, satu dari sekian banyak yang mesti dikerjakan. Menutupi dada, longgar, tidak transparan, dan tidak membentuk. Betapa risihnya jika (maaf) dada menonjol dan dipandangi banyak orang, paha dan bagian tubuh belakang menjiplak dan dipandangi banyak orang, sementara rambut tertutup kain. Bisa jadi semua hal itu adalah hal yang berat, terlihat dari berapa banyak muslimah yang berani mengambil risiko tampak aneh.

Jilbab lebar kemudian menjadi identitas, bahwa “Saya ingin taat.” Kerinduan berada di lingkungan dan negeri yang taat pada Alloh inilah yang menjadi pemicu senyum dan sapaan hangat dari para pelakunya, meski tidak saling kenal. Karena ini pula, fenomena eksklusivitas terjadi.

Kesenangan bergerombol dan beraktivitas dalam kelompok masing-masing ini wajar saja jika tidak mengabaikan peran sosial lainnya. Namun, tidak sedikit kelompok yang terbentuk akhirnya menjadi zona aman dan nyaman bagi individu-individunya. Bicara iman hanya dalam lingkarannya, menghindari bicara iman dan Islam pada kelompok yang berbeda. Jumlah dalam kelompok semakin lama semakin sedikit, kemudian dalil keterasingan yang diungkapkan di awal tadi menjadi pembenaran bagi ketakutan-ketakutannya. “Wajar kami hanya sedikit, sebab sunnatullahnya begitu.

Apa yang ditakutkan ketika membicarakan iman pada orang-orang di sekitar? Banyak aktivis dakwah saat ini tidak merasakan rasanya ditolak mentah-mentah, dijauhi, dan dikucilkan; menghindari berbicara Islam pada orang-orang yang anti-Islam karena takut tidak bisa menjawab disebabkan ilmunya yang masih segitu-segitu saja; tidak berkeinginan mencari tahu lebih jauh dan merasa cukup dan merasa benar dengan apa yang dimilikinya.

Begitulah, yang dinamakan aktivis dakwah hari ini hanya sebatas halaqoh dan dauroh, orasi dan retorika, serta tombol share di media sosial.

Kerja Dakwah

Ya, salah satu pekerjaan bagi mereka yang ingin berada tetap dalam ketaatan adalah dakwah,sebagai wujud keinginan dan cita-cita untuk meraih syurga, menggapai gelar Syahid(ah), dan menegakkan Kalimat Tauhid yang mereka yakini. Cara apa pun mereka tempuh. Ceramah, menulis, berdiskusi, bermusik, membuat film-film bernuansa syiar, bahkan dengan sebanyak-banyaknya share postingan-postingan tentang Islam di media sosial.

Eksklusivitas yang menjadi zona aman adalah salah satu halangan besar, di tengah doktrinasi toleransi keyakinan (bahwa setiap orang berhak menentukan sendiri kadar keimanannya), individualisme (“Loe ya loe, gue ya gue,”), hak asasi, wacana multikulturalisme, bahkan ideologi. Tegaknya Islam menjadi momok yang menakutkan bagi bangsa ini, sedangkan meninggikan kalimat Tauhid adalah kewajiban bagi setiap orang yang mengklaim dirinya sebagai muslim.

Nah, bagaimana bisa meninggikan kalimat Tauhid jika para pemeluknya hidup dalam kelompoknya sendiri?

“If Rasulallah (salAllahu ‘alayhi wa sallam) didn’t engage with the non-Muslims of Makkah, you and I would not be Muslim today. I came to know about Islam because my father is a Muslim, and his father was a Muslim, and his father was a Muslim, and his father was a Muslim, and his father was a Buddhist who converted to Islam. Someone gave my great-great-great-grandfather dawah in the form of love, compassion, respect and courtesy and didn’t label him as a kafir or a waste of time.” (Nourman Ali Khan, pendiri Bayyinah Institute)

Kerja dakwah adalah mengajak mereka yang belum mengerti menjadi mengerti, mengajak mereka yang belum bergerak untuk bergerak, mengajak mereka yang belum bercita-cita menjadi bercita-cita Islam. Utamanya, mengajak mereka yang ingkar menjadi beriman.

Lalu, bagaimana kapasitas muslim dan muslimah saat ini untuk menjalani ini semua, jika ditolak saja takut, depresi dijauhi dan dikucilkan, enggan berbicara Islam pada orang-orang yang anti-Islam, takut tampak bodoh, dan merasa benar dengan apa yang ada?

Berbaur, tapi tidak lebur. Bukan berarti mengekang hidayah hanya untuk diri kita sendiri. Sebab, jika kita melihat lebih luas dan membuka pikiran, setiap orang berkeinginan untuk secara utuh beriman pada Tuhannya. Buka diri dan raih mereka, (dengan demikian) mengukuhkan diri kita. Kita bisa bicara iman dengan siapa saja.


Bandung, 29 April 2015, 18.44
Introspeksi diri. Otokritik.

By: Hana Muwahhida

Situs Islam diblokir, siapa dibalik BNPT?



Mustofa Nahra : Mengapa Situs Islam Liberal & Syiah Yang Menebar Kebencian Tidak Diblokir BNPT ?



sumber: antiliberalnews


AntiLiberalNews - Tokoh muda Muhammadiyah sekaligus pengamat terorisme, Mustofa Nahrawardaya, mempertanyakan kebijakan penutupan situs-situs media Islam oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) atas perintah BNPT.

Menurut Direktur Deradikalisasi BNPT, Irfan Idris, website-website yang memicu pertengkaran, kebencian, memelintir ayat al Quran harus kita tutup karena menyebabkan radikal.

Sontak, Mustofa Nahra langsung bertanya, “Jika website-website yang memicu pertengkaran, kebencian, memelintir ayat al quran harus ditutup karena menyebabkan radikalisasi, mengapa situs Islam Liberal tidak ditutup,” tanya Mustofa dikutip AntiLiberalNews dari acara LIVE TV ONE “Lha Media Islam Kok Diblokir?, Rabu pagi, (01/03)..

“Nah website Islam liberal itu kurang apa itu menyesatkan orang indonesia, maksud saya begitu, orang Islam liberal ini lebih sesat, mereka mengadu domba antar umat Islam , antar firqoh , antar mahdzab, antar aliran, tapi kok dibiarkan saja, lanjutnya berapi-api.

Koordinator Indonesian Crime Analyst Forum (ICAF) itu meminta agar BNPT agar tidak sembarangan menggeneralisr atau menerapkan standar ganda. “Makanya Prof jangan menggeneralisir website yang menebar kebencian sebagai radikal, nah sekarang kenapa JIL ini gak di panggil, panggil atau blokir dulu (situsnya-red).”

Disaat Direktur Deradikalisasi mau berdalih, Mustofa melanjutkan, “Jangan kemudian yang Islam-islam lurus ini anda blokir, yang sesat malah tidak anda blokir.”

“Lha ini kebalik, BNPT jangan terkesan, ikut memperkeruh persoalan umat ini, merusak, BNPT harusnya meluruskan, gitu bro, terang Mustofa.

Mustafa mengingatkan jangan sampai' kelompok Syiah yang bertujuan merebut negara justru memakai tangan BNPT untuk menutup situs-situs media Islam. “Pak prof, di semua negara, saat ini milisi syiah houthi di yaman lagi berkembang, mereka ingin merebut negara, itulah yang berbahaya, jangan yang tidak berbahaya anda blokir,” tegasnya.

“Nanti malah akan ada pertanyaan siapa sebenarnya di belakang BNPT ini,” pungkas Mustofa.

Red : Maulana Mustofa


* Kabar Indonesia Pagi TVOne




Kuasa Wacana, Pengetahuan dan Kekuasaan

Dalam salah satu bukunya yang berjudul ADL (Anti-Defamation League), Censors of the Universe, Inayet Nahvi memusatkan perhatiannya yang besar terhadap kuasa wacana yang mempengaruhi keberlangsungan pola pikir masyarakat dunia. ADL sebagai topik utama dalam bukunya merupakan kumpulan aktivis pro-zionis di Amerika yang memusatkan kegiatannya pada propaganda melalui pers untuk mendukung Zionisme dan menangkis semua berita yang merugikan Israel dan Zionisme.

