Episentrum Pengkajian Islam dan Riset Sosial mengorientasikan diri untuk menjadi katalisator terwujudnya Mulkiyah Allah di muka bumi, dan bersama-sama menggalang kekuatan kolektif dari potensi-potensi yang telah sejak lama berada dipangkuan Ummat Islam... Billahi Hayaatuna Wallahu Fii Hayati 'I-Mustadz'afin... Hidup Kita Bersama Allah, dan Allah Berada Dalam Kehidupan Kaum Tertindas... Inna fatahna laka fathan mubina… Yuqtalu au yaghlib !

Kuasa Wacana, Pengetahuan dan Kekuasaan

Dalam salah satu bukunya yang berjudul ADL (Anti-Defamation League), Censors of the Universe, Inayet Nahvi memusatkan perhatiannya yang besar terhadap kuasa wacana yang mempengaruhi keberlangsungan pola pikir masyarakat dunia. ADL sebagai topik utama dalam bukunya merupakan kumpulan aktivis pro-zionis di Amerika yang memusatkan kegiatannya pada propaganda melalui pers untuk mendukung Zionisme dan menangkis semua berita yang merugikan Israel dan Zionisme.

Kerja-kerja pencitraan yang dilakukan ADL dengan jaringan persnya di seluruh dunia membuahkan sukses legitimasi opini atas segala yang dilakukan Israel dalam memerangi “terorisme” pejuang Palestina. Demikian pula apa-apa yang dilakukan Presiden George W. Bush sejak September Attack, semua menjadi tampak sah dengan kerja-kerja ADL. (Fillah, p. 35-37)

Dalam sejarah, kuasa wacana selalu memegang peranan penting yang menentukan arah perjalanan suatu masyarakat. Bahkan jauh sebelum adanya pers, tercatat Fir’aun sang penguasa tiran telah terlebih dahulu berhasil membangun kuasa wacana yang berpihak sepenuhnya pada dirinya. Kemudian, kelihaiannya dalam bermain bahasa menjadi panutan para penguasa tiran sekarang ini.
Berangkat dari pemahaman bahwa di dalam berbagai wacana, ada relasi kekuasaan tertentu yang menentukan formasi wacana itu sendiri, serta bentuk-bentuk subjektivitas yang ada di dalamnya. Sehingga, diperlukan adanya sebuah cara untuk mendeteksinya.

Dalam buah pikir termasyurnya, Foucault membentangkan sebuah cara pandang baru yang digunakan untuk menjelaskan relasi yang tak tampak di balik berbagai wacana yaitu relasi kekuasaan. Cara pandang tersebut adalah genealogi.

Dengan cara pandang demikian, sebuah relasi yang menentukan arah, bentuk, dan intensitas kekompleksitasannya, yaitu relasi kekuasaan (power relation) akan dengan mudah terdeteksi dengan baik.

Foucault pun melihat adanya penggunaan ruang dalam kajian diskursif yang lebih luas. Penggunaan ruang sangat ditentukan oleh model diskursif yang melandasinya. Ia tidak melihat keberpisahan antara penggunaan ruang dan dan bentuk-bentuk kekuasaan yang beroperasi di dalam setiap wacana. Ruang merupakan sebuah wadah bagi beroperasinya kekuasaan, yang selalu menentukan gerak langkah sebatang tubuh manusia dalam proses sosial di dalamnya.

Ide utama dalam ide Foucault adalah perdebatan panjang yang terpusat di seputar relasi antara diskursus dan kekuasaan, serta peran bahasa di dalamnya. Foucault melihat, bahwa pada setiap diskursus terdapat relasi yang tidak dapat dipisahkan antara ungkapan diskursus, pengetahuan yang melandasinya, serta relasi kekuasaan yang beroperasi di baliknya. Dengan demikian, setiap diskursus tidak dapat dipisahkan dari relasi kekuasaan yang tersembunyi di baliknya, yang merupakan produk dari praktik kekuasaan.

Kekuasaan yang dimaksud oleh Foucault adalah kekuasaan yang plural, yaitu kekuasaan yang tidak berpusat/sentralistik, yang tumbuh dari berbagai ruang periferal, yang ada dimana-mana.
Contoh aplikatifnya adalah konsep kekerasan simbol di dalam institusi pendidikan menciptakan mekanisme sosial, yang di dalamnya relasi pengetahuan (knowledge relation) saling bertautan dengan relasi kekuasaan (power relation). Sebuah kekuasaan seperti kapitalisme, berupaya melaggengkan posisi dominannya dengan cara mendominasi institusi pendidikan, bahasa yang digunakan, tanda-tanda yang dipertukarkan, citra-citra yang diproduksi, pengetahuan yang dihasilkan, serta interpretasi terhadap tanda, citra, pengetahuan yang sesungguhnya sangat kaya tersebut, ke dalam sebuah dimensi tunggal, yaitu dimensi komersial.

Dalam relasi mikro antara dosen sebagai pengajar dan mahasiswa sebagai yang diajar di dalam institusi pendidikan, kekerasan simbol terjadi ketika orang yang didominasi (mahasiswa) menerima konsep, ide, gagasan, citra, kepercayaan, prinsip, atau pengetahuan dalam bentuknya yang mendominasi. Di dalam proses dominasi tersebut sebetulnya telah terjadi sebuah bentuk pemaksaan ideologis yang sangat halus, akan tetapi orang yang didominasi (mahasiswa) tidak sadar telah dicetak lewat institusi pendidikan untuk menjadi seseorang yang sesuai dengan ideologi yang melandasi institusi pendidikan tersebut.

Terkait dengan cara pandang geneologi yang telah kita bahas di awal tulisan ini, kita dapat dengan bebas membongkar struktur kemungkinan pemahaman. Selain tu, kita dapat menelanjangi diri sendiri atau kritik ontologis diri sendiri (critical ontologi of ourselves), dalam rangka membongkar berbagai bentuk relasi kekuasaan di baliknya. Hal yang dtelanjangi antara lain sumber awal (origin), fungsi permulaan, konteks lingkungan, landasan kehendak, dan relasi kekuasaan di balik sebuah pengetahuan, yang selama ini ditutupi, disembunyikan, atau dibungkam. Pada akhirnya, hal tersebut kemudian dapat menampakkan segala sesuatu yang sebelumnya disembunyikan untuk kemudian diperbaiki ke arah yang lebih baik.

Akhirnya, kita kembali diingatkan dengan buku Seno Gumira Ajidharma yang berjudul Ketika Pers Dibungkam, Sastra Harus Bicara. Dengan sastra kita bisa memerangi kuasa wacana sang tiran pada sisi tumpu yang lain. Paling tidak, kita telah berani mengatakan kebenaran pada semesta lewat sastra.



Tami Karisma
Bandung, 30 Agustus 2009


DAFTAR PUSTAKA:
Con Davis, Robert. 1986. Contemporary Literary Criticism, Literary and Cultural Studies. New York & London: Longman.
Fillah, Salim. 2006. Saksikan bahwa Aku Seorang Muslim. Yogyakarta: Pro-U Media.
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Jakarta & Bandung: Jalasutra.

Menyingkap Ideologi di Balik Argumen Dalam Perspektif Dekonstruktif

Selama ini aku selalu melihat dari dalam
Sehingga tak pernah tahu keindahan rumah ini
Dan kini engkau pun datang, menjadi saudaraku
Tentu bisa kau ceritakan, bagaimana indahnya rumah ini
Dan mengapa pula engkau tertarik menjadi penghuninya
(Kata Sketsa, Percikan Iman)

Islam adalah teroris. Islam cinta kekerasan. Bahkan, Islam dihadirkan dan dianggap paling efektif dijadikan legitimasi untuk menindas kaum perempuan. Itulah beberapa dari sekian banyak stigma negatif yang tengah berseliweran di benak masyarakat kita, bahkan tak sedikit dari mereka menganggap hal tersebut merupakan sebuah kebenaran yang harus diamini tanpa perlu kroscek. Namun banyak orang di luar Islam sendiri yakin untuk menolak konsepsi tersebut dengan adanya asumsi bahwa hal itu tidak benar.
Dalam panggung sejarah, banyak sekali peristiwa yang dapat menjadi argumen yang kuat bagi orang-orang yang sepakat dengan konsep di atas. Mulai dari bom jihad di Palestina yang dipropagandakan para musuh Islam sebagai bom bunuh diri, pemboman di beberapa tempat di tanah air dan mancanegara yang selalu dikaitkan sebagai gerakan terorisme, poligami yang dilakukan oleh beberapa “ustadz selebritis” yang tampangnya selalu berseliweran di layar kaca infotainment, sebagai sebuah tindakan yang merendahkan hak-hak kaum perempuan. Hingga yang terpanas akhir-akhir ini debut sukses film Ayat-ayat Cinta disebut-sebut sebagai bukti nyata dari ketidakadilan Islam dalam mengatur kehidupan laki-laki dan perempuan di muka bumi ini sekaligus sebagai legitimasi religius dalam menindas kaum perempuan. Tapi, satu hal yang penulis pertanyakan, kok laku ya film-nya?

Menyoal tentang stereotif yang menggambarkan paradigma Islam di mata dunia, dengan menyimak pernyataan para ahli mengenai hal tersebut juga aplikasi nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Membicarakan masalah Islam sebagai wacana pembuka dalam tulisan ini, kita tidak akan pernah lepas dari kedudukan Islam sebagai Ideologi.

Sebagai pembuka Louis Althusser memberikan pengantar yang cukup menarik untuk disimak. Althusser beropini bahwa Ideologi merupakan sebuah material practice atau bisa kita katakan sebagai sebuah undang-undang atau seperangkat aturan yang menjadi pedoman dalam gerak langkah seseorang berdasarkan dengan apa yang ia yakini (Althusser in Robert Con Davis, p. 356).
Contoh praktisnya, Ideologi sosialisme dengan teoretikusnya yang termasyur, Karl Marx. Dalam Ideologi ini para “penganutnya” harus mematuhi segala aturan atau undang-undang yang berlaku dalam Ideologi tersebut sehingga kemaslahatan umum dan perbaikan kondisi pekerja terjaga. Sosialisme muncul akibat kezhaliman kapitalisme terhadap masyarakat. Hak terbesar diberikan kepada negara atau sekelompok pekerja yang terorganisir. Maka dapat dipastikan bahwa orang-orang “di luar” kapasitas itu akan mendapat “tempat yang sama layaknya” di masyarakat. Atau dengan kata lain seperti jargon yang termasyur “sama rata sama rasa” (Richard Harland, p. 64).

