31 Oktober 2011

Kimia Assa’adah: KIMIA KEBAHAGIAAN

Imam al-Ghazali
Rahasia Potensi Diri untuk Menembus Dimensi Ma’rifat Ketuhanan


Pembukaan

Bismillahirrahmanirrahim
Segala puja puji kepada Allah Swt yang telah mengangkat jiwa orang-orang yang suci dengan mujahadah[1], yang telah membahagiakan hati para wali dengan musyahadah[2], yang telah menghiasi lisan orang-orang mukmin dengan zikir, yang telah mengagungkan bisikan hati orang-orang Arif (berpengetahuan pada Allah) dengan berfikir, yang telah menjaga khalayak hamba dari kerusakan, yang telah menahan segala kesulitan dari para ahli zuhud, yang telah menghindarkan orang-orang yang bertaqwa dari bayang-bayang syahwat, yang telah mensucikan ruh orang-orang yakin dari gelapnya keraguan, yang telah menerima semua amal perbuatan para manusia terpilih melalui do’a-do’a dan yang telah menguatkan tali kaum merdeka dengan ikatan yang kokoh.

Aku memuji-Nya dengan pujian mereka yang telah melihat tanda-tanda kekuasaan dan kekuatan-Nya, yang telah menyaksikan ke-Mahatunggalan dan wahdaniyah-Nya, yang telah mengetuk pintu-pintu rahasia-Nya dan kemuliaan-Nya, yang telah memetik buah dari sujud dan ketaatan-Nya. Aku mensyukuri-Nya dengan syukur mereka yang telah terbakar dan hanyut dalam aliran sungai kemuliaan dan pemuliaan-Nya.

Aku mengimani-Nya dengan iman mereka yang telah mengakui kitab-kitab-Nya, perintah-Nya, para nabi-Nya, para wali-Nya, janji-janji-Nya, ancaman-Nya, pahala dan azab-Nya. Aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah Yang Maha Tunggal dan tak memiliki sekutu. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, yang diutus untuk menghancurkan mata rantai kefasikan dan kerusakan moral, diutus untuk memporakprandakan golongan pembangkang, diutus untuk memaksa orang-orang musyrik dan peragu, diutus untuk menolong para pengikut kebenaran dan kebaikan. Maka semoga keselamatan senantiasa Allah anugerahkan kepadanya dan para sahabatnya.

Tanda-tanda Pengetahuan tentang Diri

Ketahuilah ! bahwa pengetahuan tentang kimia kebahagiaan[3] yang bersifat dhohir tidak ada dalam perbendaharaan ilmu kaum awam kebanyakan, akan tetapi tersimpan dalam gudang ilmu para raja, demikian juga dengan kebahagiaan. Ia hanya ada dalam gudang rahmat Allah Swt. Di langit sana tersimpan esensi (jawhar) para malaikat, dan di bumi tersimpan di hati para wali yang Arifbillah. Dan setiap orang yang mencari ini tanpa bersandar hadrat kenabian[4], maka ia telah salah jalan dan semua daya upayanya tak lebih seperti uang dinar palsu. Ia kira dirinya kaya raya, tapi sebenarnya miskin di hari kiamat sebagaimana ditegaskan Allah Swt:

“Maka Kami singkapkan daripadamu tutup yang menutupi matamu, maka penglihatanmu pada hari itu amat tajam.” (Q.S. Qaf [50]: 22).

Dari sekian rahmat Allah pada hamba-Nya, Dia telah mengutus seratus dua puluh empat ribu nabi untuk mengajarkan seluruh manusia tentang naskah kimia ini, mengajarkan mereka bagaimana menjadikan hati sebagai tempaan mujahadah[5], mengajarkan bagaimana membersihkan hati dari budi pekerti yang buruk dan mengajarkan bagaimana mengendalikanya untuk menyusuri lorong-lorong kesucian, seperti dijelaskan Allah Swt:

“Dialah yang mengutus pada kaum yang buta huruf seorang rasul diantara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan kitab dan hikmah.” (Q.S. al-Jum’ah [62]: 2).