Kerja-kerja pencitraan yang dilakukan ADL dengan jaringan persnya di seluruh dunia membuahkan sukses legitimasi opini atas segala yang dilakukan Israel dalam memerangi “terorisme” pejuang Palestina. Demikian pula apa-apa yang dilakukan Presiden George W. Bush sejak September Attack, semua menjadi tampak sah dengan kerja-kerja ADL. (Fillah, p. 35-37)

Dalam sejarah, kuasa wacana selalu memegang peranan penting yang menentukan arah perjalanan suatu masyarakat. Bahkan jauh sebelum adanya pers, tercatat Fir’aun sang penguasa tiran telah terlebih dahulu berhasil membangun kuasa wacana yang berpihak sepenuhnya pada dirinya. Kemudian, kelihaiannya dalam bermain bahasa menjadi panutan para penguasa tiran sekarang ini.
Berangkat dari pemahaman bahwa di dalam berbagai wacana, ada relasi kekuasaan tertentu yang menentukan formasi wacana itu sendiri, serta bentuk-bentuk subjektivitas yang ada di dalamnya. Sehingga, diperlukan adanya sebuah cara untuk mendeteksinya.

Dalam buah pikir termasyurnya, Foucault membentangkan sebuah cara pandang baru yang digunakan untuk menjelaskan relasi yang tak tampak di balik berbagai wacana yaitu relasi kekuasaan. Cara pandang tersebut adalah genealogi.

Dengan cara pandang demikian, sebuah relasi yang menentukan arah, bentuk, dan intensitas kekompleksitasannya, yaitu relasi kekuasaan (power relation) akan dengan mudah terdeteksi dengan baik.

Foucault pun melihat adanya penggunaan ruang dalam kajian diskursif yang lebih luas. Penggunaan ruang sangat ditentukan oleh model diskursif yang melandasinya. Ia tidak melihat keberpisahan antara penggunaan ruang dan dan bentuk-bentuk kekuasaan yang beroperasi di dalam setiap wacana. Ruang merupakan sebuah wadah bagi beroperasinya kekuasaan, yang selalu menentukan gerak langkah sebatang tubuh manusia dalam proses sosial di dalamnya.

Ide utama dalam ide Foucault adalah perdebatan panjang yang terpusat di seputar relasi antara diskursus dan kekuasaan, serta peran bahasa di dalamnya. Foucault melihat, bahwa pada setiap diskursus terdapat relasi yang tidak dapat dipisahkan antara ungkapan diskursus, pengetahuan yang melandasinya, serta relasi kekuasaan yang beroperasi di baliknya. Dengan demikian, setiap diskursus tidak dapat dipisahkan dari relasi kekuasaan yang tersembunyi di baliknya, yang merupakan produk dari praktik kekuasaan.

Kekuasaan yang dimaksud oleh Foucault adalah kekuasaan yang plural, yaitu kekuasaan yang tidak berpusat/sentralistik, yang tumbuh dari berbagai ruang periferal, yang ada dimana-mana.
Contoh aplikatifnya adalah konsep kekerasan simbol di dalam institusi pendidikan menciptakan mekanisme sosial, yang di dalamnya relasi pengetahuan (knowledge relation) saling bertautan dengan relasi kekuasaan (power relation). Sebuah kekuasaan seperti kapitalisme, berupaya melaggengkan posisi dominannya dengan cara mendominasi institusi pendidikan, bahasa yang digunakan, tanda-tanda yang dipertukarkan, citra-citra yang diproduksi, pengetahuan yang dihasilkan, serta interpretasi terhadap tanda, citra, pengetahuan yang sesungguhnya sangat kaya tersebut, ke dalam sebuah dimensi tunggal, yaitu dimensi komersial.

Dalam relasi mikro antara dosen sebagai pengajar dan mahasiswa sebagai yang diajar di dalam institusi pendidikan, kekerasan simbol terjadi ketika orang yang didominasi (mahasiswa) menerima konsep, ide, gagasan, citra, kepercayaan, prinsip, atau pengetahuan dalam bentuknya yang mendominasi. Di dalam proses dominasi tersebut sebetulnya telah terjadi sebuah bentuk pemaksaan ideologis yang sangat halus, akan tetapi orang yang didominasi (mahasiswa) tidak sadar telah dicetak lewat institusi pendidikan untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan ideologi yang melandasi institusi pendidikan tersebut.

Terkait dengan cara pandang geneologi yang telah kita bahas di awal tulisan ini, kita dapat dengan bebas membongkar struktur kemungkinan pemahaman. Selain tu, kita dapat menelanjangi diri sendiri atau kritik ontologis diri sendiri (critical ontologi of ourselves), dalam rangka membongkar berbagai bentuk relasi kekuasaan di baliknya. Hal yang dtelanjangi antara lain sumber awal (origin), fungsi permulaan, konteks lingkungan, landasan kehendak, dan relasi kekuasaan di balik sebuah pengetahuan, yang selama ini ditutupi, disembunyikan, atau dibungkam. Pada akhirnya, hal tersebut kemudian dapat menampakkan segala sesuatu yang sebelumnya disembunyikan untuk kemudian diperbaiki ke arah yang lebih baik.

Akhirnya, kita kembali diingatkan dengan buku Seno Gumira Ajidharma yang berjudul Ketika Pers Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Dengan sastra kita bisa memerangi kuasa wacana sang tiran pada sisi tumpu yang lain. Paling tidak, kita telah berani mengatakan kebenaran pada semesta lewat sastra.



Tami Karisma
Bandung, 30 Agustus 2009


DAFTAR PUSTAKA:
Con Davis, Robert. 1986. Contemporary Literary Criticism, Literary and Cultural Studies. New York & London: Longman.
Fillah, Salim. 2006. Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U Media.
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Jakarta & Bandung: Jalasutra.

Menyingkap Ideologi di Balik Argumen Dalam Perspektif Dekonstruktif

Selama ini aku selalu melihat dari dalam
Sehingga tak pernah tahu keindahan rumah ini
Dan kini engkau pun datang, menjadi saudaraku
Tentu bisa kau ceritakan, bagaimana indahnya rumah ini
Dan mengapa pula engkau tertarik menjadi penghuninya
(Kata Sketsa, Percikan Iman)

Islam adalah teroris. Islam cinta kekerasan. Bahkan, Islam dihadirkan dan dianggap paling efektif dijadikan legitimasi untuk menindas kaum perempuan. Itulah beberapa dari sekian banyak stigma negatif yang tengah berseliweran di benak masyarakat kita, bahkan tak sedikit dari mereka menganggap hal tersebut merupakan sebuah kebenaran yang harus diamini tanpa perlu kroscek. Namun banyak orang di luar Islam sendiri yakin untuk menolak konsepsi tersebut dengan adanya asumsi bahwa hal itu tidak benar.
Dalam panggung sejarah, banyak sekali peristiwa yang dapat menjadi argumen yang kuat bagi orang-orang yang sepakat dengan konsep di atas. Mulai dari bom jihad di Palestina yang dipropagandakan para musuh Islam sebagai bom bunuh diri, pemboman di beberapa tempat di tanah air dan mancanegara yang selalu dikaitkan sebagai gerakan terorisme, poligami yang dilakukan oleh beberapa “ustadz selebritis” yang tampangnya selalu berseliweran di layar kaca infotainment, sebagai sebuah tindakan yang merendahkan hak-hak kaum perempuan. Hingga yang terpanas akhir-akhir ini debut sukses film Ayat-ayat Cinta disebut-sebut sebagai bukti nyata dari ketidakadilan Islam dalam mengatur kehidupan laki-laki dan perempuan di muka bumi ini sekaligus sebagai legitimasi religius dalam menindas kaum perempuan. Tapi, satu hal yang penulis pertanyakan, kok laku ya film-nya?

Menyoal tentang stereotif yang menggambarkan paradigma Islam di mata dunia, dengan menyimak pernyataan para ahli mengenai hal tersebut juga aplikasi nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Membicarakan masalah Islam sebagai wacana pembuka dalam tulisan ini, kita tidak akan pernah lepas dari kedudukan Islam sebagai Ideologi.