Seperti yang telah penulis kemukakan di atas, maka Louis Arthusser pun memberikan dua bentuk penerapan dan langkah nyata dari undang-undang sebuah Ideologi. Pertama, Repressive State Aparatus, yaitu aparatur negara yang memang “mengabdi” di bawah tekanan. Kedua, Ideological State Aparatuses (ISAs), yaitu aparatur negara yang mau tidak mau, suka tidak suka, sadar tidak sadar harus “mengabdi” kepada negara atau yang disebut sebagai alat hegemoni yang akan mengukuhkan eksistensi sebuah Ideologi (Althusser in Robert Con Davis, p. 356). Keduanya menjadi kendali utama bagi jalannya perundang-undangan Ideologi pada sebuah negara.

Namun, bagi Derrida sang pengusung paham dekonstruktif ada ruang lain di samping dua ruang yang masing-masing telah terisi oleh Ideological State Aparatuses (ISAs) dan Repressive State Aparatus, yaitu ruang kosong yang mungkin saja ditempati oleh sebuah komunitas yang memang tidak berada di posisi manapun di antara keduanya.
Derrida pun memberikan penekanan khusus yang membuatnya keluar dari bayang-bayang teori strukturalisme yang menurutnya hanya terpasung di antara oposisi biner yang kaku.

Kembali kepada stigma negatif yang dikemukakan di awal tulisan ini. Ingin rasanya, penulis memberikan contoh implementasi Ideologi di dalam beberapa karya sastra dari para sastrawan yang kampiun di bidangnya. Tentunya hal ini bertujuan guna menyingkap Ideologi yang tersembunyi di baliknya dalam perspektif dekonstruktif.

Pertama, dalam salah satu karya fenomenalnya yang diberi ngaran Ketika Mas Gagah Pergi, Helvi Tiana Rosa menyuguhkan beberapa cerpen pilihan yang kiranya dapat membuat kita tersenyum, tertawa, mengharu biru dalam menyelami mutiara kata yang terangkai di setiap cerpen-cerpennya. Salah satu yang membuat penulis kagum akan Helvi Tiana Rosa ialah kefasihannya dalam merefleksikan setiap idenya melalui barisan kata-kata penuh makna. Tentunya selain Ketika Mas Gagah Pergi, ada beberapa cerpen yang merefleksikan secara eksplisit maupun implisit akan tema yang penulis angkat dalam tulisan ini. Salah satunya adalah Je Ne Te Quite Jamais, Palestine.

Je Ne Te Quite Jamais, Palestine merupakan cerpen yang mengangkat isu sentral penjajahan yang dilakukan oleh para penjajah Israel di salah satu negeri kaum Muslim, Palestina. Dalam cerpen ini dapat kita lihat adanya oposisi biner (Palestine vs Israel, Muslim vs Yahudi, Penjajah vs Terjajah, Protagonis vs Antagonis), kita hanya bisa melihat secara umum dua kubu yang berseteru. Namun, dalam konsep dekonstruktif kita melihat sudut lain dari tokoh-tokoh yang terangkai dari sudut pencitraan yang berbeda-beda pula, serta ikut menopang terjalinnya setiap kisah dalam cerita ini.

Di awal cerita, dikisahkan sang tokoh utama Zahwa, seorang putri Palestina yang telah lama menetap di kota mode dunia, Paris. Kali ini sang tokoh utama berniat mengunjungi Gaza, tanah kelahiran yang telah sekian lama ia tinggalkan sekaligus mengunjungi sang ayah tercinta Kareem Abror. Namun, tak dinyana sesampainya ia di sana, tampak sebuah pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Ia melihat lautan manusia yang berbondong-bondong mengiringi kepergian sesosok tubuh yang berselimut kafan yang dijunjung oleh sekitar delapan lelaki. Sesosok tubuh kaku itu adalah Asy Syahid Yahya Ayyash, seorang mujahid berbudi, anggota HAMAS dan musuh nomor satu Yahudi saat itu.

Di bagian lain, sebait kisah berlanjut dengan pertemuan yang telah Zahwa nanti-nantikan selama ini yaitu pertemuannya dengan sang ayah. Singkat cerita, sang ayah kini adalah seorang tim sukses Arafat yang pada saat itu merupakan kandidat Presiden Palestina yang baru.

Di lembar lain cerpen ini, sang tokoh utama kembali dipertemukan dengan sahabat lamanya, Sarah. Sarah merupakan putri Palestina yang baru-baru ini ditinggal syahid oleh sang suami yang bernama Mahmud. Sang suami ditembak mati oleh polisi Palestina karena kedapatan mencoba mengabarkan konspirasi rahasia antara Mossad dan Musa Arafat, kepala polisi Palestina untuk membunuh Ayyash.
Selain itu, yang lebih mengejutnya adalah ketiga anak Sarah yang bernama Muhammad, Haikal dan Hisyam mengalami cacat tubuh yang diakibatkan kekerasan yang dilakukan oleh para tentara Israel dan Palestina.

Dalam cerpen ini, penulis melihat telah terjadi dekonstruktif karakter yang nyata di dalamnya. Disini bukan lagi hanya menyangkut perseteruan antara Palestina vs Israel dan Muslim vs Yahudi. Tetapi, lebih luas dari itu banyak karakter yang dihadirkan guna menopang terjalinnya setiap bait dalam cerpen ini. Sang pengarang, Helvi Tiana Rosa telah membuka ruang yang selama ini tertutup oleh asumsi negatif mengenai isu ini. Ruang-ruang tersebut diisi oleh Zahwa, Kareem Abror (sang ayah), Sarah dan ketiga anaknya, Mahmod (suami Sarah), Arafat dan istrinya (madame Suha), Asy Syahid Yahya Ayyash, bahkan yang lebih besar dari itu yaitu keterlibatan pihak “asing” dalam konspirasi global ini.

Jika dirunut, eksistensi Israel di tanah Palestina selama ini tidak terlepas dari tangan dingin sang “teman karib” yaitu Amerika. Melalui cengkeraman kuku-kuku tajamnya, Amerika menguasai media dunia seperti CNN, BBC, REUTEURS dan lain-lain sebagai alat hegemoni mereka. Alat tersebut menjadi tameng permisif bagi sang “jagal” untuk membantai seluruh umat Muslim di Palestina. Membungkam mulut dunia, mencocok hidung negara-negara di dunia dan menutup mata dan telinga negara-negara dunia (Shofwan Al-Banna, 34).

Selain itu, melalui “boneka setianya” di Palestina yaitu Arafat sang penjajah menyusun skenario perdamaian antara HAMAS dan PLO yang jelas-jelas dikuasai oleh Israel. Arafat sebagai sang aktor utama digerakkan untuk menang dalam arena pemilihan umum Presiden Palestina saat itu. Tak jauh beda dengan sang suami, sang istri yaitu madame Suha “disuap” dengan kemewahan duniawi yang menyilaukan mata dari dana rakyat. Dengan bebasnya ia melanglang buana, menginap di hotel mewah dari satu hotel ke hotel yang lainnya, di Perancis, Swiss London. Bahkan dikala rakyatnya berjuang mempertahankan negaranya ia dengan leluasanya mengoperasi hidung “bangirnya” di luar negeri.

Mengingat suksesnya sang pengarang, Helvi Tiana Rosa yang secara pas membangun karakter dari sudut pandang yang berbeda memberikan gambaran pula akan adanya keterkaitan setiap karakter dengan konsep yang ditelorkan oleh Louis Althusser. Yang menjadi Repressive State Aparatus dalam cerpen ini, yaitu para tentara Israel, tentara Palestina (yang berkhianat) dan antek-anteknya. Kedua, Ideological State Aparatuses (ISAs), yaitu Arafat dan istrinya, PLO dan para anggotanya serta Kareem Abror. Terakhir, yang mengisi ruang kosong yang lainnya ialah para pejuang HAMAS dan kaum Muslim Palestina (khususnya Zahwa, Sarah beserta anak dan suaminya, Asy Syahid Yahya Ayyash serta para pejuang lain yang secara implisit digambarkan dalam cerpen ini.
Bantuan dana dan peralatan perang yang memadai yang didukung penuh oleh Amerika merupakan salah satu langkah penerapan undang-undang Ideologi yang diusung oleh Amerika dan Israel serta sebagai alat hegemoni yang akan semakin menancapkan kekuasaan dalam mempertahankan eksistensi Ideologinya. Bergabunglah dua penjajah ini dengan komunitas Ideologi yang lebih besar lagi yaitu Zionisme Internasional yang menghancurkan rakyat dunia khususnya umat Muslim dengan gerakan genocide atau pembantaian massal.

Kedua, dalam Novel tetralogi Laskar Pelangi yang sedang merajai pasar sastra masyarakat kita saat ini kita dapat menganalis hal yang sama yang telah kita lakukan pada kumpulan cerpennya Helvi Tiana Rosa. Novel yang mengadaptasi kisah nyata sang penulis, Andrea Hirata bercerita tentang persahabatan masa kecilnya yang dia beri nama Laskar Pelangi. Diawali dengan kisah sang tokoh utama para anggota Laskar Pelangi (Ikal, Syahdan, A Kiong, Mahar, Sahara, Trapani, Kucai, Lintang, Samson dan Harun) yang hendak memasuki gerbang pendidikan pertama mereka di bangku sekolah dasar. Sekolah terpencil dan “terkumuh” di Belitong yang bernama SD Muhammadyah. Sekolah yang lebih layak disebut sebagai gudang kopra yang tak terurus.

Seluruh siswa yang tergabung dalam kelas ada sepuluh orang plus di akhir cerita ditambah anggota baru yaitu Flo. Mereka berangkat dari keluarga miskin dan terisolasi di Belitong. Berbeda dengan kesepuluh rekannya, Flo merupakan anak dari seorang petinggi PN Timah, yaitu perusahaan terbesar yang mengelola pertambangan timah.

Isu sentral dalam novel ini adalah kesenjangan sosial di antara komunitas asli Belitong yang hidup kekurangan, miskin dan terisolasi dari kemewahan dunia dengan komunitas elite para staf PN Timah yang hidup berkecukupan dan bergelimangan harta. Di samping isu sentral tersebut sang penulis memberikan perspektif berbeda dalam setiap karakter yang ia hadirkan guna membangun keterikatan cerita dalam setiap lembarnya, serta isu pendidikan yang sudah tak asing lagi di negeri kita ini.

Dalam novel ini, juga kita dapat melihat bahwa ternyata telah terjadi dekonstruktif karakter yang nyata di dalamnya. Disini juga bukan hanya sekedar kesenjangan sosial yang terbangun selama berpuluh-puluh tahun dengan tembok raksasa laksana tembok besar di China yang selalu bertuliskan jargon memuakkan DILARANG MASUK BAGI YANG TIDAK MEMILIKI HAK!