Yaitu mensucikan mereka dari akhlak yang buruk dan sifat-sifat kebinatangan serta menjadikan sifat-sifat malaikat sebagai baju dan hiasan mereka. Adapun maksud dari Kimia ini adalah bahwa semua yang berhubungan dengan sifat-sifat negatif maka wajib menanggalkannya, dan semua yang berhubungan dengan sifat-sifat kesempurnaa maka wajib mengenakannya. Satu-satunya rahasia keberhasilan KIMIA KEBAHAGIAAN ini adalah kembali mundur dari keduniawian seperti ditegaskan oleh Allah Swt:

“Dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (Q.S. al-Muzammil [73]:

8). Dan keutamaan ini sangat banyak dan luas.


Pasal Mengenai Pengetahuan Diri Pribadi

Ketahuilah ! bahwa kunci mengetahui Allah (ma’rifah Allah) adalah mengetahui diri sendiri. Seperti firman-Nya:“Kami akan memperlihatkan pada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami atas segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an adalah benar.” (Q.S. Fussilat [41]: 52).

Demikian pula sabda Nabi Saw: “Siapa saja yang tahu akan dirinya, maka ia telah mengetahui Tuhannya.”

Tidak ada sesuatupun paling dekat denganmu kecuali dirimu sendiri. Maka jika kamu tidak mengetahui dirimu, bagaimana mungkin kamu bisa mengetahui Tuhanmu?

Jika kamu katakan bahwa aku telah mengetahui diriku, yang kamu tahu sebenarnya adalah diri bagian jasmani (anggota badan) yang terdiri dari tangan, kaki, kepala dan lainnya. Kamu tidak mengetahui apa yang tersimpan dalam batinmu, yang bila sedang marah, ia mendorongmu untuk bertengkar. Jika sedang bernafsu, ia mengajakmu kawin. Jika sedang lapar, ia memintamu makan, jika sedang haus, ia menuntutmu minum, dan hewan sangat mirip denganmu dalam hal ini. Maka itu, yang wajib Anda lakukan adalah mengenalkan hakikat pada dirimu hingga Anda tahu apa sebenarnya dirimu, dari mana kamu datang hingga sampai di tempat ini, untuk tujuan apa kamu diciptakan, dengan apa kamu bisa meraih kebahagiaan dan dengan apa kamu mendapatkan kepuasan.

Dalam jiwamu terkumpul berbagai macam sifat, diantaranya sifat-sifat binatang jinak, binatang buas, pun demikian sifat-sifat malaikat. Maka ruh adalah hakikat jauharmu yang paling esensial, lainnya adalah unsur asing dan kosong telanjang. Maka yang wajib kamu lakukan adalah mengetahui hal ini. Bahwa bagi sifat-sifat itu ada ransom makanannya dan kebahagiannya. Kebahagiaan binatang jinak terletak pada makan, minum, tidur dan kawin, maka jika kamu merasa bagian dari mereka, kenyangkan perutmu dan puaskan kelaminmu. Kebahagiaan akan dirasakan binatang buas ketika mampu menyerang dan melumpuhkan mangsa, kebahagiaan setan terletak pada makar, kejahatan dan tipuan, maka jika kalian merasa bagian dari mereka, berbuatlah seperti yang mereka perbuat.