Sebagai pembuka Louis Althusser memberikan pengantar yang cukup menarik untuk disimak. Althusser beropini bahwa Ideologi merupakan sebuah material practice atau bisa kita katakan sebagai sebuah undang-undang atau seperangkat aturan yang menjadi pedoman dalam gerak langkah seseorang berdasarkan dengan apa yang ia yakini (Althusser in Robert Con Davis, p. 356).
Contoh praktisnya, Ideologi sosialisme dengan teoretikusnya yang termasyur, Karl Marx. Dalam Ideologi ini para “penganutnya” harus mematuhi segala aturan atau undang-undang yang berlaku dalam Ideologi tersebut sehingga kemaslahatan umum dan perbaikan kondisi pekerja terjaga. Sosialisme muncul akibat kezhaliman kapitalisme terhadap masyarakat. Hak terbesar diberikan kepada negara atau sekelompok pekerja yang terorganisir. Maka dapat dipastikan bahwa orang-orang “di luar” kapasitas itu akan mendapat “tempat yang sama layaknya” di masyarakat. Atau dengan kata lain seperti jargon yang termasyur “sama rata sama rasa” (Richard Harland, p. 64).

Seperti yang telah penulis kemukakan di atas, maka Louis Arthusser pun memberikan dua bentuk penerapan dan langkah nyata dari undang-undang sebuah Ideologi. Pertama, Repressive State Aparatus, yaitu aparatur negara yang memang “mengabdi” di bawah tekanan. Kedua, Ideological State Aparatuses (ISAs), yaitu aparatur negara yang mau tidak mau, suka tidak suka, sadar tidak sadar harus “mengabdi” kepada negara atau yang disebut sebagai alat hegemoni yang akan mengukuhkan eksistensi sebuah Ideologi (Althusser in Robert Con Davis, p. 356). Keduanya menjadi kendali utama bagi jalannya perundang-undangan Ideologi pada sebuah negara.

Namun, bagi Derrida sang pengusung paham dekonstruktif ada ruang lain di samping dua ruang yang masing-masing telah terisi oleh Ideological State Aparatuses (ISAs) dan Repressive State Aparatus, yaitu ruang kosong yang mungkin saja ditempati oleh sebuah komunitas yang memang tidak berada di posisi manapun di antara keduanya.
Derrida pun memberikan penekanan khusus yang membuatnya keluar dari bayang-bayang teori strukturalisme yang menurutnya hanya terpasung di antara oposisi biner yang kaku.

Kembali kepada stigma negatif yang dikemukakan di awal tulisan ini. Ingin rasanya, penulis memberikan contoh implementasi Ideologi di dalam beberapa karya sastra dari para sastrawan yang kampiun di bidangnya. Tentunya hal ini bertujuan guna menyingkap Ideologi yang tersembunyi di baliknya dalam perspektif dekonstruktif.

Pertama, dalam salah satu karya fenomenalnya yang diberi ngaran Ketika Mas Gagah Pergi, Helvi Tiana Rosa menyuguhkan beberapa cerpen pilihan yang kiranya dapat membuat kita tersenyum, tertawa, mengharu biru dalam menyelami mutiara kata yang terangkai di setiap cerpen-cerpennya. Salah satu yang membuat penulis kagum akan Helvi Tiana Rosa ialah kefasihannya dalam merefleksikan setiap idenya melalui barisan kata-kata penuh makna. Tentunya selain Ketika Mas Gagah Pergi, ada beberapa cerpen yang merefleksikan secara eksplisit maupun implisit akan tema yang penulis angkat dalam tulisan ini. Salah satunya adalah Je Ne Te Quite Jamais, Palestine.

Je Ne Te Quite Jamais, Palestine merupakan cerpen yang mengangkat isu sentral penjajahan yang dilakukan oleh para penjajah Israel di salah satu negeri kaum Muslim, Palestina. Dalam cerpen ini dapat kita lihat adanya oposisi biner (Palestine vs Israel, Muslim vs Yahudi, Penjajah vs Terjajah, Protagonis vs Antagonis), kita hanya bisa melihat secara umum dua kubu yang berseteru. Namun, dalam konsep dekonstruktif kita melihat sudut lain dari tokoh-tokoh yang terangkai dari sudut pencitraan yang berbeda-beda pula, serta ikut menopang terjalinnya setiap kisah dalam cerita ini.

Di awal cerita, dikisahkan sang tokoh utama Zahwa, seorang putri Palestina yang telah lama menetap di kota mode dunia, Paris. Kali ini sang tokoh utama berniat mengunjungi Gaza, tanah kelahiran yang telah sekian lama ia tinggalkan sekaligus mengunjungi sang ayah tercinta Kareem Abror. Namun, tak dinyana sesampainya ia di sana, tampak sebuah pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Ia melihat lautan manusia yang berbondong-bondong mengiringi kepergian sesosok tubuh yang berselimut kafan yang dijunjung oleh sekitar delapan lelaki. Sesosok tubuh kaku itu adalah Asy Syahid Yahya Ayyash, seorang mujahid berbudi, anggota HAMAS dan musuh nomor satu Yahudi saat itu.

Di bagian lain, sebait kisah berlanjut dengan pertemuan yang telah Zahwa nanti-nantikan selama ini yaitu pertemuannya dengan sang ayah. Singkat cerita, sang ayah kini adalah seorang tim sukses Arafat yang pada saat itu merupakan kandidat Presiden Palestina yang baru.

Di lembar lain cerpen ini, sang tokoh utama kembali dipertemukan dengan sahabat lamanya, Sarah. Sarah merupakan putri Palestina yang baru-baru ini ditinggal syahid oleh sang suami yang bernama Mahmud. Sang suami ditembak mati oleh polisi Palestina karena kedapatan mencoba mengabarkan konspirasi rahasia antara Mossad dan Musa Arafat, kepala polisi Palestina untuk membunuh Ayyash.
Selain itu, yang lebih mengejutnya adalah ketiga anak Sarah yang bernama Muhammad, Haikal dan Hisyam mengalami cacat tubuh yang diakibatkan kekerasan yang dilakukan oleh para tentara Israel dan Palestina.

Dalam cerpen ini, penulis melihat telah terjadi dekonstruktif karakter yang nyata di dalamnya. Disini bukan lagi hanya menyangkut perseteruan antara Palestina vs Israel dan Muslim vs Yahudi. Tetapi, lebih luas dari itu banyak karakter yang dihadirkan guna menopang terjalinnya setiap bait dalam cerpen ini. Sang pengarang, Helvi Tiana Rosa telah membuka ruang yang selama ini tertutup oleh asumsi negatif mengenai isu ini. Ruang-ruang tersebut diisi oleh Zahwa, Kareem Abror (sang ayah), Sarah dan ketiga anaknya, Mahmod (suami Sarah), Arafat dan istrinya (madame Suha), Asy Syahid Yahya Ayyash, bahkan yang lebih besar dari itu yaitu keterlibatan pihak “asing” dalam konspirasi global ini.

Jika dirunut, eksistensi Israel di tanah Palestina selama ini tidak terlepas dari tangan dingin sang “teman karib” yaitu Amerika. Melalui cengkeraman kuku-kuku tajamnya, Amerika menguasai media dunia seperti CNN, BBC, REUTEURS dan lain-lain sebagai alat hegemoni mereka. Alat tersebut menjadi tameng permisif bagi sang “jagal” untuk membantai seluruh umat Muslim di Palestina. Membungkam mulut dunia, mencocok hidung negara-negara di dunia dan menutup mata dan telinga negara-negara dunia (Shofwan Al-Banna, 34).

Selain itu, melalui “boneka setianya” di Palestina yaitu Arafat sang penjajah menyusun skenario perdamaian antara HAMAS dan PLO yang jelas-jelas dikuasai oleh Israel. Arafat sebagai sang aktor utama digerakkan untuk menang dalam arena pemilihan umum Presiden Palestina saat itu. Tak jauh beda dengan sang suami, sang istri yaitu madame Suha “disuap” dengan kemewahan duniawi yang menyilaukan mata dari dana rakyat. Dengan bebasnya ia melanglang buana, menginap di hotel mewah dari satu hotel ke hotel yang lainnya, di Perancis, Swiss London. Bahkan dikala rakyatnya berjuang mempertahankan negaranya ia dengan leluasanya mengoperasi hidung “bangirnya” di luar negeri.