Ruang-ruang tersebut diisi oleh sama halnya dengan cerpen tentang Palestina karya Helvi Tiana Rosa tadi, novel ini pun memberikan gambaran berbeda dengan menghadirkan karakter-karakter unik nan memesona. Selain para anggota Laskar Pelangi, ada sang Ibunda Guru yang bersahaja dan penuh dedikasi dalam dunia pendidikan yaitu ibu Muslimah atau ibu Mus, sang kepala sekolah yang tak kalah bersahajanya, sang manusia setengah peri alias dukun tersohor di Belitong yaitu Tuk Bayan Tula, Ibunda Ikal yang terkenal dengan teori gila no 7. Bahkan yang lebih besar dari itu, keterlibatan yang kasat mata namun pengaruhnya sangat nyata yaitu keterlibatan pihak “asing” dalam konspirasi global ini.

Kembali ke masalah konspirasi global yang telah kita bahas sebelumnya, kembali kita bisa lihat konspirasi yang dibangun oleh sebuah Ideologi yang berada di balik ini semua. Ideologi yang aturan perundang-undangannya memberikan efek yang tidak sedikit pada masyarakat di dalamnya.

Indonesia sebuah negara yang dihuni oleh para Laskar Pelangi dan para tokoh lain di dalamnya memiliki Ideologi Pancasila yang berkiblat pada asas Demokrasi. Demokrasi yang tidak lain dan tidak bukan merupakan anak kesayangan sang “ayah” yaitu Kapitalisme memberikan sebuah aturan yang harus ditaati oleh Indonesia dan rakyatnya. Guru besar sang Ideologi adalah Kapitalisme Liberal yang diusung oleh siempunya modal (kapital) tertinggi di dunia yaitu Amerika.

Dengan kemampuan finansial yang demikian besar, melalui salah satu “tangan kanannya” yaitu World Bank, Amerika “berbaik hati” men-supply kebutuhan Indonesia termasuk meminjamkan “bantuan dana” yang sebenarnya adalah hutang luar negeri yang tidak akan pernah bisa terbayar hingga tujuh turunan. Selain itu, investasi besar-besaran Amerika tanamkan di bumi pertiwi ini. Salah satunya dengan “membantu” mengelola aset negara yang merupakan salah satu yang terbesar yaitu Timah di Belitong.

Tibalah kita pada kisah Laskar Pelangi dan para penghuni gedong PN Timah di Belitong. Dengan aset yang ada dan dengan aturan perundang-undangan yang disepakati oleh sang pemilik modal dan negara yang diberi modal maka aturan pun harus dijalankan. Terjadilah ketimpangan sistem di Indonesia khususnya di Belitong, sang pemilik modal tertinggi hidup mewah bergelimangan harta di gedong PN Timah, sedangkan yang lainnya sudah dipastikan menjadi bagian yang tersingkirkan dari arena kemewahan itu.

Di sudut cerita lain, kita akan melihat adanya kapitalisme pendidikan di sana. Dunia pendidikan di Indonesia dalam hal ini di Belitong telah menjelma menjadi mesin kapitalisme (capitalist machine), yaitu mesin untuk mencari keuntungan dan mesin citra kapitalisme yaitu mesin yang menciptakan citra-citra (lembaga, individu, pengetahuan) yang sesuai dengan citra kapitalisme (Yasraf Amir Piliang, 355).

Dunia pendidikan yang seharusnya sebagai nilai pencarian pengetahuan, kini dimuati oleh nilai-nilai komersial, sebagai refleksi dari keberpihakan pada kekuasaan kapital. Ketika pendidikan menjadi bagian inheren dari sistem kapitalisme, maka berbagai paradigma, metode dan teknik-teknik yang dikembangkan di dalamnya menjadi sebuah cara untuk mengukuhkan hegemoni kapitalisme tersebut. Metode pemberian keterampilan, pembentukkan watak, penciptaan karakter, pembangunan mental, diarahkan sedemikian rupa, sehingga semuanya mendukung hegemoni kapitalisme. Selain itu, paradigma-paradigma keilmuan serta logika-logika yang dikembangkan di dalamnya mempunyai hubungan yang saling menghidupkan dengan logika-logika kapitalisme.

Kemudian, secara lebih jauh kapitalisme telah membuka peluang bagi berkembangnya berbagai logika-logika baru kehidupan sosial dan budaya, yang di dalamnya institusi pendidikan berperan besar dalam mengkonstruksi dan mensosialisasikan logika-logika tersebut. Institusi pendidikan kapitalistik mempunyai hubungan mutual dengan logika-logika kapitalisme tersebut. Artinya, institusi tersebut mengembangkan dan mensosialisasikan logika-logika tersebut di dalam berbagai bentuk materi pendidikan, akan tetapi institusi tersebut itu sendiri dibentuk berdasarkan logika kapitalisme itu sendiri (Yasraf Amir Piliang, 366)
Akhirnya, dapat penulis simpulkan bahwa bila adanya kecenderungan citra dunia pendidikan, dengan citra Kapitalisme yang tidak sesuai terus berlanjut; Jika “pandangan dunia” (world view) akan salah satu Ideologi yang diciptakan oleh kapitalisme tidak dirubah, maka distorsi di dunia akan berkembang semakin besar, yaitu menciptakan dunia yang semakin terperangkap di dalam dimensi komersial, dan semakin menjauhkannya dari dimensi-dimensi moral, sosial dan spiritual yang lebih luas dan lebih kaya.

Selain itu, dominasi sebuah sistem kekuasaan (seperti kapitalisme dan yang lainnya) terhadap sistem-sistem lain yang dikuasainya (seperti sistem pendidikan) bukanlah sebuah kondisi yang selesai (final), ia terbuka untuk didekonstruksi dan dibongkar. Seperti yang telah ditulis Yasraf Amir Piliang, bahwa keterbukaan seperti inilah maka konsep hegemoni tidak dapat dipisahkan dari konsep lainnya, seperti hegemoni tandingan (counter hegemony) atau hegemoni alternatif (alternative hegemony).

Maka, jika kita telah bosan terkungkung di dalam naungan Ideologi yang menyesakkan dada dan memberikan kesulitan bagi kita. Satu hal yang dapat kita lakukan ialah memeranginya dengan lawan yang seimbang. Dalam artian Ideologi melawan Ideologi. Dengan catatan Ideologi yang memberikan solusi tuntas dan menyeluruh bagi seluruh penganutnya serta setiap aturan perundang-undangan yang diusungnya dapat mengatur para penganutnya dari hal yang terkecil hingga yang terbesar.

Satu keniscayaan bahwa bila sebuah Ideologi semakin ditekan, maka akan semakin membuat orang penasaran dan ingin mengetahui akan Ideologi tersebut. Maka, menjadi satu keyakinan akan coreng morengnya citra Ideologi Islam di mata dunia, cepat atau lambat akan menemukan jalan terang berderang yang akan menunjukkan senyum termanisnya dan berkata pada dunia bahwa Islam bukan teroris, Islam cinta damai dan Islam adalah rahmatan lil alamin. Sehingga yang selama ini dunia hanya melihat Ideologi Islam dari dalam, sehingga tak pernah tahu keindahan Ideologi Islam. Kini, tentu kita semua dapat ceritakan bagaimana indahnya Ideologi Islam dan alasan mengapa kita semua tertarik menjadi penganutnya.


Tami Karisma
Bandung 30 Agustus 2009


DAFTAR PUSTAKA
Al-Banna, Shofwan. 2004. Palestine Emang Gue Pikirin?. Yogyakarta: Pro-U Media.
Harland, Richard. Superstrukturalisme, Pengantar Komprehensif kepada Semiotika, Strukturalisme dan Postrukturalisme. 2006. Jakarta & Bandung: Jalasutra.
Hirata, Andrea. 2007. Laskar Pelangi. Yogyakarta: PT. Bentang Pustaka.
Percikan Iman, Edisi 09 Tahun VI September 2005 M/Rajab 1426 H
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Dunia yang Dilipat, Tamasya Melampaui Batas-batas Kebudayaan. Jakarta & Bandung: Jalasutra.
Rosa, Helvi Tiana. 2004. Ketika Mas Gagah Pergi, Kumpulan Cerpen Terpilih. Bandung: Asy-Syamil.

Feminisme: Sayap Patah Kemuliaan Perempuan


Bablas. Kira-kira itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkan perkembangan arah gerakan feminisme. Awalnya, adalah Marry Wollstonecraft yang menggaungkan suara hatinya berupa gugatan terhadap beragam aturan dan tradisi yang mengekang dan membunuh potensi perempuan di Eropa. Ada sebuah tuntutan terhadap pengakuan bahwa perempuan pun punya hak yang sama dalam berbagai bidang, seperti politik, agama, pendidikan, hukum, dan ekonomi[1].

Akan tetapi, cita-cita awal Wollstonescraft tampaknya mengalami berbagai penyimpangan, hingga pendulum gerakan feminisme bergerak ke arah yang tidak bisa dimengerti: tiba-tiba saja “gender” dan “seks” tidak boleh dijadikan sebagai dua hal yang berkaitan. Oleh karena itu, terciptalah istilah ‘ruang publik’ untuk perempuan modern dan ‘ruang domestik’ untuk perempuan tradisional. Tentu saja ‘ruang publik’ yang dimaksud di sini ada dalam pengertian yang seluas-luasnya; kebebasan berkarir tanpa barrier. Selain itu, anggapan ketidakadaannya kaitan antara “gender” dan “seks” berakibat pada rusaknya makna dan fungsi ibu. Perempuan bebas untuk tidak menyusukan anaknya dan melakukan aborsi. Lebih jauh lagi, perempuan bebas menentukan orientasi seksualnya. Hal ini ditunjukkan dengan maraknya aktivitas homoseksual (lesbianism?, ed.) dan gerakan tidak menikah untuk lebih menunjukkan superioritas perempuan dibandingkan dengan laki-laki.

Tuntutan yang lebih radikal dari feminisme adalah ketika memasuki daerah agama, yaitu dengan mengkritik Bibel. Pergeseran posisi perempuan dalam masyarakat Barat akibat feminisme, memungkinkan untuk mencatat munculnya kesadaran kritis feminis. Bibel dianggap perlu dibebaskan bukan saja dari tafsiran-tafsiran yang sudah ada, melainkan juga dari bias patriarkal yang ada di dalam teks Bibel itu sendiri[2].

Gema feminisme yang lahir di Barat dan ditujukan untuk publik Barat—yang jelas tidak memiliki manhaj (pedoman)—pun dipinang oleh orang Islam. Pinangan ini berlaku sebagai seruan pembebasan perempuan dari kurungan adat, tradisi, dan agama. Islam dianggap sebagai sebuah kurungan yang mengebiri aktivitas perempuan, diskriminatif, menghalalkan kekerasan pada perempuan (violence by religion), dan di-stereotype-kan sebagai agama yang kolot. Oleh sebab itu, dibutuhkan pula kajian kritis terhadap ayat-ayat Alquran maupun hadits yang cenderung misoginis atau bias gender. Tokoh-tokoh feminisme di dunia Islam yang mengusung hal ini di antaranya adalah Fatima Mernissi (Maroko), Rifaat Hasan (Pakistan), Huda Sya’rawie (Mesir), Fadia Faqir (Yordania), dan Amina Wadud (Saudi).