Kebahagiaan para malaikat, ketika mereka hadir mengalami indahnya hadrat kesakralan Tuhan, bagi mereka tak ada jalan sedikitpun untuk amarah dan syahwat. Jika Anda merasa bagian dari jauhar hakikat malaikat, berjuanglah mengenal asalmu sampai Anda tahu jalan menuju Hadrat Ilahiah(hadirnya kesakralan Tuhan), sampai Anda bisa menyaksikan Jalal-Nya(keagungan) dan Jamal-Nya(keindahan), sampai Anda mampu menjernihkan dirimu dari belenggu amarah dan syahwat, sampai Anda tahu untuk apa sifat-sifat ini menjadi bagian darimu. Allah Swt tidak menciptakan semua sifat itu agar mereka menawanmu, tapi Ia menciptakannya agar mereka menjadi tawananmu, agar bisa mendorongmu berjalan, yaitu kedua kakimu dan agar salah satunya bisa Anda jadikan tunggangan sedangkan lainnya sebagai senjata hingga Anda mencapai kebahagiaan. Jika Anda telah sampai pada tujuanmu, maka tekanlah ia di bawah kedua kakimu dan kembalilah ke tempat kebahagiaanmu. Tempat itu adalah rumah bagi para khawas (orang-orang khusus) yang menyaksikan Hadirat Ilahi (al-Hadrah al-Ilahiyyah), sedang rumah-rumah para awam adalah tingkatan-tingkatan dalam syurga. Anda sangat memerlukan dan mengerti makna-makna ini untuk bisa mengetahui sedikit saja tentang dirimu. Dan barangsiapa yang tidak memahami pada makna-makna ini, maka ia hanya mendapat bagian kepingan-kepingannya saja, karena hakikat yang sebenarnya terhijab (tertutup) baginya. Ed:1

Pasal Mengenai Hati, Jiwa dan Ruh

Jika Anda berkemauan mengetahui dirimu, maka ketahuilah ! bahwa Anda sebenarnya terdiri dari dua hal :

Pertama, hati, dan Kedua yang disebut jiwa atau ruh. Jiwa atau ruh adalah hati yang biasa Anda sebut sebagai mata hati. Hakikatmu adalah yang batin, karena jasad yang tampak pertama sebenarnya merupakan yang terakhir, dan jiwa yang Anda sangka sebagai terakhir sebenarnya yang pertama, atau disebut hati.

Hati bukanlah sepotong daging yang terletak di dada sebelah kiri, karena itu hanya berlaku bagi binatang dan jasad mati. Segala sesuatu yang Anda lihat dengan mata dhohir adalah alam ini atau yang disebut alam syhadah. Sedangkan hakikat hati bukanlah bagian alam ini, tapi alam ghaib, dan hati dialam ini adalah hal asing. Potongan daging itu hanyalah wadahnya, semua anggota tubuh jasmanii adalah bala tentaranya, sedang ia adalah rajanya. Ma’rifah Allah (mengetahui Allah) dan musyahadah (menyaksikan) keindahan hadir-Nya adalah sifat-sifat hati, beban baginya dan perintah untuknya. Dari situ ia mendapatkan pahala dan siksa, kebahagiaan dan kepuasan mengikutinya, demikian ruh hewani pun senantiasa mengintainya dan selalu membuntutinya.

Mengetahui hakikat hati dan memahami sifat-sifat hati adalah kunci Ma’rifatullah (mengetahui Allah Swt). Maka Anda harus berjuang keras untuk mengetahuinya, karena ia adalah jauhar aziz (esensi mulia) bagian dari Jauhar Malaikat (esensi para malaikat) yang bahan dasarnya berasal dari Hadirat Ilahi, dari tempat itu ia datang dan ke tempat yang sama ia kembali. Ed2

Pasal Mengenai Hakikat Hati dan Ruh

Adapun pertanyaanmu apa hakikat hati, syari’ah tidak menjelaskannya secara panjang lebar kecuali dalam satu ayat:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh, katakanlah: “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku.” (Q.S. al-Isra [17]: 85).

Karena ruh merupakan bagian dari kekuasaan ilahiah, yaitu dari ‘alam al-amr (kuasa perintah Tuhan) Allah Swt berfirman:

“Ingatlah, yang menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah.” (Q.S. al-A’raf [7]: 54).

Dengan demikian, pada satu sisi manusia merupakan bagian dari ‘alam al-khalq (alam ciptaan) dan pada sisi lain bagian dari ‘alam al-amr. Segala sesuatu yang bisa dikenai ukuran panjang lebar, kadar dan mekanisme adalah termasuk ‘alam al-khalq[6], namun hati tak memiliki ukuran panjang lebar dan ukuran tertentu. Oleh karena itu, ia tak menerima pembagian. Jika bisa dibagi, maka ia termasuk ‘alam al-khalq. Contohnya, dari sisi sifat bodoh, maka ia pun menjadi bodoh dan dari sisi sifat pintar, ia pun menjadi pintar. Namun segala sesuatu yang terdiri dari sifat bodoh dan pintar pada saat yang sama adalah mustahil. Dengan kata lain, ia bagian dari ‘alam al-amr, karena dalam ‘alam al-amr tidak berlaku ukuran panjang lebar dan ukuran tertentu.