Mengingat suksesnya sang pengarang, Helvi Tiana Rosa yang secara pas membangun karakter dari sudut pandang yang berbeda memberikan gambaran pula akan adanya keterkaitan setiap karakter dengan konsep yang ditelorkan oleh Louis Althusser. Yang menjadi Repressive State Aparatus dalam cerpen ini, yaitu para tentara Israel, tentara Palestina (yang berkhianat) dan antek-anteknya. Kedua, Ideological State Aparatuses (ISAs), yaitu Arafat dan istrinya, PLO dan para anggotanya serta Kareem Abror. Terakhir, yang mengisi ruang kosong yang lainnya ialah para pejuang HAMAS dan kaum Muslim Palestina (khususnya Zahwa, Sarah beserta anak dan suaminya, Asy Syahid Yahya Ayyash serta para pejuang lain yang secara implisit digambarkan dalam cerpen ini.
Bantuan dana dan peralatan perang yang memadai yang didukung penuh oleh Amerika merupakan salah satu langkah penerapan undang-undang Ideologi yang diusung oleh Amerika dan Israel serta sebagai alat hegemoni yang akan semakin menancapkan kekuasaan dalam mempertahankan eksistensi Ideologinya. Bergabunglah dua penjajah ini dengan komunitas Ideologi yang lebih besar lagi yaitu Zionisme Internasional yang menghancurkan rakyat dunia khususnya umat Muslim dengan gerakan genocide atau pembantaian massal.

Kedua, dalam Novel tetralogi Laskar Pelangi yang sedang merajai pasar sastra masyarakat kita saat ini kita dapat menganalis hal yang sama yang telah kita lakukan pada kumpulan cerpennya Helvi Tiana Rosa. Novel yang mengadaptasi kisah nyata sang penulis, Andrea Hirata bercerita tentang persahabatan masa kecilnya yang dia beri nama Laskar Pelangi. Diawali dengan kisah sang tokoh utama para anggota Laskar Pelangi (Ikal, Syahdan, A Kiong, Mahar, Sahara, Trapani, Kucai, Lintang, Samson dan Harun) yang hendak memasuki gerbang pendidikan pertama mereka di bangku sekolah dasar. Sekolah terpencil dan “terkumuh” di Belitong yang bernama SD Muhammadyah. Sekolah yang lebih layak disebut sebagai gudang kopra yang tak terurus.

Seluruh siswa yang tergabung dalam kelas ada sepuluh orang plus di akhir cerita ditambah anggota baru yaitu Flo. Mereka berangkat dari keluarga miskin dan terisolasi di Belitong. Berbeda dengan kesepuluh rekannya, Flo merupakan anak dari seorang petinggi PN Timah, yaitu perusahaan terbesar yang mengelola pertambangan timah.

Isu sentral dalam novel ini adalah kesenjangan sosial di antara komunitas asli Belitong yang hidup kekurangan, miskin dan terisolasi dari kemewahan dunia dengan komunitas elite para staf PN Timah yang hidup berkecukupan dan bergelimangan harta. Di samping isu sentral tersebut sang penulis memberikan perspektif berbeda dalam setiap karakter yang ia hadirkan guna membangun keterikatan cerita dalam setiap lembarnya, serta isu pendidikan yang sudah tak asing lagi di negeri kita ini.

Dalam novel ini, juga kita dapat melihat bahwa ternyata telah terjadi dekonstruktif karakter yang nyata di dalamnya. Disini juga bukan hanya sekedar kesenjangan sosial yang terbangun selama berpuluh-puluh tahun dengan tembok raksasa laksana tembok besar di China yang selalu bertuliskan jargon memuakkan DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK!

Ruang-ruang tersebut diisi oleh sama halnya dengan cerpen tentang Palestina karya Helvi Tiana Rosa tadi, novel ini pun memberikan gambaran berbeda dengan menghadirkan karakter-karakter unik nan memesona. Selain para anggota Laskar Pelangi, ada sang Ibunda Guru yang bersahaja dan penuh dedikasi dalam dunia pendidikan yaitu ibu Muslimah atau ibu Mus, sang kepala sekolah yang tak kalah bersahajanya, sang manusia setengah peri alias dukun tersohor di Belitong yaitu Tuk Bayan Tula, Ibunda Ikal yang terkenal dengan teori gila no 7. Bahkan yang lebih besar dari itu, keterlibatan yang kasat mata namun pengaruhnya sangat nyata yaitu keterlibatan pihak “asing” dalam konspirasi global ini.

Kembali ke masalah konspirasi global yang telah kita bahas sebelumnya, kembali kita bisa lihat konspirasi yang dibangun oleh sebuah Ideologi yang berada di balik ini semua. Ideologi yang aturan perundang-undangannya memberikan efek yang tidak sedikit pada masyarakat di dalamnya.

Indonesia sebuah negara yang dihuni oleh para Laskar Pelangi dan para tokoh lain di dalamnya memiliki Ideologi Pancasila yang berkiblat pada asas Demokrasi. Demokrasi yang tidak lain dan tidak bukan merupakan anak kesayangan sang “ayah” yaitu Kapitalisme memberikan sebuah aturan yang harus ditaati oleh Indonesia dan rakyatnya. Guru besar sang Ideologi adalah Kapitalisme Liberal yang diusung oleh siempunya modal (kapital) tertinggi di dunia yaitu Amerika.

Dengan kemampuan finansial yang demikian besar, melalui salah satu “tangan kanannya” yaitu World Bank, Amerika “berbaik hati” men-supply kebutuhan Indonesia termasuk meminjamkan “bantuan dana” yang sebenarnya adalah hutang luar negeri yang tidak akan pernah bisa terbayar hingga tujuh turunan. Selain itu, investasi besar-besaran Amerika tanamkan di bumi pertiwi ini. Salah satunya dengan “membantu” mengelola aset negara yang merupakan salah satu yang terbesar yaitu Timah di Belitong.

Tibalah kita pada kisah Laskar Pelangi dan para penghuni gedong PN Timah di Belitong. Dengan aset yang ada dan dengan aturan perundang-undangan yang disepakati oleh sang pemilik modal dan negara yang diberi modal maka aturan pun harus dijalankan. Terjadilah ketimpangan sistem di Indonesia khususnya di Belitong, sang pemilik modal tertinggi hidup mewah bergelimangan harta di gedong PN Timah, sedangkan yang lainnya sudah dipastikan menjadi bagian yang tersingkirkan dari arena kemewahan itu.

Di sudut cerita lain, kita akan melihat adanya kapitalisme pendidikan di sana. Dunia pendidikan di Indonesia dalam hal ini di Belitong telah menjelma menjadi mesin kapitalisme (capitalist machine), yaitu mesin untuk mencari keuntungan dan mesin citra kapitalisme yaitu mesin yang menciptakan citra-citra (lembaga, individu, pengetahuan) yang sesuai dengan citra kapitalisme (Yasraf Amir Piliang, 355).

Dunia pendidikan yang seharusnya sebagai nilai pencarian pengetahuan, kini dimuati oleh nilai-nilai komersial, sebagai refleksi dari keberpihakan pada kekuasaan kapital. Ketika pendidikan menjadi bagian inheren dari sistem kapitalisme, maka berbagai paradigma, metode dan teknik-teknik yang dikembangkan di dalamnya menjadi sebuah cara untuk mengukuhkan hegemoni kapitalisme tersebut. Metode pemberian keterampilan, pembentukkan watak, penciptaan karakter, pembangunan mental, diarahkan sedemikian rupa, sehingga semuanya mendukung hegemoni kapitalisme. Selain itu, paradigma-paradigma keilmuan serta logika-logika yang dikembangkan di dalamnya mempunyai hubungan yang saling menghidupkan dengan logika-logika kapitalisme.