Peristiwa Historic Jum’a—Salat Jumat yang diimami oleh Amina Wadud-- dianggap sebagai sebuah pencerahan dari “tren” konservatisme Islam yang selama ini mengurung perempuan. Setelah peristiwa itu, muncul pula buku An Islamic Bill of Rights for Women the Bedroom yang mengadvokasikan extramarital sexual intercourse, adultery, fornication (sex without marriage), pleasurable sexual experience, zina and abortion for all Muslim and all non-Muslim women of the whole world. Buku tersebut ditulis oleh Asra Q. Nomani, perempuan India-Amerika[3]. Kedua tragedi ini merupakan contoh upaya penafsiran ulang terhadap aturan Islam secara membabi buta.

Masyarakat Islam, untuk jangka waktu yang lama tidak mengenal tuntutan persamaan hak laki-laki dan perempuan sebab sejak awal Islam menegaskan bahwa laki-laki dan perempuan adalah setara. Innamâ nisâ syâqôiqul ar- rijal (HR. Bukhari, Abu Daud, dan Nasa’i). Allah menyatakan kesetaraan perempuan dan laki-laki melalui firman-Nya (QS. al-Hujurat: 13; al-Ahzab: 35; at-Taubah: 71).

Munculnya istilah feminisme dalam dunia Islam disebabkan ketidakpahaman akan konsep kedudukan perempuan dalam Islam. Islam tidak memarginalkan perempuan di sisi manapun, dengan demikian, Islam tidak membutuhkan feminisme. Bias pemahaman antara Islamic values dan cultural values di negeri-negeri muslim pun harus dimengerti. Islam tidak mengenal ungkapan suarga nunut, neroko katut, begitu pun dengan kewajiban perempuan yang berotasi antara sumur, dapur, dan kasur. Seringkali ayat “Wa qarna fî buyûti kunna [...]” yang berarti “Dan tetaplah kamu berada di rumahmu [...]” (QS. al-Ahzab: 33) dijadikan alat untuk menolak adab-adab Islam.

DR. Yusuf Qardhawi memberi penjelasan tentang ayat tersebut bahwa sebenarnya ditujukan kepada para istri Rasul Saw., sebagaimana bunyi ayat sebelumnya. Akan tetapi, dalam penjelasan terhadap ayat tersebut, dinyatakan bahwa jika ada keperluan yang sejalan dengan syariat dan mengharuskan perempuan untuk keluar rumah, maka hal itu diperbolehkan. Hal ini diperkuat dengan beberapa alasan, pertama, sejarah mencatat bahwa Aisyah ra. keluar rumah dan menyaksikan Perang Jamal. Sikap tersebut dianggap beliau sebagai suatu kewajiban dalam menuntut hukuman terhadap pembunuh Utsman bin Affan ra. Kedua, dilihat dari jendela realitas, banyak perempuan yang keluar rumah untuk belajar dan melakukan aktivitas bermanfaat lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa pada umumnya, kita sepakat akan adanya tuntutan aktivitas perempuan di luar rumah, sesuai dengan adabnya[4].

Ketiga, kondisi zaman menghendaki perempuan Islam untuk terjun dan berkompetisi di berbagai bidang dengan propagandis perempuan sekular. Menurut Yusuf Qardhawi, poin ketiga ini adakalanya melebihi tuntutan dan kebutuhan pribadi perempuan Islam. Keempat, tradisi memingit dan mengurung seseorang dalam rumah tidak pernah terjadi dalam sejarah Islam, kecuali beberapa saat dalam proses penyempur-naan syariat tentang hukum bagi para pezina (Qs. an-Nisa: 15)[5].

Ide feminisme sejatinya tidak membawa perubahan yang lebih baik terhadap perempuan, yang sebelumnya telah diberikan oleh Islam sebab ia menghancurkan kemuliaan posisi perempuan sebagai ibu. Al-jannatu tahta aqdamil ummahât, surga berada di bawah telapak kaki ibu. Rahasia perempuan adalah sebagai ibu, ia melahirkan pahlawan-pahlawan masa depan. Kartini, dalam idenya mengenai pendidikan untuk perempuan menyatakan bahwa sekolah tidak cukup untuk membentuk pikiran dan perasaan manusia, rumah pun turut mendidik. Tempat yang lebih menyenangkan, lebih hangat, dan lebih aman bagi anak tidak ada kecuali di dada ibu. Di situlah justru sumber kehidupan harus benar-benar dijaga, agar dengan menegak air susu kehidupan, anak tidak pula minum air kebusukan budi pekerti[6].

Feminisme hanya akan menjadi sayap patah. Awalnya bertujuan untuk mengangkat perempuan ke ‘langit’, namun alih-alih pemikiran dan konsepsinya banyak menjebak perempuan pada ketiadaan dan ketidakbermaknaan. Dalam Islam, perempuan diberikan banyak kemuliaan yang bahkan tidak laki-laki dapatkan. Datangnya feminis sesungguhnya hanya akan menjadi sayap patah dan tidak akan sanggup mengantarkan perempuan menuju kemuliaan. Sayap patah yang hanya menjerumuskan perempuan pada ketidakjelasan akan hakikat menjadi perempuan. Islam datang untuk memberikan solusi bagi peradaban-peradaban sebelumnya yang menghinakan perempuan, yang menganggap perempuan adalah manusia yang setengah jadi, sebagai liyan (the other), karena ia bukan laki-laki. Gerakan feminis yang datang seolah-olah sebagai sebuah gerakan solusi, sekali lagi, hanya menjadi sayap patah, sebab Islam, sejatinya telah memberikan sayap yang sempurna untuk setiap perempuan di muka bumi.

Sir Muhammad Iqbal, muslim pemikir dan penyair dari Pakistan, mengungkapkan pemikirannya, Islam adalah dîn yang ideal tidak hanya bagi perempuan yang bekerja di luar, tetapi juga untuk melindungi keperempuanan, dan mengangkatnya ke dalam perhatian yang tinggi [7].

#24 Feb 2008

1. Rosmarie Putnam Tong. Feminist Thought (Yogyakarta, 2001), hlm. 18.
2. Letty M. Russel (ed.). Perempuan dan Tafsir Kitab Suci (Jakarta, 1998), hlm. 11
3. Lies Marcoes dan Natsir, “Gerakan Perempuan Islam : Antara Konservatifisme dan Upaya Menuju Aksi Praksis Kesetaraan dalam Islam”, makalah diskusi, hlm. 1—2.
4. “Antara Dua Titik Ekstrim”, Ishlah (Agustus, 1995), hlm. 9.
5. Ibid.
6. Sulastin Sutrisno (penerjemah). Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsa (Jakarta: 1985), hlm. 388.
7. Annemarie Schimmel. Sayap Jibril: Gagasan Religius Muhammad Iqbal (Jogjakarta, 2003),
hlm. 311.

[1] Rosmarie Putnam Tong. Feminist Thought (Yogyakarta, 2001), hlm. 18.
[2] Letty M. Russel (ed.). Perempuan dan Tafsir Kitab Suci (Jakarta, 1998), hlm. 11
[3] Lies Marcoes dan Natsir, “Gerakan Perempuan Islam : Antara Konservatifisme dan Upaya Menuju Aksi Praksis Kesetaraan dalam Islam”, makalah diskusi, hlm. 1—2.
[4] “Antara Dua Titik Ekstrim”, Ishlah (Agustus, 1995), hlm. 9.
[5] Ibid.
[6] Sulastin Sutrisno (penerjemah). Surat-Surat Kartini: Renungan Tentang dan Untuk Bangsa (Jakarta: 1985), hlm. 388.
[7] Annemarie Schimmel. Sayap Jibril: Gagasan Religius Muhammad Iqbal (Jogjakarta, 2003),
hlm. 311.

Nasihat Untuk Generasi Pelanjut

Yang saya takutkan bukanlah belum tegaknya aturan dan hukum Allah berdasarkan Al Qur'an dan As-Sunnah, namun yang saya takutkan justru pada orang-orang yang mengusung atas nama tegaknya aturan tersebut sebagai bentuk kebencian terhadap manusia lain atau golongan lain, sebagaimana bani abbasiyah merebut kekuasaan dari bani ummayah dengan janji akan menegakkan dan menerapkan hukum dan aturan islam dalam Al Qur'an dan As-Sunnah.

Namun janji itu hanyalah bentuk penipuan pada umat atas nama golongan dan suku untuk keturunannya, kekuasaan bani abbasiyah begitu tiran dan kejam menebaskan pedang membunuh semua keturnan bani ummayah dengan alasan membalaskan dendam atas kekejaman bani ummayah ketika berkuasa.

Kekuasaan bani abbasiyah yang mengatas namakan penegakan aturan islam menjadi sejarah kelam dan barbarian. Genangan darah dan mayat-mayat serta kekejaman bani abbasiyah hendaknya jadi peringatan para penegak risalah saat ini, bahwa kebencian terhadap kekafiran dan kekejaman bukan berarti membuat kekejaman dan tirani yang baru atas nama penegakan islam.


MASA KEKUASAAN BANI ABBAS
Pemerintahan Bani Umayyah adalah pemerintahan yang memiliki wibawa yang besar sekali, meliputi wilayah yang amat luas, mulai dari negeri Sind dan berakhir di negeri Spanyol. Ia demikian kuatnya, sehingga apabila seseorang menyaksikannya, pasti akan berpendapat bahwa usaha mengguncangkannya adalah sesuatu yang tidak mudah bagi siapapun. Namun jalan yang ditemph oleh pemerintahan Bani Umayyah, meskipn ia dipatuhi oleh sejumlah besar manusia yang takluk kepada kekuasaannya, tidak sedikitpun memperoleh penghargaan dan simpati dalam hati mereka. Itulah sebabnya, belum sampai berlalu satu abad dari kekuasaan mereka, kaum Bani Abbas berhasil menggulingkan singgasananya dan mencampakkannya dengan mudah sekali. Dan ketika singgasana itu terjatuh, demikian pula para rajanya, tidak seorang pun yang meneteskan air mata menangisi mereka.