Sebagian dari mereka mengira bahwa ruh bersifat qadim (awal), maka mereka telah salah. Sebagian lain berpendapat ruh adalah ‘ard (sifat), maka mereka pun salah, karena sifat tak pernah berdiri sendiri, tapi mengikuti yang lain.

Maka, ruh adalah asal anak Adam, dan hati adalah tempat tumbuhnya mereka. Jadi, bagaimana mungkin dia adalah sifat! Sebagian golongan mengatakan ruh adalah badan jamani, mereka juga salah, karena badan jasmani menerima pembagian.

Dan ruh yang sejak tadi kita sebut hati adalah media untuk mengetahui Allah. Oleh karena itu, ia bukan merupakan badan, juga bukan sifat, melainkan unsur esensi malaikat.

Mengetahui tentang ruh sangatlah sulit [7], karena agama tak memberi jalan sedikit pun. Dan agama tak memerlukan untuk mengetahuinya, sebab agama esensinya adalah kesungguhan (mujahadah), sedang ma’rifah (mengetahui) adalah tanda hidayah, sebagaimana firman-Nya:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” (Q.S. al-Ankabut [29]: 69).

Dan barangsiapa yang tidak bersungguh-sungguh, ia tidak boleh membahasnya atau mencari hakikat ruh. Dasar utama dari mujahadah adalah mengetahui tentara hati, karena manusia jika tidak mengetahui seluk beluk kemiliteran, ia tidak dibenarkan untuk berjihad. Ed3

Pasal Mengenai Jiwa Sebagai Kendaraan Hati

Ketahuilah ! bahwa jiwa adalah kendaraan hati, hati memiliki bala tentara, seperti dijelaskan Allah Swt:

“Dan tak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu kecuali Dia sendiri.” (Q.S. al-Mudatstsir [74]: 31).

Hati diciptakan untuk pekerjaan alam akhirat, agar mendapatkan kebahagiaannya. Kebahagiaan hati adalah dengan mengetahui Tuhannya. Mengetahui Tuhannya bisa didapatkan melalui ciptaan Allah swt dari berbagai ‘alam-Nya. Keajaiban alam tak mungkin terlihat kecuali melalui panca indera, dan panca indera berasal dari hati yang mengambil jiwa sebagai sarananya. Kemudian dilanjutkan dengan mengetahui tehnis kerjanya dan jaringannya. Jiwa tak berfungsi kecuali dengan makan, minum, suhu panas dan kelembapan tertentu. Ia lemah saat dihampiri bahaya dari dalam, yaitu lapar dan haus, demikian juga saat melawan bahaya luar, seperti air dan api. Ia menghadapi banyak musuh. Ed4

Pasal Mengenai Syahwat dan Amarah

Anda juga perlu mengetahui adanya dua macam bala tentara, yaitu bala tentara bagian luar(dhohir) yang terdiri dari syahwat dan amarah, berikut tempat-tempatnya pada kedua tangan,kedua kaki, kedua mata, kedua telinga dan semua anggota badan. Sedangkan tentara bagian dalam terletak dalam otak kepala, yaitu daya khayal, daya pikir, daya hafal, ingatan dan bingung. Setiap kekuatan ini memiliki fungsi khusus, jika salah satunya lemah, maka kondisi manusia pun akan lemah dalam dua alam (dunia-akhirat). Satu bagian yang mencakup dua hal ini adalah hati dan ia adalah pemimpinnya. Jika hati menyuruh lidah menyebutkan sesuatu, maka ia akan menyebutkannya. Jika memerintahkan tangan untuk menyerang, maka ia akan menyerang. Jika menyuruh kaki untuk melangkah, maka ia pun akan melangkah. Demikian pula panca indera, hingga bisa menjaga diri agar tetap bisa menyimpan pahala untuk di akhirat, berfungsi secara baik, menyeselesaikan kontrak kerja dan menghimpun butiran-butiran kebahagiaan. Dan mereka semua tunduk dan patuh kepada perintah hati sebagaimana para malaikat yang tunduk dan patuh pada perintah Tuhannya dan tidak berani menentang perintahnya. Ed5