Kemudian, secara lebih jauh kapitalisme telah membuka peluang bagi berkembangnya berbagai logika-logika baru kehidupan sosial dan budaya, yang di dalamnya institusi pendidikan berperan besar dalam mengkonstruksi dan mensosialisasikan logika-logika tersebut. Institusi pendidikan kapitalistik mempunyai hubungan mutual dengan logika-logika kapitalisme tersebut. Artinya, institusi tersebut mengembangkan dan mensosialisasikan logika-logika tersebut di dalam berbagai bentuk materi pendidikan, akan tetapi institusi tersebut itu sendiri dibentuk berdasarkan logika kapitalisme itu sendiri (Yasraf Amir Piliang, 366)
Akhirnya, dapat penulis simpulkan bahwa bila adanya kecenderungan citra dunia pendidikan, dengan citra Kapitalisme yang tidak sesuai terus berlanjut; Jika “pandangan dunia” (world view) akan salah satu Ideologi yang diciptakan oleh kapitalisme tidak dirubah, maka distorsi di dunia akan berkembang semakin besar, yaitu menciptakan dunia yang semakin terperangkap di dalam dimensi komersial, dan semakin menjauhkannya dari dimensi-dimensi moral, sosial dan spiritual yang lebih luas dan lebih kaya.

Selain itu, dominasi sebuah sistem kekuasaan (seperti kapitalisme dan yang lainnya) terhadap sistem-sistem lain yang dikuasainya (seperti sistem pendidikan) bukanlah sebuah kondisi yang selesai (final), ia terbuka untuk didekonstruksi dan dibongkar. Seperti yang telah ditulis Yasraf Amir Piliang, bahwa keterbukaan seperti inilah maka konsep hegemoni tidak dapat dipisahkan dari konsep lainnya, seperti hegemoni tandingan (counter hegemony) atau hegemoni alternatif (alternative hegemony).

Maka, jika kita telah bosan terkungkung di dalam naungan Ideologi yang menyesakkan dada dan memberikan kesulitan bagi kita. Satu hal yang dapat kita lakukan ialah memeranginya dengan lawan yang seimbang. Dalam artian Ideologi melawan Ideologi. Dengan catatan Ideologi yang memberikan solusi tuntas dan menyeluruh bagi seluruh penganutnya serta setiap aturan perundang-undangan yang diusungnya dapat mengatur para penganutnya dari hal yang terkecil hingga yang terbesar.

Satu keniscayaan bahwa bila sebuah Ideologi semakin ditekan, maka akan semakin membuat orang penasaran dan ingin mengetahui akan Ideologi tersebut. Maka, menjadi satu keyakinan akan coreng morengnya citra Ideologi Islam di mata dunia, cepat atau lambat akan menemukan jalan terang berderang yang akan menunjukkan senyum termanisnya dan berkata pada dunia bahwa Islam bukan teroris, Islam cinta damai dan Islam adalah rahmatan lil alamin. Sehingga yang selama ini dunia hanya melihat Ideologi Islam dari dalam, sehingga tak pernah tahu keindahan Ideologi Islam. Kini, tentu kita semua dapat ceritakan bagaimana indahnya Ideologi Islam dan alasan mengapa kita semua tertarik menjadi penganutnya.


Tami Karisma
Bandung 30 Agustus 2009


DAFTAR PUSTAKA
Al-Banna, Shofwan. 2004. Palestine Emang Gue Pikirin?. Yogyakarta: Pro-U Media.
Harland, Richard. Superstrukturalisme, Pengantar Komprehensif kepada Semiotika, Strukturalisme dan Postrukturalisme. 2006. Jakarta & Bandung: Jalasutra.
Hirata, Andrea. 2007. Laskar Pelangi. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka.
Percikan Iman, Edisi 09 Tahun VI September 2005 M/Rajab 1426 H
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Jakarta & Bandung: Jalasutra.
Rosa, Helvi Tiana. 2004. Ketika Mas Gagah Pergi, Kumpulan Cerpen Terpilih. Bandung: Asy-Syamil.

Feminisme: Sayap Patah Kemuliaan Perempuan


Bablas. Kira-kira itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perkembangan arah gerakan feminisme. Awalnya, adalah Marry Wollstonecraft yang menggaungkan suara hatinya berupa gugatan terhadap beragam aturan dan tradisi yang mengekang dan membunuh potensi perempuan di Eropa. Ada sebuah tuntutan terhadap pengakuan bahwa perempuan pun punya hak yang sama dalam berbagai bidang, seperti politik, agama, pendidikan, hukum, dan ekonomi[1].

Akan tetapi, cita-cita awal Wollstonescraft tampaknya mengalami berbagai penyimpangan, hingga pendulum gerakan feminisme bergerak ke arah yang tidak bisa dimengerti: tiba-tiba saja “gender” dan “seks” tidak boleh dijadikan sebagai dua hal yang berkaitan. Oleh karena itu, terciptalah istilah ‘ruang publik’ untuk perempuan modern dan ‘ruang domestik’ untuk perempuan tradisional. Tentu saja ‘ruang publik’ yang dimaksud di sini ada dalam pengertian yang seluas-luasnya; kebebasan berkarir tanpa barrier. Selain itu, anggapan ketidakadaannya kaitan antara “gender” dan “seks” berakibat pada rusaknya makna dan fungsi ibu. Perempuan bebas untuk tidak menyusukan anaknya dan melakukan aborsi. Lebih jauh lagi, perempuan bebas menentukan orientasi seksualnya. Hal ini ditunjukkan dengan maraknya aktivitas homoseksual (lesbianism?, ed.) dan gerakan tidak menikah untuk lebih menunjukkan superioritas perempuan dibandingkan dengan laki-laki.

Tuntutan yang lebih radikal dari feminisme adalah ketika memasuki daerah agama, yaitu dengan mengkritik Bibel. Pergeseran posisi perempuan dalam masyarakat Barat akibat feminisme, memungkinkan untuk mencatat munculnya kesadaran kritis feminis. Bibel dianggap perlu dibebaskan bukan saja dari tafsiran-tafsiran yang sudah ada, melainkan juga dari bias patriarkal yang ada di dalam teks Bibel itu sendiri[2].

Gema feminisme yang lahir di Barat dan ditujukan untuk publik Barat—yang jelas tidak memiliki manhaj (pedoman)—pun dipinang oleh orang Islam. Pinangan ini berlaku sebagai seruan pembebasan perempuan dari kurungan adat, tradisi, dan agama. Islam dianggap sebagai sebuah kurungan yang mengebiri aktivitas perempuan, diskriminatif, menghalalkan kekerasan pada perempuan (violence by religion), dan di-stereotype-kan sebagai agama yang kolot. Oleh sebab itu, dibutuhkan pula kajian kritis terhadap ayat-ayat Alquran maupun hadits yang cenderung misoginis atau bias gender. Tokoh-tokoh feminisme di dunia Islam yang mengusung hal ini di antaranya adalah Fatima Mernissi (Maroko), Rifaat Hasan (Pakistan), Huda Sya’rawie (Mesir), Fadia Faqir (Yordania), dan Amina Wadud (Saudi).

Peristiwa Historic Jum’a—Salat Jumat yang diimami oleh Amina Wadud-- dianggap sebagai sebuah pencerahan dari “tren” konservatisme Islam yang selama ini mengurung perempuan. Setelah peristiwa itu, muncul pula buku An Islamic Bill of Rights for Women the Bedroom yang mengadvokasikan extramarital sexual intercourse, adultery, fornication (sex without marriage), pleasurable sexual experience, zina and abortion for all Muslim and all non-Muslim women of the whole world. Buku tersebut ditulis oleh Asra Q. Nomani, perempuan India-Amerika[3]. Kedua tragedi ini merupakan contoh upaya penafsiran ulang terhadap aturan Islam secara membabi buta.

Masyarakat Islam, untuk jangka waktu yang lama tidak mengenal tuntutan persamaan hak laki-laki dan perempuan sebab sejak awal Islam menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara. Innamâ nisâ syâqôiqul ar- rijal (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Nasa’i). Allah menyatakan kesetaraan perempuan dan laki-laki melalui firman-Nya (QS. al-Hujurat: 13; al-Ahzab: 35; at-Taubah: 71).

Munculnya istilah feminisme dalam dunia Islam disebabkan ketidakpahaman akan konsep kedudukan perempuan dalam Islam. Islam tidak memarginalkan perempuan di sisi manapun, dengan demikian, Islam tidak membutuhkan feminisme. Bias pemahaman antara Islamic values dan cultural values di negeri-negeri muslim pun harus dimengerti. Islam tidak mengenal ungkapan suarga nunut, neroko katut, begitu pun dengan kewajiban perempuan yang berotasi antara sumur, dapur, dan kasur. Seringkali ayat “Wa qarna fî buyûti kunna [...]” yang berarti “Dan tetaplah kamu berada di rumahmu [...]” (QS. al-Ahzab: 33) dijadikan alat untuk menolak adab-adab Islam.