JANJI-JANJI KAUM ABBASIYIN
Adapun penyebab keberhasilan kaum penganjur berdirinya Khilafah Bani Abbas ialah karena mereka berhasil menyadarkan kaum muslimin pada umumnya, bahwa Bani Abbas adalah keluarga yang dekat kepada Nabi saw, dan bahwasanya mereka akan mengamalkan Al-Qur'an dan Sunnah Rasul dan menegakkan syari'at Allah. Oleh karena itu, ketika As-Saffah dibai'at sebagai khalifah dikota Kuffah, pada bulan Rabi'uts-Tsani tahun 132 H. dalam pidato pertamanya setelah menyebutkan tentang kezaliman-kezaliman yang dilakukan oleh Bani Umayyah, ia berkata : "Dan sesungguhnya aku berharap kalian tidak akan lagi didatangi oleh kezaliman, pada saat kebaikan telah datang kepadamu, tidak pula kehancuran pada saat perbaikan telah datang mengunjungimu." setelah itu berdirilah paman as-Saffah, Daud bin Ali, dan ia menegaskan dihadapan orang banyak : "Demi Allah, gerakan yang telah kami lakukan ini sama sekali tidak bertujuan untuk menumpuk harta benda, menggali sungai, membangun istana atau mengumpulkan emas atau perak, tapi sesungguhnya kami telah bertindak demi memprotes perampasan hak kami, dan demi membela putera-putera paman kami (yakni keluarga Abu Thalib), dan karena buruknya perlakuan Bani Umayyah terhadap kalian, penghinaan mereka terhadap kalian dan monopoli mereka dengan tunjangan dan harta yang menjadi hak kalian. Maka dengan ini kami berjanji kepada kalian, demi kesetiaan kami kepada Allah dan Rasul-Nya dan demi kehormatan Abbas, untuk memerintah di kalangan kalian sesuai dengan apa yang diturunkan oleh Allah, melaksanakan Kitab Allah dan berjalan - baik di kalangan umum ataupun khusus dengan teladan Rasulullah sawa.". Sungguhpun demikian, permerintahan mereka itu belum berjalan cukup lama, ketika tindakan dan perilaku mereka menunjukkan bahwa segala yang mereka sebutkan itu ternyata PENIPUAN dan MUSLIHAT belaka.

TINDAKAN-TINDAKAN MEREKA (BANI ABBAS)
Pasukan tentara Bani Abbas menaklukkan kota Damsyik, ibukota Bani Umayyah, dan merekapun "memainkan" pedangnya di kalangan penduduk, sehingga membunuh kurang lebih lima puluh ribu orang. Masjid Jami' milik Bani Umayyah, mereka jadikan kandang kuda-kuda mereka selama tujuh puluh hari, dan mereka menggali kuburan Mu'awiyah serta Bani Umayyah lainnya. Dan ketika mendapati jasad Hisyam bin Abdul Malik masih utuh, mereka lalu menderanya dengan cambuk-cambuk dan menggantungkannya di hadapan pandangan orang banyak selama beberapa hari, kemudian membakarnya dan menaburkan abunya. Mereka juga membunuh setiap anak dari kalangan Bani Umayyah, kemudian melemparkan permadani di atas jasad-jasad mereka yang sebagian masih menggeliat dan gemetaran, lalu mereka duduk di atasnya sambil makan. mereka juga membunuh semua anggota keluarga Bani Umayyah yang ada di kota Basrah dan menggantungkan jasad-jasad mereka dengan lidah-lidah mereka, kemudian membuang mereka dijalan-jalan kota itu untuk makanan anjing-anjing.

Demikian pula yang mereka lakukan terhadap Bani Umayyah di Makkah dan Madinah. (Ibnu Atsir, jilid 4, hal 333-334; al-Bidayah, jilid 10, hal 345; Ibnu Khaldun, jilid 3, hal 132-133)

Kemudian timbul pemberontakan di kota Musil melawan as-Saffah yang segera mengutus saudaranya, Yahya, untuk menumpas dan memadamkannya. Yahya kemudian mengumumkan di kalangan rakyat: "Barangsiapa memasuki masjid Jami', maka ia dijamin keamanannya." Beribu-ribu orang secara berduyun-duyun memasuki masjid, kemudian Yahya menugaskan pengawal-pengawalnya menutup pintu-pintu masjid dan menghabisi nyawa orang-orang yang berlindung dan mencari keselamatan itu. sebanyak sebelas ribu orang meninggal pada peristiwa itu. Dan di malam harinya, Yahya mendengar tangis dan ratapan kaum wanita yang suami-suaminya terbunuh di hari itu, lalu ia pun memerintahkan pembunuhan atas kaum wanita dan anak-anak, sehingga selama tiga hari kota Musil digenangi oleh darah-darah penduduknya, dan berlangsunglah selama itu pembunuhan, penangkapan dan penyembelihan yang tidak sedikit pun memiliki belas kasihan terhadap anak kecil, orang tua atau membiarkan seorang laki-laki atau melalaikan seorang wanita.

Tahukan anda wahai sadara-saudaraku, ketika saya membayangkan dalam posisi keturunan Bani Umayyah dan pendukungnya, kemudian sesaat itu saya tertidur dan saya bermimpi serasa dinegeri zombie, kemanapun saya lari dan bersembunyi saya terus dikejar dan diburu untuk dibunuh dan dipenggal mereka, yang anehnya para zombie ini begitu beringas dan menyeramkan dengan berbagai senjata tajam yang mereka bawa, dan saat itu tidak ada pilihan bagi saya selain melawan atau menyerah pada ancaman kematian yang mengenaskan didepan mata, sungguh mimpi buruk yang mengerikan. NAUDZUBILLAH HIMINDZALIK .

Sumber: *Facebook Wira Kalipaksi

Indonesia di Titik Nol



Terlampau sempit medium ini jika hendak mendeskripsikan begitu banyak versi tentang Indonesia, terlebih jika kemudian harus diteruskan dengan mencari akar gagasan dan legitimasi praksis-rasionalistiknya. Tapi satu hal yang sulit dibantah adalah Indonesia merdeka lebih mengikuti versi Soekarno dari pada versi Hatta, yaitu menggalang kekuasaan (machtvorming) dan menggunakan kekuasaan (machtsaanwending), dari pada perbaikan mutu SDM dengan usaha sendiri. Agitasi, bukan quality.

Indonesia, pada dua dekade awalnya adalah Indonesia dengan versi Soekarno, yang didalamnya tersisip kegelisahan Hatta tentang Indonesia masa depan dan bagaimana meraihnya. Dalam Indonesia versi Soekarno itu, penggalangan kekuasaan dan penggunaan kekuasaan terintrodusir dalam terma "revolusi terus menerus". Demi aksi massa, rakyat terezimentasi. Semua orang memusatkan pikiran dan tenaga untuk mengisi ruang-ruang revolusi yang menggelora itu. Modal mereka hanya lidah dan mulut, alias menjilat dan memuji. Mayoritas orang lupa akan keterampilan teknis dan bagaimana bekerja membangun Indonesia lewat cara lain. Akhirnya, dalam gelegak "adrenalin" revolusi itu, rezim Soekarno berakhir tragis. Jangankan meningkatkan mutu kehidupan rakyat, revolusi harus terhenti dalam kemerosotan politik dan kesulitan ekonomi. Dan dalam cerpennya, Jalan Lain Menuju Roma, Idrus melukiskan sekan-akan setelah 20 tahun, bangsa Indonesia kembali ke titik nol.

Open, tokoh dalam cerpen itu, menyaksikan orang-orang yang telanjang bulat berebut bangkai anjing di sungai Ciliwung. Open mencatat, "Bangkai merebut bangkai". Bangkai anjing itu dimakan oleh seseorang yang behasil merebutnya, lalu Open mencatat, "Bangkai makan bangkai". Gelandangan lain dengan iri hati melihat temannya makan sendirian. Solidaritas kemanusiaan sudah hilang, seperti hilangnya perasaan malu. Lalu Open menulis, "Anjing makan bangkai". Pemakan bangkai itu tersandar pada batang pohon, lalu mati karena sakit perut. Open menulis, "Bangkai jadi bangkai".

Jika rombak-merombak lembaga dan melakukan mobilisasi-sentimentil gagal strategis itu, tentu tidak mengherankan jika Soeharto tidak lagi mengulanginya. Tapi ada pola yang tetap bertahan, Soeharto lebih suka menggalang dan menggunakan kekuasaan, meski dengan semangat dan cara yang justru anti revolusi. Dan loyalitas pada kekuasaan masih menjadi mainstream yang tak tergantikan. Indonesia versi Bung Hatta - atau yang senada dengan itu - tetap merana. Selama lebih dari tiga dekade, gelombang revolusi diganti dengan gelombang pembangunan, yang sebenarnya lebih merupakan gelombang eksploitasi sumber-sumber daya bangsa Indonesia. Dan setiap orang kembali berebut peran untuk turut dan berkuasa dalam gelombang itu. Peningkatan sumber daya manusia dilakukan, tapi justru dengan mengabaikan pengembangan kemanusiaan itu sendiri. Manusia-manusia pembangunan menjadi komoditas yang hanya memiliki satu pilihan, yaitu menjadi bagian dari mesin pembangunan yang mekanistik, serta kehilangan sensitifitas sosial dan kesempatan.

Ironisnya, gelombang pembangunan itu berakhir dengan kehancuran, dan meninggalkan bangsa Indonesia tanpa daya. Kepercayaan rakyat semakin hilang, mula-mula pada kekuasaan, lalu pada ketekunan, hingga akhirnya pada kejujuran. Andaikan Idrus menulis lagi, maka setelah "bangkai jadi bangkai", dia akan menambahkan "bangkai jadi sampah". Ambivalensi itu terus terjadi. Seakan-akan meningkatkan mutu sumber daya manusia tapi mengabaikan kemunusiaan. Mengaku (dalam retorika) pemerintahan yang bersih, tapi korupsi justeru terjadi. Alih-alih “pemerintahan yang bersih”, Pejabat Teras Negara dan Penegak Hukum pun ikut terlibat “skandal”, apakah masih bisa mengaku bersih?!

Dalam ambivalensi itu, setiap kita akan sulit membedakan antara penyakit dan penderitanya. Antara korban dan bencana. Racun dan darah telah menyatu dan senyawa itu telah menjadi racun yang baru. Jangan-jangan itulah yang terjadi kengan kolusi, korupsi serta nepotisme yang telah lama melanda negeri ini. Erich Fromm menyebut kondisi yang seperti ini sebagai the pathology of normalcy, penyakit yang tidak lagi disadari sebagai penyakit karena sudah menjadi bagian yang wajar. Sehingga berapa pun banyak korupsi dilakukan, tidak akan pernah seorang pun dinyatakan sebagai koruptor sebab lembaga pengadilan tidak pernah lagi bisa menjatuhkan vonisnya. Indonesia setelah itu jauh lebih buruk dari Turki di awal abad ke 20, yang disebut sebagai the sick man of Europe. Indonesia tidak hanya sekedar the sick man of Asia, tapi bisa jadi adalah penyakit itu sendiri, wabah, bangkai dan sampah itu sendiri.