Pasal Mengenai Hati dan Bala Tentaranya

Ketahuilah !, seperti dikatakan dalam pepatah terkenal; jiwa diibaratkan sebuah kota, kedua tangan, kaki dan seluruh anggota tubuh sebagai lahannya, kekuatan syahwat sebagai walikotanya, amarah sebagai kendaraanya, hati sebagai rajanya dan akal sebagai perdana menterinya. Raja bertugas mengatur segenap aparatur agar kondisi kerajaan tetap stabil, karena sang walikota atau syahwat adalah pembohong, acuh tak acuh dan ambisius. Demikian pula kendaraan yaitu amarah teramat jahat, pembunuh dan perusak. Jika sejenak saja sang raja meninggalkan mereka dalam keadaan aslinya, mereka akan menguasai kota dan merusaknya. Maka sang raja wajib berkonsultasi pada sang menteri dan menjadikan sang wali dan bagian transportasi dibawah pengawasan sang menteri. Jika ia melakukan hal itu, maka kondisi kerajaan akan tetap stabil, dan kota akan makmur. Demikian juga hati juga bermusyawarah pada akal untuk menjadikan syahwat dan amarah di bawah kekuasaannya sampai kondisi jiwa menjadi stabil dan bisa mengantarkan pada sebab-sebab kebahagiaan, yaitu mengetahui Hadirat Ilahi ( Ma’rifat alhadrat al-ilahiyah).

Seandainya akal dalam kondisi di bawah kekuasaan amarah dan syahwat, maka jiwanya akan rusak dan hatinya tidak akan bahagia di akhirat kelak. Ed 6

Pasal Mengenai Amarah dan Syahwat Pembantu Jiwa

Ketahuilah ! bahwa syahwat dan amarah pembantu jiwa. Keduanya senantiasa menarik-nariknya, terus mempertahankan urusan makan, minum dan kawin sebagai media indera. Kemudian jiwa mempekerjakan indera sebagai jaringan akal dan mata-matanya, yang dengannya ia mampu menyaksikan kehadiran Allah Swt. Kemudian indera juga mempekerjakan akal, yaitu hati sebagai lentera dan lampu yang melalui cahayanya ia bisa melihat Hadrat Ilahiah . Dengan demikian, kenikmatan perut dan kemaluannya menjadi terhinakan. Kemudian akal juga memfungsikan hati, sebab hati diciptakan untuk memandang keindahan Hadrat Ilahiah. Barang siapa yang berdaya upaya dalam fungsi ini, maka ia adalah hamba yang sebenarnya, yang terlahir dari al-hadrah al-ilahiyah, sebagaimana firman-Nya:

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Q.S. az-Zariyat [61]: 56).

Artinya, bahwa Kami telah menciptakan hati, memberinya kerajaan dan memberinya pasukan tentara. Kami juga telah menjadikan jiwa sebagai kendaraannya hingga ia bisa berjalan dari alam ke-Tanah-an ke alam atas yaitu ‘Illiyin.

Maka jika berkeinginan melaksanakan hak anugerah kenikmatan ini, duduklah dalam kerajaannya, jadikan Hadrat al-Ilahiah sebagai kiblat dan tujuannya, jadikan akhirat sebagai tanah air dan akhir keputusannya, jadikan jiwa sebagai kendaraannya, dunia sebagai rumahnya, kedua tangan dan kaki sebagai pembantunya, akal sebagai menterinya, syahwat sebagai karyawannya, amarah sebagai angkutannya dan indera sebagai mata-matanya.

Masing-masing bagian itu adalah cerminan dari setiap alam yang menghimpun semua keadaan mengenai keadaan alam-alam lainnya. Daya khayal di bagian permukaan otak seperti seorang komandan yang bertugas menghimpun semua informasi para mata-mata. Daya hafal pada bagian tengah otak bagaikan pemilik peta yang bertugas menghimpun penggalan-penggalan dari tangan sang komandan yang kemudian disampaikan kepada akal. Jika informasi-informasi ini sampai pada sang menteri, maka ia akan melihat keadaan kota yang sebenarnya.