DR. Yusuf Qardhawi memberi penjelasan tentang ayat tersebut bahwa sebenarnya ditujukan kepada para istri Rasul Saw., sebagaimana bunyi ayat sebelumnya. Akan tetapi, dalam penjelasan terhadap ayat tersebut, dinyatakan bahwa jika ada keperluan yang sejalan dengan syariat dan mengharuskan perempuan untuk keluar rumah, maka hal itu diperbolehkan. Hal ini diperkuat dengan beberapa alasan, pertama, sejarah mencatat bahwa Aisyah ra. keluar rumah dan menyaksikan Perang Jamal. Sikap tersebut dianggap beliau sebagai suatu kewajiban dalam menuntut hukuman terhadap pembunuh Utsman bin Affan ra. Kedua, dilihat dari jendela realitas, banyak perempuan yang keluar rumah untuk belajar dan melakukan aktivitas bermanfaat lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya, kita sepakat akan adanya tuntutan aktivitas perempuan di luar rumah, sesuai dengan adabnya[4].

Ketiga, kondisi zaman menghendaki perempuan Islam untuk terjun dan berkompetisi di berbagai bidang dengan propagandis perempuan sekular. Menurut Yusuf Qardhawi, poin ketiga ini adakalanya melebihi tuntutan dan kebutuhan pribadi perempuan Islam. Keempat, tradisi memingit dan mengurung seseorang dalam rumah tidak pernah terjadi dalam sejarah Islam, kecuali beberapa saat dalam proses penyempur-naan syariat tentang hukum bagi para pezina (Qs. an-Nisa: 15)[5].

Ide feminisme sejatinya tidak membawa perubahan yang lebih baik terhadap perempuan, yang sebelumnya telah diberikan oleh Islam sebab ia menghancurkan kemuliaan posisi perempuan sebagai ibu. Al-jannatu tahta aqdamil ummahât, surga berada di bawah telapak kaki ibu. Rahasia perempuan adalah sebagai ibu, ia melahirkan pahlawan-pahlawan masa depan. Kartini, dalam idenya mengenai pendidikan untuk perempuan menyatakan bahwa sekolah tidak cukup untuk membentuk pikiran dan perasaan manusia, rumah pun turut mendidik. Tempat yang lebih menyenangkan, lebih hangat, dan lebih aman bagi anak tidak ada kecuali di dada ibu. Di situlah justru sumber kehidupan harus benar-benar dijaga, agar dengan menegak air susu kehidupan, anak tidak pula minum air kebusukan budi pekerti[6].

Feminisme hanya akan menjadi sayap patah. Awalnya bertujuan untuk mengangkat perempuan ke ‘langit’, namun alih-alih pemikiran dan konsepsinya banyak menjebak perempuan pada ketiadaan dan ketidakbermaknaan. Dalam Islam, perempuan diberikan banyak kemuliaan yang bahkan tidak laki-laki dapatkan. Datangnya feminis sesungguhnya hanya akan menjadi sayap patah dan tidak akan sanggup mengantarkan perempuan menuju kemuliaan. Sayap patah yang hanya menjerumuskan perempuan pada ketidakjelasan akan hakikat menjadi perempuan. Islam datang untuk memberikan solusi bagi peradaban-peradaban sebelumnya yang menghinakan perempuan, yang menganggap perempuan adalah manusia yang setengah jadi, sebagai liyan (the other), karena ia bukan laki-laki. Gerakan feminis yang datang seolah-olah sebagai sebuah gerakan solusi, sekali lagi, hanya menjadi sayap patah, sebab Islam, sejatinya telah memberikan sayap yang sempurna untuk setiap perempuan di muka bumi.

Sir Muhammad Iqbal, muslim pemikir dan penyair dari Pakistan, mengungkapkan pemikirannya, Islam adalah dîn yang ideal tidak hanya bagi perempuan yang bekerja di luar, tetapi juga untuk melindungi keperempuanan, dan mengangkatnya ke dalam perhatian yang tinggi [7].

#24 Feb 2008

1. Rosmarie Putnam Tong. Feminist Thought (Yogyakarta, 2001), hlm. 18.
2. Letty M. Russel (ed.). Perempuan dan Tafsir Kitab Suci (Jakarta, 1998), hlm. 11
3. Lies Marcoes dan Natsir, “Gerakan Perempuan Islam : Antara Konservatifisme dan Upaya Menuju Aksi Praksis Kesetaraan dalam Islam”, makalah diskusi, hlm. 1—2.
4. “Antara Dua Titik Ekstrim”, Ishlah (Agustus, 1995), hlm. 9.
5. Ibid.
6. Sulastin Sutrisno (penerjemah). Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsa (Jakarta: 1985), hlm. 388.
7. Annemarie Schimmel. Sayap Jibril: Gagasan Religius Muhammad Iqbal (Jogjakarta, 2003),
hlm. 311.

[1] Rosmarie Putnam Tong. Feminist Thought (Yogyakarta, 2001), hlm. 18.
[2] Letty M. Russel (ed.). Perempuan dan Tafsir Kitab Suci (Jakarta, 1998), hlm. 11
[3] Lies Marcoes dan Natsir, “Gerakan Perempuan Islam : Antara Konservatifisme dan Upaya Menuju Aksi Praksis Kesetaraan dalam Islam”, makalah diskusi, hlm. 1—2.
[4] “Antara Dua Titik Ekstrim”, Ishlah (Agustus, 1995), hlm. 9.
[5] Ibid.
[6] Sulastin Sutrisno (penerjemah). Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsa (Jakarta: 1985), hlm. 388.
[7] Annemarie Schimmel. Sayap Jibril: Gagasan Religius Muhammad Iqbal (Jogjakarta, 2003),
hlm. 311.

Nasihat Untuk Generasi Pelanjut

Yang saya takutkan bukanlah belum tegaknya aturan dan hukum Allah berdasarkan Al Qur'an dan As-Sunnah, namun yang saya takutkan justru pada orang-orang yang mengusung atas nama tegaknya aturan tersebut sebagai bentuk kebencian terhadap manusia lain atau golongan lain, sebagaimana bani abbasiyah merebut kekuasaan dari bani ummayah dengan janji akan menegakkan dan menerapkan hukum dan aturan islam dalam Al Qur'an dan As-Sunnah.

Namun janji itu hanyalah bentuk penipuan pada umat atas nama golongan dan suku untuk keturunannya, kekuasaan bani abbasiyah begitu tiran dan kejam menebaskan pedang membunuh semua keturnan bani ummayah dengan alasan membalaskan dendam atas kekejaman bani ummayah ketika berkuasa.

Kekuasaan bani abbasiyah yang mengatas namakan penegakan aturan islam menjadi sejarah kelam dan barbarian. Genangan darah dan mayat-mayat serta kekejaman bani abbasiyah hendaknya jadi peringatan para penegak risalah saat ini, bahwa kebencian terhadap kekafiran dan kekejaman bukan berarti membuat kekejaman dan tirani yang baru atas nama penegakan islam.


MASA KEKUASAAN BANI ABBAS
Pemerintahan Bani Umayyah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa yang besar sekali, meliputi wilayah yang amat luas, mulai dari negeri Sind dan berakhir di negeri Spanyol. Ia demikian kuatnya, sehingga apabila seseorang menyaksikannya, pasti akan berpendapat bahwa usaha mengguncangkannya adalah sesuatu yang tidak mudah bagi siapapun. Namun jalan yang ditemph oleh pemerintahan Bani Umayyah, meskipn ia dipatuhi oleh sejumlah besar manusia yang takluk kepada kekuasaannya, tidak sedikitpun memperoleh penghargaan dan simpati dalam hati mereka. Itulah sebabnya, belum sampai berlalu satu abad dari kekuasaan mereka, kaum Bani Abbas berhasil menggulingkan singgasananya dan mencampakkannya dengan mudah sekali. Dan ketika singgasana itu terjatuh, demikian pula para rajanya, tidak seorang pun yang meneteskan air mata menangisi mereka.