Apakah yang Masih Tersisa ?

Jangan-jangan Indonesia merdeka tanpa disertai kesadaran yang mendalam akan quality, apalagi mempersiapkan re-engineering dan velocity. Baiklah, karena kita harus membuat keputusan dan melakukan tindakan secepat pikiran bergerak, maka segera kumpulkanlah apa yang masih tersisa, dan lakukan sesuatu yang bisa dilakukan. Tapi jangan lupa, kesemua itu harus sesuai dengan kemampuan dan bakat (vermogen en aanleg), serta dengan tenaga dan kekuatan sendiri (eigen kracth en eigen kunnen), tanpa bergantung pada bantuan asing, begitu Bung Hatta mengingatkan.

Faktor kemandirian menjadi penting, karena setiap kelemahan akan selalu mengundang intervensi. Dan intervensi adalah awal bagi penindas baru, walaupun dalam setiap penampilannya ia “seolah-olah” menjadi pembebas. Betapa tidak, Indonesia saat ini berhadapan dengan persolan internal yang kompleks; antagonisme terus berlangsung tapi tanpa indikasi kohesifitas. Di saat yang sama ia harus menghadapi tekanan eksternal atas nama kepentingan asing yang seolah-olah merupakan kepentingan Indonesia; tanpa imunitas dan posisi tawar yang baik. Yaa, kita telah terjebak dalam ambivalensi.

Lalu bagaimana nasib pemerintahan yang seolah-olah berkedaulatan rakyat itu; masihkah ia daulat rakyat, ketika rakyat tidak bisa berdiri sejajar dengan sesama rakyat hanya karena beberapa diantaranya berstatus pejabat? Ketika penangkapan kembali dilakukan tanpa bukti yang jelas? Ketika intimidasi tidak bisa dibedakan dengan penanganan sesuai prosedur? Ketika koruptor menghardik balik lembaga peradilan, dan lembaga peradilan tak berdaya karena "kekenyangan" upeti? Ketika keserakahan pengusaha mengorbankan rakyat pribumi dan pemerintah lebih berpihak pada pengusaha yang mengesploitasi bumi demi ambisi pribadi? Ketika negeri "yang konon katanya merdeka" berada dalam pendiktean bangsa asing? Masihkan para pejabat pemerintahan tidak bisa membedakan antara mengantisipasi teror dan mendukung teror dengan menerima dana hutang yang seolah-olah digunakan untuk menghabisi teroris? Dan hal lain yang paling dilematis akibat “keseolah-olahan” itu adalah masalah hutang luar negeri kita. Pemerintah kita lebih suka “mengemis” dari pada melakukan optimasi asset-aset internal yang terus dibiarkan terlantar. Hutang terus menumpuk hingga lebih dari 1000 triliun. Untuk “mengemplang” hutang, juga sangat sulit, sebab dalam pandangan lembaga keuangan dunia Indonesia bukanlah negara paling miskin. Mungkin benar, kita bukan negara termiskin, tapi negara “setengah miskin” yang seolah “kaya-raya”. Karena dalam negara “miskin” itu hidup segelintir orang “kaya-raya” dengan jumlah kekayaan di atas satu triliun [siapa ya yang memiliki harta diatas satu triliun di negeri ini?!-pen].

Tapi baiklah, karena kita harus mengambil keputusan dan melakukan tindakan secepat pikiran bergerak, maka palingkan wajah ke cermin sendiri. Kita tidak ingin kehilangan banyak waktu untuk mencari legitimasi bagi ambivalensi itu. Tapi bagaimana mungkin ada perbaikan, jika tidak ada perubahan politik yang sepadan. Dengan perubahan politik yang signifikan (bukan individu tapi sistemnya, walau sering juga keduanya), rekonsiliasi - misalnya -- akan lebih mudah dilakukan karena pihak-pihak yang berkaitan lebih jelas terlihat. Antagonisme lebih mudah dijelaskan, sehingga kohesifitas akan berlangsung dengan sendirinya. Hal lain yang mutlak diingat adalah, kita harus melakukan pelembagaan atau reisntitusionalisasi. Sebab kita tidak bisa berharap dari proses yang sporadis, kita harus membangun proses yang terlembagakan, karena dari sanalah kita bisa mengambil pola. Dan dengan bergegas (bukan tergesa) kita kembali merumuskan citra populer Indonesia masa hadapan, dari titik nol.

Citra populer itu adalah sintesa berbagai versi tentang Indonesia yang diidamkan oleh setiap orang yang merasa anak bangsa dalam konteks generiknya. Tanpa dipaksa, dan diagitasi. Setiap orang harus diberikan ruang yang luas untuk mengutarakan pikirannya tentang citra populer Indonesia, karena kemerdekaannya. Ia haruslah terdiri dari sintesa - diantaranya versi Bung Karno yang diekstraksi (bukan wujud emosinya) dengan versi Hatta, juga versi-versi yang lain yang berisikan cita kolektif anak bangsa tentang bagaimana Indonesia di masa hadapan. Citra populer itu haruslah berisikan paduan semangat besar dan ketelitian detail, antara gagasan yang mengilhami dan hasil yang mengawasi, antara solidaritas bangsa dan kemerdekaan pribadi, antara kekuasaan dan tanggungjawab, antara kebanggaan ruhani dan kearifan tradisi, serta antara keluhuran cita dan kepuasan prestatif; sesuatu yang selama ini sulit untuk kita sandingkan. Hingga kita bisa merasakan nikmatnya hidup merdeka, bebas bersuara, dan boleh berbeda, tanpa harus takut pada siapa pun, meski itu negara. Karena menurut Willy S. Rendra dalam syairnya; "Kebangsaan Indonesia adalah ciptaan rakyat Indonesia, bukan ciptaan Pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia tinggal mewarisi saja dari rakyat." Diakhir syairnya ia menulis; " ..... Itu dari rakyat, pemerintah jangan gede rasa dan mengira tanpa pemerintah tidak ada persatuan dan kesatuan. Justru pemerintah yang mengacaukan rasa berbangsa".

#natayuda, in the past

CAMKANLAH SAHABAT !!!

Rangkaian drama paling lucu dan paling tragis sekarang sedang berlangsung di panggung dunia. Global Village dengan segala ironinya terpampang dengan darah dan airmata. Di hadapan kita! Di depan hidung kita!

Parade kesedihan berbaris dari Suriah, Afghan, Afrika, Iraq, Pattani, Palestina, Thailand Selatan, hingga Indonesia. Dari darah yang mengalir karena peluru-peluru yang serakah minyak bumi, sampai busung lapar akibat kaum komprador yang berselingkuh dengan kapitalisme. Sementara itu terorisme menjadi alat para “maling” yang teriak maling.

Demokrasi, sebagaimana gereja dan komunis pada zaman kekuasaannya, dipaksakan dengan peluru dan doktrinasi ke seluruh dunia. Tak ketinggalan drama komedi NPT (Non Proliferation Treaty), drama yang sangat tidak lucu bagi Iran, tapi berkenan bagi India.

GLOBALISASI. Begitu mereka atau kita terpaksa menyebutnya. Kekuatan yang selama ini senantiasa mengaku sebagai satu-satunya sistem yang paling sempurna dan bisa membuat masyarakat dunia sejahtera. Pergolakan sosial dan keterpurukan ekonomi di Asia dan Amerika Latin yang terus berlangsung hingga kini; JUSTRU KETIKA DALAM KERJASAMA DENGAN WORD BANK, IMF dan SEKUTU GLOBALISASINYA!

Mayoritas negara-negara miskin tidak mampu bersaing dengan negara-negara kapitalis-neoliberalis dan terjebak pada utang luar negeri yang menggunung! Produk (barang dan jasa) globalisasi dengan begitu BEBAS masuk ke negeri ini, SEMENTARA produk-produk lokal buatan Pak Karto, Nengah Maharta, Teteh Juju, Uda Umar, dan para ummat proletar Indonesia TAK PERNAH MERDEKA, bahkan di negerinya sendiri!

INIKAH GLOBALISASI?! INIKAH KEUNGGULAN KOMPARATIF?!
DAPATKAH SEMUA INI DISEBUT PERSAINGAN YANG BEBAS?!

Mereka jelas-jelas membuat DIKOTOMI BARU di atas tulang-tulang yang berserakan dari Afrika hingga Papua!; justru dengan jargon menghilangkan dikotomi!

Ketika Amerika membawa senapan mesin, sementara negara miskin dengan ketapel! Ketika WEF hanya untuk kepentingan negara-negara kaya, sementara negara miskin dibuat semakin miskin! Menstimulasi [baca: menekan] negara komprador seperti Indonesia, menaikkan harga dan tarif agar sesuai harga pasar dunia, padahal mayoritas income masyarakat jauh di bawah penghasilan standar masyarakat dunia!

Camkanlah Sahabat…!!! Keserakahan yang selalu bergandengan tangan dengan ketidakadilan menantang kita kaum muda Muslim. No Compromise terhadap ketidakadilan yang berbuah penindasan, sebagaimana Rasulullah SAW dahulu, adalah wajib!!!

Billahi Hayaatuna Wallahu Fii Hayati 'I-Mustadz'afin



#natayuda, the last 

Mencari Indonesia dalam Banyak Versi



"Masa depan bangsa Indonesia (het volk van Indonesi) sepenuhnya tergantung pada susunan pemerintahan yang berdasarkan kedaulatan dalam arti yang sesungguhnya, karena hanya lembaga seperti itulah yang berkenan bagi rakyat. Untuk mencapainya setiap orang Indonesia harus berjuang sesuai dengan kemampuan dan bakatnya (vermogen en aanleg), dengan tenaga dan kekuatan sendiri (eigen kracth en eigen kunnen), tanpa bergantung pada bantuan asing. Setiap upaya memecah kekuatan bangsa Indonesia, dalam bentuk apapun jua, harus ditolak dengan tegas, karena hanya dengan pertalian kukuh antara putra-putri Indonesia itulah yang dapat mencapai tujuan-tujuan bersama."

Kalimat panjang ini merupakan asas, metode, dan tujuan perjuangan bangsa versi Bung Hatta yang disampaikannya pada Indonesische Vereeniging, 3 Maret 1923, yang kemudian diterbitkan dalam Hindia Poetra. Kedaulatan Rakyat, Kekuatan dan Kemampuan Sendiri, serta Persatuan, adalah tiga prinsip yang diyakininya akan sangat menentukan wajah masa depan bangsa Indonesia. Dan agaknya triumvirat prinsip itulah yang tidak pernah kita lihat sejak tiga dekade lalu, bahkan mungkin hingga empat tahun terakhir ini.