Jika Anda melihat salah satu dari mereka melanggar, seperti syahwat dan amarah, maka Anda harus berusaha keras( bermujahadah) menaklukanya. Tidaklah mujahadah ini untuk membunuh syahwat dan amarah, sebab kerajaan tak akan bertahan tanpa keduanya. Jika Anda melakukannya, maka Anda adalah orang yang berbahagia, yang telah melaksanakan urusan yang hak untuk dilakukan yaitu anugerah nikmat, wajib bagimu menghadiahkan sesuatu pada saatnya, jika tidak, maka Anda tidak akan bahagia, dikenai siksa dan diwajibkan bertaubat. ed

Pasal Mengenai Tiga Formasi Kebahagiaan

Kebahagiaan sempurna dibangun di atas tiga hal, kekuatan amarah, kekuatan syahwat dan kekuatan ilmu[8]. Tiga hal ini harus diseimbangkan agar kekuatan syahwat tidak muncul menguasai yang justru akan merusak anda. Demikian juga kekuatan amarah agar tidak menguasai dan membodohi, yang akan merusak dan mengahncurkan anda. Jika kedua kekuatan tersebut seimbang dengan adanya kekuatan keadilan dan keseimbangan, maka keduanya akan menuju pada jalan hidayah. Jika amarah semakin menguat, maka akan mudah pada terjadinya penyerangan dan pembunuhan, sebaliknya jika amarah melemah, maka kewaspadaan, ketentraman dalam agama dan dunia akan hilang. Namun jika diseimbangkan, yang akan muncul adalah kesabaran, keberanian dan kebijaksanaan.

Syahwat-pun demikian, jika semakin mendominasi, maka akan muncul adalah kejelekan dan kejahatan, sebaliknya jika syahwat melemah , maka akan menyebabkan kelemahan dan ketidakgairahan. Namun jika terkendali seimbang, yang ada adalah kesucian (‘iffah), kepuasan (qana’ah) dan sifat-sifat sejenis lainnya. Ed

Pasal Mengenai Hati; Prilaku Jeleknya dan Bagusnya

Ketahuilah ! bahwa hati dan bala tentaranya memiliki keadaan dan sifat-sifat yang sebagian disebut dengan budi pekerti buruk dan sebagian lain disebut budi pekerti terpuji. Budi pekerti terpuji akan mengantarkan pada kebahagiaan, dan akhlak buruk mengantarkan pada kehancuran dan siksa.

Semua ini terdiri dari empat jenis budi pekerti( akhlak). Yaitu: akhlak setan, akhlak binatang jinak, akhlak binatang buas dan akhlak malaikat. Perilaku jelek, yaitu makan, minum, tidur dan kawin adalah akhlak binatang jinak. Tingkah laku amarah pemukulan, pembunuhan dan pertikaian adalah akhlak binatang buas. Prilaku-prilaku jiwa seperti makar, penipuan, kecurangan dan hal lain sejenis adalah akhlak setan. Terakhir, kegiatan berfikir yang menghasilkan rahmat, ilmu dan kebaikan adalah akhlak malaikat. ed

Pasal Mengenai Empat Hakikat dalam Kulit Manusia

Ketahuilah ! bahwa dalam kulit anak adam(manusia) terdapat empat hal, anjing, babi, setan dan malaikat. Anjing tercela dari segi sifatnya dan bukan dari bentuknya. Begitupun setan dan malaikat, hal-hal tercela dan keterpujianya[9] hanya pada sifat-sifatnya dan bukan pada bentuk atau prilakunya. Babi pun demikian, tercela dalam sifat-sifatnya bukan pada bentuk dan tingkah lakunya.