JANJI-JANJI KAUM ABBASIYIN
Adapun penyebab keberhasilan kaum penganjur berdirinya Khilafah Bani Abbas ialah karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada umumnya, bahwa Bani Abbas adalah keluarga yang dekat kepada Nabi saw, dan bahwasanya mereka akan mengamalkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul dan menegakkan syari'at Allah. Oleh karena itu, ketika As-Saffah dibai'at sebagai khalifah dikota Kuffah, pada bulan Rabi'uts-Tsani tahun 132 H. dalam pidato pertamanya setelah menyebutkan tentang kezaliman-kezaliman yang dilakukan oleh Bani Umayyah, ia berkata : "Dan sesungguhnya aku berharap kalian tidak akan lagi didatangi oleh kezaliman, pada saat kebaikan telah datang kepadamu, tidak pula kehancuran pada saat perbaikan telah datang mengunjungimu." setelah itu berdirilah paman as-Saffah, Daud bin Ali, dan ia menegaskan dihadapan orang banyak : "Demi Allah, gerakan yang telah kami lakukan ini sama sekali tidak bertujuan untuk menumpuk harta benda, menggali sungai, membangun istana atau mengumpulkan emas atau perak, tapi sesungguhnya kami telah bertindak demi memprotes perampasan hak kami, dan demi membela putera-putera paman kami (yakni keluarga Abu Thalib), dan karena buruknya perlakuan Bani Umayyah terhadap kalian, penghinaan mereka terhadap kalian dan monopoli mereka dengan tunjangan dan harta yang menjadi hak kalian. Maka dengan ini kami berjanji kepada kalian, demi kesetiaan kami kepada Allah dan Rasul-Nya dan demi kehormatan Abbas, untuk memerintah di kalangan kalian sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah, melaksanakan Kitab Allah dan berjalan - baik di kalangan umum ataupun khusus dengan teladan Rasulullah sawa.". Sungguhpun demikian, permerintahan mereka itu belum berjalan cukup lama, ketika tindakan dan perilaku mereka menunjukkan bahwa segala yang mereka sebutkan itu ternyata PENIPUAN dan MUSLIHAT belaka.

TINDAKAN-TINDAKAN MEREKA (BANI ABBAS)
Pasukan tentara Bani Abbas menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah, dan merekapun "memainkan" pedangnya di kalangan penduduk, sehingga membunuh kurang lebih lima puluh ribu orang. Masjid Jami' milik Bani Umayyah, mereka jadikan kandang kuda-kuda mereka selama tujuh puluh hari, dan mereka menggali kuburan Mu'awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya. Mereka juga membunuh setiap anak dari kalangan Bani Umayyah, kemudian melemparkan permadani di atas jasad-jasad mereka yang sebagian masih menggeliat dan gemetaran, lalu mereka duduk di atasnya sambil makan. mereka juga membunuh semua anggota keluarga Bani Umayyah yang ada di kota Basrah dan menggantungkan jasad-jasad mereka dengan lidah-lidah mereka, kemudian membuang mereka dijalan-jalan kota itu untuk makanan anjing-anjing.

Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Bani Umayyah di Makkah dan Madinah. (Ibnu Atsir, jilid 4, hal 333-334; al-Bidayah, jilid 10, hal 345; Ibnu Khaldun, jilid 3, hal 132-133)

Kemudian timbul pemberontakan di kota Musil melawan as-Saffah yang segera mengutus saudaranya, Yahya, untuk menumpas dan memadamkannya. Yahya kemudian mengumumkan di kalangan rakyat: "Barangsiapa memasuki masjid Jami', maka ia dijamin keamanannya." Beribu-ribu orang secara berduyun-duyun memasuki masjid, kemudian Yahya menugaskan pengawal-pengawalnya menutup pintu-pintu masjid dan menghabisi nyawa orang-orang yang berlindung dan mencari keselamatan itu. sebanyak sebelas ribu orang meninggal pada peristiwa itu. Dan di malam harinya, Yahya mendengar tangis dan ratapan kaum wanita yang suami-suaminya terbunuh di hari itu, lalu ia pun memerintahkan pembunuhan atas kaum wanita dan anak-anak, sehingga selama tiga hari kota Musil digenangi oleh darah-darah penduduknya, dan berlangsunglah selama itu pembunuhan, penangkapan dan penyembelihan yang tidak sedikit pun memiliki belas kasihan terhadap anak kecil, orang tua atau membiarkan seorang laki-laki atau melalaikan seorang wanita.

Tahukan anda wahai sadara-saudaraku, ketika saya membayangkan dalam posisi keturunan Bani Umayyah dan pendukungnya, kemudian sesaat itu saya tertidur dan saya bermimpi serasa dinegeri zombie, kemanapun saya lari dan bersembunyi saya terus dikejar dan diburu untuk dibunuh dan dipenggal mereka, yang anehnya para zombie ini begitu beringas dan menyeramkan dengan berbagai senjata tajam yang mereka bawa, dan saat itu tidak ada pilihan bagi saya selain melawan atau menyerah pada ancaman kematian yang mengenaskan didepan mata, sungguh mimpi buruk yang mengerikan. NAUDZUBILLAH HIMINDZALIK .

Sumber: *Facebook Wira Kalipaksi

Indonesia di Titik Nol



Terlampau sempit medium ini jika hendak mendeskripsikan begitu banyak versi tentang Indonesia, terlebih jika kemudian harus diteruskan dengan mencari akar gagasan dan legitimasi praksis-rasionalistiknya. Tapi satu hal yang sulit dibantah adalah Indonesia merdeka lebih mengikuti versi Soekarno dari pada versi Hatta, yaitu menggalang kekuasaan (machtvorming) dan menggunakan kekuasaan (machtsaanwending), dari pada perbaikan mutu SDM dengan usaha sendiri. Agitasi, bukan quality.

Indonesia, pada dua dekade awalnya adalah Indonesia dengan versi Soekarno, yang didalamnya tersisip kegelisahan Hatta tentang Indonesia masa depan dan bagaimana meraihnya. Dalam Indonesia versi Soekarno itu, penggalangan kekuasaan dan penggunaan kekuasaan terintrodusir dalam terma "revolusi terus menerus". Demi aksi massa, rakyat terezimentasi. Semua orang memusatkan pikiran dan tenaga untuk mengisi ruang-ruang revolusi yang menggelora itu. Modal mereka hanya lidah dan mulut, alias menjilat dan memuji. Mayoritas orang lupa akan keterampilan teknis dan bagaimana bekerja membangun Indonesia lewat cara lain. Akhirnya, dalam gelegak "adrenalin" revolusi itu, rezim Soekarno berakhir tragis. Jangankan meningkatkan mutu kehidupan rakyat, revolusi harus terhenti dalam kemerosotan politik dan kesulitan ekonomi. Dan dalam cerpennya, Jalan Lain Menuju Roma, Idrus melukiskan sekan-akan setelah 20 tahun, bangsa Indonesia kembali ke titik nol.

Open, tokoh dalam cerpen itu, menyaksikan orang-orang yang telanjang bulat berebut bangkai anjing di sungai Ciliwung. Open mencatat, "Bangkai merebut bangkai". Bangkai anjing itu dimakan oleh seseorang yang behasil merebutnya, lalu Open mencatat, "Bangkai makan bangkai". Gelandangan lain dengan iri hati melihat temannya makan sendirian. Solidaritas kemanusiaan sudah hilang, seperti hilangnya perasaan malu. Lalu Open menulis, "Anjing makan bangkai". Pemakan bangkai itu tersandar pada batang pohon, lalu mati karena sakit perut. Open menulis, "Bangkai jadi bangkai".

Jika rombak-merombak lembaga dan melakukan mobilisasi-sentimentil gagal strategis itu, tentu tidak mengherankan jika Soeharto tidak lagi mengulanginya. Tapi ada pola yang tetap bertahan, Soeharto lebih suka menggalang dan menggunakan kekuasaan, meski dengan semangat dan cara yang justru anti revolusi. Dan loyalitas pada kekuasaan masih menjadi mainstream yang tak tergantikan. Indonesia versi Bung Hatta - atau yang senada dengan itu - tetap merana. Selama lebih dari tiga dekade, gelombang revolusi diganti dengan gelombang pembangunan, yang sebenarnya lebih merupakan gelombang eksploitasi sumber-sumber daya bangsa Indonesia. Dan setiap orang kembali berebut peran untuk turut dan berkuasa dalam gelombang itu. Peningkatan sumber daya manusia dilakukan, tapi justru dengan mengabaikan pengembangan kemanusiaan itu sendiri. Manusia-manusia pembangunan menjadi komoditas yang hanya memiliki satu pilihan, yaitu menjadi bagian dari mesin pembangunan yang mekanistik, serta kehilangan sensitifitas sosial dan kesempatan.