Menjelaskan dan mengilustrasikan wajah Indonesia berarti pula menjelaskan dua perspektif besar, yaitu; krisis yang kompleks sejak medio 1997 dan prognosis melinium ketiga yang kini masih menjulurkan guritanya. Dua perspektif besar itulah yang telah meluluh-lantakkan topeng (bisa juga wajah asli) Indonesia yang telah "dipoles" bertahun-tahun. Sejak itu, tidak satu pun citra - yang selama puluhan tahun ditonjolkan dan terlanjur diyakini - mampu bertahan. Tragisnya, kenyataan transformatif itu tidak cukup kuat menstimulasi perubahan yang signifikan. Dan masa-masa setelah itu membuat kita semua sulit memastikan apakah kita berhadapan dengan wajah asli atau topeng. Kita terjebak dalam kehidupan yang penuh dengan kontradiksi, inkonsistensi, serba paradoks dan ambivalensi. Dengan versi yang lain Parakitri T. Simbolon menyebut ambivalensi ini sebagai "keserba seolah-olahan", dan Indonesia adalah negeri serba "seolah-olah".

Indonesia membangun ekonomi dengan fundamental yang seolah-olah kuat; dengan politik yang seolah-olah stabil; dengan pemerintah yang seolah-olah bersih dan kompeten; dengan politikus yang seolah-olah negarawan; dengan tentara yang seolah-olah satria; dengan konglomerat-borjuis yang seolah-olah panglima industri; dengan kemewahan yang seolah-olah kaya-raya; dengan orang sekolahan yang seolah-olah cendikia; dengan ahli dan aparat hukum yang seolah-olah pendekar keadilan; dengan pengajar yang seolah-olah guru; dengan pelajar yang seolah-olah murid; dengan agamawan yang seolah-olah religius; dan dengan masyarakat pemarah yang seolah-olah ramah-taman. Segalanya tampak salah, ibarat berlian imitasi yang acap lebih kemilau dari pada berlian asli.

Ketika krisis tidak juga mendatangkan perubahan yang sepadan, kebanykan orang mengatakan karena para elit tidak memiliki sense of crisis. Kebangkitan Indonesia membutuhkan kerja keras; dan kerja keras sama sekali tidak identik dengan membuat banyak rapat kabinet zonder kesimpulan dan kerja. Disinilah salah satu persolannya. Sebagian besar entitas politik, sosial dan ekonomi kita telah banyak kehilangan kualitas kerja yang prestatif. Alih-alih - misalnya -- membuat interpretasi yang progesif dan cerdas atas prognosis milenium ketiga, sebagaimana yang disampaikan oleh Bill Gates dalam Time, 19 April 1999; bahwa jika masyakat dunia pada dekade 1980-an berhadapan dengan persoalan "quality", lalu di era 1990-an berhadapan dengan persoalan "re-engineering", maka di era 2000-an kita berhadapan dengan "velocity".

Sepertinya Bill Gates tidak salah kira. Indonesia paska krisis, bahkan setelah terjadi perubahan politik paska 1998, jangankan dapat menyiapkan diri menghadapi velocity, kala informasi, keputusan dan tindakan - yang menurutnya akan berlangsung "secepat pikiran bergerak" (at the speed of thought); dalam masalah mutu dan perombakan lembaga pun, tidak bisa banyak bicara. Dan untuk bisa memperpanjang nafas, Indonesia harus mampu dalam waktu singkat merapel dua permasalahan itu, yang mestinya sudah selesai dalam dua dekade lampau.

Tapi baiklah - tanpa berpretensi western centris - persoalan "mutu" dan "re-engineering" versi Bill Gates tentu dapat dimutasi dengan istilah lain yang lebih populer, misalnya kualitas tindakan, pembaharuan sistem (including individu dan kelompok), pembaruan kelembagaan, juga - terutama -- sumber daya manusia. Persoalan SDM, merupakan persolan klasik yang dihadapai Indonesia paska kolonialisme Barat dan Jepang - meski bagi sebagian kita, setelah itu, negara dan induk-semang kapitalisnya merupakan neo-imperialis atas masyarakat sipil. Terlepas apakah persolan SDM "seolah-olah" menjadi akar masalah atau wajah asli maslahnya, tapi bila berkaca pada bagaimana negara jiran melepaskan diri dari krisis, maka memperbaiki kualitas SDM menjadi salah satu pintu masuk yang terpenting. Karena mungkinkah mutu SDM kita bisa dikembangkan jika tidak terdapat perubahan struktur ekonomi, sosial dan politik yang sepadan ?

Kita tentu masih ingat bagaimana kebanggaan Orde Baru dengan mencantumkan istilah SDM sebagai "modal dasar dan faktor dominan" dalam terma pembangunannya, tiba-tiba tergerus ketika UNDP dalam Human Development Report-nya menempatkan Indonesia pada peringkat 98 dari 127 negara sedang berkembang, hampir setara dengan Vietnam yang berada di peringkat 99. Ditingkat ASEAN lebih parah lagi, Indonesia dilampaui oleh Filipina peringkat 84, Thailand 66, Malaysia 52, Brunei Darussalam 42 dan Singapura 37. Lalu Presiden Soeharto memerintahkan LIPI melakukan penelitian tandingan. Ironisnya hingga tumbang Orde Baru hasilnya tidak pernah diketahui.

Jika Orde Baru meningkatkan mutu dengan retorika, rezim Orde Lama justru rutin merombak lembaga-lembaga. Salah satu program "revolusi belum selesai" presiden Soekarno adalah "retooling aparatur negara". Namun dalam perkembangannya perombakan ini sulit dibedakan antara untuk meningkatkan mutu SDM, ataukah untuk memobilisasi kekuatan revolusioner. Bahwa kemudian keyakinan presiden Soekarno akan revolusi terus-menerus berbanding terbalik dengan peningkatan mutu SDM, bukan berarti ia tidak pernah mengakuinya. Dalam dua pidatonya pada perayaan kemerdekaan di tahun 1963 dalam Genta Suara Republik Indonesia, dan 1964 dalam Tahun "Vivere Pericoloso", ia mengingatkan: "....... Dan sejarah akan menulis: di sana, antara Benua Asia dan Benua Australia, antara Lautan Teduh dan Lautan Indonesia, adalah hidup suatu bangsa, yang mula-mula mencoba untuk hidup kembali sebagai suatu bangsa, akhirnya kembali menjadi satu kuli diantara bangsa-bangsa, -- kembali menjadi een natie van koelies, en een koelie onder de naties."

Bermutasi Menjadi Manusia Efektif

Hal yang terpenting selain mengeluh adalah menghimpun daya untuk keluar dari krisis. Dan untuk meraih kenikmatan sejati dimasa dating, kita harus keluar dari kenikmatan (semu) yang saat ini kita nikmati. Karena bila kita berlama-lama dengan kenikmatan (semu) dalam transisi, yang akan dating adalah rasa kenyaman. Dalam kenyaman yang tercipta itu, setiap orang akan kehilangan rasa solidaritas dan kepekaan krisis, dan tidak akan pernah mengerti apa yang sesungguhnya terjadi. Jadi sangat wajar jika saat ini terdapat segelintir orang “kaya-raya”, tanpa pernah peduli pada moyoritas yang miskin, dan juga tidak kunjung mengerti mengapa mereka terjebak dalam kehidupan miskin. Jangan-jangan hal ini pulalah yang menyebabkan kebanyakan orang-orang yang duduk di kursi kekuasaan tidak juga mengerti mengapa harus berhenti korupsi, walaupun negeri ini sudah benar-benar jongkok dan rapuh.

Itulah bahayanya, jika setiap kita telah dihinggapi rasa nikmat dan kemudahan, justru dalam krisis. “Kemudahan merugikan peradaban”, begitu kata sejarawan dan filosof Arnold J. Toynbee. Semua peradaban yang besar, berkembang di dalam alam kehidupan yang sukar, demikian argumennya. Energi manusia, kreatifitas, dan kemampuan untuk menemukan stuktur sosial dan politik akan menjadi lemah, jika tidak terdapat halangan untuk diatasi, jika tidak ada kesulitan alam yang harus ditaklukkan. Sebaliknya manusia justru menjadi kuat dan perkasa ketika dihadapkan pada rintangan-rintangan. Konsekuensinya, -- tulis Toynbee – rangsangan kepada peradaban tumbuh sebanding dengan permusuhan lingkungan seseorang.

Pandangan ini sebenarnya telah membenarkan ide-ide tradisional tentang masyarakat sibaritik (sybaritic societies) dan the downward slope of ease, bahwa semakin mudah kondisi yang dihadapi semakin rendah peradaban. Terdapat kebenaran di dalamnya. Peradaban-peradaban besar dan system-sistem politik yang sangat tinggi, tingkat pengorganisasiannya berkembang di bawah kondisi-kondisi yang tidak bersahabat. Imperium Amerika di Andes adalah contoh-contoh yang tepat dari fenomena ini. Sama dengan kontrasnya Boeotia, yang kaya secara material tapi hampir tidak berbudaya, versus imperium Yunani, yang relatif kering datarannya, tapi menjadi salah satu laboratorium yang mengagumkan bagi berbagai bentuk peradaban.

Kata akhirnya adalah, kita semua hari ini harus bermutasi menjadi manusia-manusia yang efektif (a effective human) dan membebaskan diri dari tekanan, tidak dengan terus bergantung pada kekuatan-kekuatan eksternal, melainkan dengan kemampuan dan bakat (vermogen en aanleg), dengan tenaga dan kekuatan sendiri (eigen kracth en eigen kunnen), kita masih kuasa melakukannya. Semoga.


#natayuda, coretan lawas, 2000 M silam

Revolusi Adalah Badai

Revolusi adalah perubahan, perubahan yang cepat. Seperti Badai memporak-porandakan semua yang dilaluinya. Menghancur-leburkan semua tatanan yang lemah. Menggilas siapapun yang mencoba menantang.