Ironisnya, gelombang pembangunan itu berakhir dengan kehancuran, dan meninggalkan bangsa Indonesia tanpa daya. Kepercayaan rakyat semakin hilang, mula-mula pada kekuasaan, lalu pada ketekunan, hingga akhirnya pada kejujuran. Andaikan Idrus menulis lagi, maka setelah "bangkai jadi bangkai", dia akan menambahkan "bangkai jadi sampah". Ambivalensi itu terus terjadi. Seakan-akan meningkatkan mutu sumber daya manusia tapi mengabaikan kemunusiaan. Mengaku (dalam retorika) pemerintahan yang bersih, tapi korupsi justeru terjadi. Alih-alih “pemerintahan yang bersih”, Pejabat Teras Negara dan Penegak Hukum pun ikut terlibat “skandal”, apakah masih bisa mengaku bersih?!

Dalam ambivalensi itu, setiap kita akan sulit membedakan antara penyakit dan penderitanya. Antara korban dan bencana. Racun dan darah telah menyatu dan senyawa itu telah menjadi racun yang baru. Jangan-jangan itulah yang terjadi kengan kolusi, korupsi serta nepotisme yang telah lama melanda negeri ini. Erich Fromm menyebut kondisi yang seperti ini sebagai the pathology of normalcy, penyakit yang tidak lagi disadari sebagai penyakit karena sudah menjadi bagian yang wajar. Sehingga berapa pun banyak korupsi dilakukan, tidak akan pernah seorang pun dinyatakan sebagai koruptor sebab lembaga pengadilan tidak pernah lagi bisa menjatuhkan vonisnya. Indonesia setelah itu jauh lebih buruk dari Turki di awal abad ke 20, yang disebut sebagai the sick man of Europe. Indonesia tidak hanya sekedar the sick man of Asia, tapi bisa jadi adalah penyakit itu sendiri, wabah, bangkai dan sampah itu sendiri.

Apakah yang Masih Tersisa ?

Jangan-jangan Indonesia merdeka tanpa disertai kesadaran yang mendalam akan quality, apalagi mempersiapkan re-engineering dan velocity. Baiklah, karena kita harus membuat keputusan dan melakukan tindakan secepat pikiran bergerak, maka segera kumpulkanlah apa yang masih tersisa, dan lakukan sesuatu yang bisa dilakukan. Tapi jangan lupa, kesemua itu harus sesuai dengan kemampuan dan bakat (vermogen en aanleg), serta dengan tenaga dan kekuatan sendiri (eigen kracth en eigen kunnen), tanpa bergantung pada bantuan asing, begitu Bung Hatta mengingatkan.

Faktor kemandirian menjadi penting, karena setiap kelemahan akan selalu mengundang intervensi. Dan intervensi adalah awal bagi penindas baru, walaupun dalam setiap penampilannya ia “seolah-olah” menjadi pembebas. Betapa tidak, Indonesia saat ini berhadapan dengan persolan internal yang kompleks; antagonisme terus berlangsung tapi tanpa indikasi kohesifitas. Di saat yang sama ia harus menghadapi tekanan eksternal atas nama kepentingan asing yang seolah-olah merupakan kepentingan Indonesia; tanpa imunitas dan posisi tawar yang baik. Yaa, kita telah terjebak dalam ambivalensi.

Lalu bagaimana nasib pemerintahan yang seolah-olah berkedaulatan rakyat itu; masihkah ia daulat rakyat, ketika rakyat tidak bisa berdiri sejajar dengan sesama rakyat hanya karena beberapa diantaranya berstatus pejabat? Ketika penangkapan kembali dilakukan tanpa bukti yang jelas? Ketika intimidasi tidak bisa dibedakan dengan penanganan sesuai prosedur? Ketika koruptor menghardik balik lembaga peradilan, dan lembaga peradilan tak berdaya karena "kekenyangan" upeti? Ketika keserakahan pengusaha mengorbankan rakyat pribumi dan pemerintah lebih berpihak pada pengusaha yang mengesploitasi bumi demi ambisi pribadi? Ketika negeri "yang konon katanya merdeka" berada dalam pendiktean bangsa asing? Masihkan para pejabat pemerintahan tidak bisa membedakan antara mengantisipasi teror dan mendukung teror dengan menerima dana hutang yang seolah-olah digunakan untuk menghabisi teroris? Dan hal lain yang paling dilematis akibat “keseolah-olahan” itu adalah masalah hutang luar negeri kita. Pemerintah kita lebih suka “mengemis” dari pada melakukan optimasi asset-aset internal yang terus dibiarkan terlantar. Hutang terus menumpuk hingga lebih dari 1000 triliun. Untuk “mengemplang” hutang, juga sangat sulit, sebab dalam pandangan lembaga keuangan dunia Indonesia bukanlah negara paling miskin. Mungkin benar, kita bukan negara termiskin, tapi negara “setengah miskin” yang seolah “kaya-raya”. Karena dalam negara “miskin” itu hidup segelintir orang “kaya-raya” dengan jumlah kekayaan di atas satu triliun [siapa ya yang memiliki harta diatas satu triliun di negeri ini?!-pen].

Tapi baiklah, karena kita harus mengambil keputusan dan melakukan tindakan secepat pikiran bergerak, maka palingkan wajah ke cermin sendiri. Kita tidak ingin kehilangan banyak waktu untuk mencari legitimasi bagi ambivalensi itu. Tapi bagaimana mungkin ada perbaikan, jika tidak ada perubahan politik yang sepadan. Dengan perubahan politik yang signifikan (bukan individu tapi sistemnya, walau sering juga keduanya), rekonsiliasi - misalnya -- akan lebih mudah dilakukan karena pihak-pihak yang berkaitan lebih jelas terlihat. Antagonisme lebih mudah dijelaskan, sehingga kohesifitas akan berlangsung dengan sendirinya. Hal lain yang mutlak diingat adalah, kita harus melakukan pelembagaan atau reisntitusionalisasi. Sebab kita tidak bisa berharap dari proses yang sporadis, kita harus membangun proses yang terlembagakan, karena dari sanalah kita bisa mengambil pola. Dan dengan bergegas (bukan tergesa) kita kembali merumuskan citra populer Indonesia masa hadapan, dari titik nol.

Citra populer itu adalah sintesa berbagai versi tentang Indonesia yang diidamkan oleh setiap orang yang merasa anak bangsa dalam konteks generiknya. Tanpa dipaksa, dan diagitasi. Setiap orang harus diberikan ruang yang luas untuk mengutarakan pikirannya tentang citra populer Indonesia, karena kemerdekaannya. Ia haruslah terdiri dari sintesa - diantaranya versi Bung Karno yang diekstraksi (bukan wujud emosinya) dengan versi Hatta, juga versi-versi yang lain yang berisikan cita kolektif anak bangsa tentang bagaimana Indonesia di masa hadapan. Citra populer itu haruslah berisikan paduan semangat besar dan ketelitian detail, antara gagasan yang mengilhami dan hasil yang mengawasi, antara solidaritas bangsa dan kemerdekaan pribadi, antara kekuasaan dan tanggungjawab, antara kebanggaan ruhani dan kearifan tradisi, serta antara keluhuran cita dan kepuasan prestatif; sesuatu yang selama ini sulit untuk kita sandingkan. Hingga kita bisa merasakan nikmatnya hidup merdeka, bebas bersuara, dan boleh berbeda, tanpa harus takut pada siapa pun, meski itu negara. Karena menurut Willy S. Rendra dalam syairnya; "Kebangsaan Indonesia adalah ciptaan rakyat Indonesia, bukan ciptaan Pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia tinggal mewarisi saja dari rakyat." Diakhir syairnya ia menulis; " ..... Itu dari rakyat, pemerintah jangan gede rasa dan mengira tanpa pemerintah tidak ada persatuan dan kesatuan. Justru pemerintah yang mengacaukan rasa berbangsa".

#natayuda, in the past