Revolusi seperti Badai. Tidak akan ada seorangpun menyadarinya (bagi yang tidak merencanakannya) kapan dia datang dan kapan akan berhenti. Tidak seorangpun mengetahui bagaimana mengantisipasinya. Tidak ada seorangpun yang dapat menghadangnya.
Revolusi adalah momok bagi yang mati hatinya. Kehancuran bagi pecinta dunia, petaka bagi pengumpul harta, nestapa untuk yang papa huda (miskin petunjuk).
Revolusi adalah kematian, pengorbanan dan darah. Pengujian tertinggi bagi loyalitas dan ketaatan. Tidak akan ada Revolusi kecuali harus ada korban karena penghambaan.
Revolusi adalah pemisah. Akan muncul jurang pemisah. Maka akan teranglah pemisah itu. Maka akan jelaslah perbedaan itu. Merobohkan yang samar dan keraguan. Memisahkan ikatan-ikatan dunia. Memisahkan Ideologi-ideologi. Memisahkan keyakinan-keyakinan.
Revolusi adalah Badai. Menghancurkan tatanan lama memunculkan tatanan baru. Seperti Badai setelah kehancuran dan kesedihan serta air mata juga darah, akan muncul keheningan dan damai. Bantuan dan kemudahan-kemudahan. Obat, Makanan, dan Kemudahan-kemudahan. Persaudaraan baru, Cinta yang baru dan iklas, rasa empati dan simpati, tawadhu dan sabar, euforia baru. Keadilan baru, karena sistem dan hukum yang baru. Perdamaian yang baru penuh rahmat dan martabat serta kemulyaan. Tatanan baru dengan paradigma baru.
Islam dibawa oleh kepercayaan Allah Muhammad bin Abdullah melalui sebuah gerakan. Gerakan Revolusi. Dari ketiadaan menjadi ada, berdiri tegak sebuah kemulyaan yang sempurna dengan karunia Allah. Memisahkan semua ikatan-ikatan dunia tetapi menyatukan diri dalam Buhul Allah (tali Allah yang sangat kuat). Dan Darah mengalir seperti sungai di surga Firdaus. Harum Kesturi.
Tegaknya Islam dibawa oleh Rosulullah dengan Revolusi. Karena perubahan bagi tatanan yang sudah membatu harus dihancurkan oleh badai. Karena sistem dan ideologi yang sudah mengakar hanya bisa tercerabut oleh badai. Dan Badai Revolusi Islam yang dipimpin oleh Rosulullah membuktikan hasil yang jauh lebih baik daripada gerakan evolusi pasif yang dibawa waraqah bin naufal. Dan Keadilan penuh rahmat akhirnya mampu membebaskan penindasan sistem Dzalim yang dinikmati rakyat ratusan tahun. Keadilan penuh rahmat mampu mengubur penderitaan.
Maka janganlah bermimpi Revolusi Budaya (jargon lain dari gerakan evolusi) mampu merubah tatanan Demokrasi Firaun (Amerika dan Negara Barat lainnya) yang bercokol di bumi Allah (termasuk Indonesia) saat ini. Maka janganlah pernah bermimpi tanpa jihad yang benar (sesuai dengan Qur'an, At Taubah : 111) akan berdiri tegak Negara Karunia Allah.
Cepat atau lambat Revolusi Islam akan terjadi di Indonesia, jika dan hanya jika para Mujahid istiqomah didalam Revolusi itu sendiri. Jika para Mujahid menghindarinya maka Allah akan menurunkan generasi baru untuk melaksanakannya (QS.9:39. Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat memberi kemudharatan kepada-Nya sedikitpun. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.) Dengan demikian maka secepatnya para Mujahid memposisikan kembali dalam shaf yang tersusun rapih. Menjadi Thoifah Mansuroh (membentuk kelompok penolong Agama Allah) dimanapun saat ini berpijak. Menghindarkan diri dari perpecahan yang melelahkan. Berlomba-lomba untuk menjadi Ansor untuk menyambut para Muhajirin (mempersiapkan daerahnya menjadi Dar al Islam). Dan ketika Takbir dikumandangkan, sambutlah dengan penuh antusias, datanglah ke arena dengan bendera apapun yang digenggam untuk bersatu mempertahankan daulah yang dibebaskan. Dan Darah.... setiap tetesan darah yang mengalir dari dirimu akan menjadi bernilai melebihi dunia dan seisinya. Karena Allah telah membelinya dengan janjinya (QS. 9:111. Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar. )
# JIHAD IS MY LIFE
*Sumber: Facebook Negara Islam Indonesia

Antara Imam dan Khalifah

Imam itu boleh banyak, yang tidak boleh banyak itu adalah Khalifah. Imam itu Kepala Negara, sedangkan Khalifah itu Kepala Persatuan Negara. Khilafah dan Imamah itu dua konteks yang berbeda. Khilafah dipimpin oleh Khalifah dan Imamah dipimpin oleh Imam.
Dalam sejarah Dinasti Islam, Khalifah itu berarti pemimpin yang menaungi beberapa kerajaan, sedangkan kepala negaranya disebut Malik atau biasa disebut Amir.
Dalam sejarah Dinasti barat, Raja Herodes adalah Pemimpin Kerajaan Yudea, Yudea sendiri adalah sebuah Kerajaan dibawah Kekaisaran Romawi yang menguasai banyak Kerajaan.
Dalam contohnya di Eropa hari ini, Inggris itu memiliki dua sebutan yaitu United Kingdom (Kerajaan Inggris) dan British Empire (Kekaisaran Inggris). Jika disebut United Kingdom itu berarti kekuasaannya hanya meliputi Britania Raya dan Irlandia Utara, sedangkan jika disebut British Empire, itu bukan hanya sebatas Britania Raya dan Irlandia Utara saja tetapi meliputi seluruh daerah jajahan Inggris, termasuk seperti India dan Kanada.
Dalam contoh negara modern yang berbentuk Republik (bukan Monarki), Amerika itu disebut United States (Federasi Amerika), sedangkan USA berikut yang menjadi negara jajahan bahkan pengaruh dibawah kekuasaan amerika disebut American Empire (Imperium Amerika).
Dalam perkembangan sejarah modern, bangsa barat yang menjadi pemenang perang hari ini telah membangun sebuah imperium dunia yang dikenal dengan United Nation atau yang kita kenal dengan PBB.
Khilafah itu Empire atau Imperium, sejarah imperium yang baru pernah diterapkan Islam itu baru bersifat Kekaisaran dalam Bentuk Pemerintahan Monarki, baik itu dimasa Nabi Sulaiman AS, maupun dimasa zaman Mulkan Addon dan Mulkan Jabariyah. Sedangkan Barat sudah mampu menerapkan dua konsep Imperium sekaligus, kejayaan Imperium Monarki (Kekaisaran) dimasa Romawi (Rome Empire) dan kejayaan Imperium Demokrasi disaat sekarang yaitu Amerika (American Empire), bahkan mampu berdampingan dan membangun kekuatan bersama dengan Kekaisaran Inggris (British Empire).
Islam belum pernah merasakan konsep Kekhalifahan atau mencapai puncak kejayaan Imperium dalam bentuk Demokrasi, usaha-usaha yang dilakukan oleh Khulauruf-Rasyidin baru bersifat pembebasan dan integrasi daerah jazirah arab agar daerah tersebut terlepas dari jajahan Romawi dan Persia, sembari melakukan pembenahan-pembenahan di internal Madinah, dan itupun hanya mampu bertahan sampai 30 tahun saja, selebihnya diambil alih kenikmatannya oleh para keturunan quraisy yang menjadi raja, umat Islam hanya mampu menikmati zaman imperium dalam tekanan-tekanan para raja tanpa mampu mencapai kemerdekaan yang hakiki, padahal konsep Madinah yang dibangun oleh Rasulullah SAW dan dilanjutkan oleh para Khulaufur-Rasyidin adalah merupakan sebuah konsep yang akan membawa wujud Kekhalifahan atau Imperium Islam dalam wujud Demokrasi Islam, bukan Imperium Kekaisaran berwujud Monarki.
"Madinah adalah lebih baik, jika kamu mengetahui ilmunya..."
Jadi intinya bahwa untuk mencapai Kekhalifahan sebagai wujud imperium dunia Islam, setiap daerah itu harus mampu membebaskan tanah jajahannya terlebih dahulu dari kekuasaan imperium yang ada, termasuk di Indonesia, bukan ploting dan debat-debat tidak jelas. Perwujudan Imamah itu juga bukan OTB yang hanya bereuphoria, tapi merupakan sebuah perjuangan Negara yang akan menghantarkan nantinya kepada zaman imperium Islam. itulah kesimpulan kenapa UIBI dengan semangat Pan Islamismenya (semangat keislaman dunia) akhirnya mengawali cita-cita itu dengan memproklamasikan Negara Islam Indonesia sebagai gerbang menuju Kekhalifahan Dunia.

*sumber: Anas Sinaga

Hilangnya Jilbab Cut Nyak Din dan Strategi VOC Belanda Jauhkan Orang Indonesia Dari Islam


Pemerintah Sekuler banyak sesatkan Sejarah Aceh untuk melemahkan Generasi.

*seorang penulis buku yang menemukan foto aslinya Cut Nyak Din dari negara penjajah adalah sosok muslimah yang menutup aurat.

Jahatnya skenario kaum penjajah terus ditanamkan kepada anak-anak bangsa Aceh, sehingga sejarahpun diplintirkan dan disuguhkan dengan bahasa yang manis, bahkan masuk menjadi memori yang tidak akan terlupakan, pelajaran sejarah di negeri kapitalis.


Dalam pelajaran sejarah, banyak pahlawan perempuan Aceh yang digambarkan bersanggul, seperti Cut Nyak Din, Cut Meutia, dan Panglima Laksamana Malahayati.

Aceh barangkali satu-satunya di dunia ini yang punya Angkatan Laut dipimpin perempuan, dan masih banyak lagi pahlawan-pahlawan perempuan aceh lainnya.


Saking alerginya pemerintah sekuler pada Islam yang benar, foto seorang muslimah yang menjaga kehormatannya dengan menutup auratnya sanggup mereka rubah menjadi gambar wanita yang terbuka auratnya, walaupun itu seorang wanita pahlawan nasional sekalipun.


Lihatlah foto asli ini dan lihatlah apa yang dilakukan sekuleris dengan gambar-gambar beliau di buku-buku pelajaran sejarah.


Disini terlihat jelas, dibawah sistem sekuler, negara bukannya melindungi dan memurnikan akidah umat, tapi justru jadi biang perusakan akidah umat.


Kita mengetahui juga bagaimana upaya VOC dan Belanda, untuk menekan kekuatan iman masyarakat Aceh. Mereka mengirim para misionaris, untuk mengusik keimanan masyarakat Aceh yang telah mengkristal dengan islamnya.


Di pemerintahan Orde Baru, yang memulai jalan sekulerisasi di seluruh bidang, menekan masyarakat untuk tidak membangkitkan nilai-nilai keislaman yang tinggi. Akibatnya, masyarakat Aceh sempat luntur keimanan mereka kepada Allah.


Namun, kekuatan iman yg begitu kristal itu tetap saja terus melahirkan hasil. Salah satunya, upaya Aceh untuk membumikan islam sebagai syariat manusia, telah diupayakan. Meskipun campur tangan sekuler tetap terlibat didalamnya.


Luar biasa...catat !!! Mereka muslimah yang taat !!!



emnb_81_5160982

*sumber: Facebook Seuramoe Mekkah