Karenanya manusia diperintahkan untuk menyingkap gelapnya kebodohan dengan cahaya akal, agar terhindar dari segala macam fitnah. Seperti ditegaskan Rasul Saw:

“Tak seorangpun (dari manusia) kecuali memiliki setan, aku juga memiliki setan. Sungguh Allah telah menjagaku dari setanku hingga aku bisa menguasainya.”[10]

Demikian syahwat dan amarah seharusnya berada dibawah kendali akal, keduanya hanya boleh berbuat bergerak melakukan sesuatu dengan kendali akal. Maka jika seseorang berbuat demikian, ia benarlah baginya disebut berakhlak terpuji yaitu; sifat malaikat dan merupakan benih kebahagiaan. Jika melakukan kebalikannya, maka ia disebut berakhlak tercela yaitu sifat-sifat setan dan merupakan benih dari siksa.Dalam tidur ia akan melihat dirinya seakan berdiri terpasung menjadi budak anjing dan babi. Orang ini seperti lelaki muslim yang membawa beberapa muslim lainnya dan menahan mereka di penjara orang-orang kafir.

Bagaimana keadanmu jika nanti pada hari kiamat sang raja, yaitu akal, menahanmu dibawah kekuasaan syahwat dan amarah, yaitu anjing dan babi? ed

Pasal Mengenai Empat Kondisi Manusia Pada Hari Kiamat

Ketahuilah ! bahwa manusia saat ini dalam bentuk anak Adam, esok saat makna-makna itu tersingkap, mereka pun keluar dalam bentuk menyesuaikan dengan makna masing-masing. Mereka yang dominan amarahnya, maka akan berdiri dalam bentuk anjing. Mereka yang dominan nafsunya, maka akan berdiri dalam bentuk babi, sebab bagaimanapun bentuk selalu mengikuti makna-makna. Seorang yang tertidur akan melihat semua yang ada dalam jiwanya.

Demikian pula karena isi jiwa manusia teridentifikasi dalam empat hal di atas, maka ia harus mengintai setiap gerak-geriknya, diamnya dan mengenali diri termasuk bagian mana dari yang empat. Sifat-sifat itu ada dalam hati dan terus bertahan hingga hari kiamat, dan jika masih tersisa secuil kebaikan, maka itu adalah benih kebahagiaan. Sebaliknya jika yang tersisa adalah secuil kejelekan, maka ia pun merupakan benih dari siksa. Manusia tak akan pernah berhenti bergerak dan diam, hatinya bagaikan kaca, akhlak tercela bagaikan asap dan kegelapan, jika menyentuhnya, maka seketika ia menggelapkan jalan menuju kebahagiaan. Akhlak terpuji bagaikan cahaya dan pancarannya, jika sampai pada hati, maka ia akan membersihkannya dari gelapnya kemaksiatan. Seperti sabda Rasul Saw:

“Ikutkanlah pada perbuatan jelek itu perbuatan baik yang akan menghapusnya.”[11]

Dan hati bisa jadi terang dan gelap, semua tak akan lolos kecuali mereka yang mendatangi Allah dengan hati yang pasrah.

Pasal Mengenai Kelebihan Manusia Atas Binatang

Ketahuilah ! bahwa nafsu dan amarah yang ada bersama binatang juga terdapat pada anak Adam. Akan tetapi manusia diberi tambahan lain[12]sebagai bekal untuk memperoleh kemuliaan dan kesempurnaan. Dengan hal tersebut, ia bisa mengetahui Allah dan keindahan ciptaan-Nya. Dan dengan hal tersebut manusia bisa menyelamatkan dirinya dari kekuasaan nafsu dan amarah serta meraih sifat-sifat malaikat. Dengan demikian, manusia diberi sifat-sifat binatang jinak dan buas, yang semuanya ditundukka Allah untuk manusia. Hal ini sebagaimana yang difirmankan Allah:

“Dia telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan yang ada di bumi semuanya.” (Q.S. al-Jasiyah [45]: 13).

Pasal Mengenai Keajaiban Hati dan Dua Pintu Hati

Ketahuilah ! bahwa hati memiliki dua pintu ilmu, satu untuk mimpi-mimpi dan lainnya untuk ilmu sadar, yaitu pintu untuk ilmu realita (zahir). Saat manusia tertidur, pintu-pintu indera tertutup, dibukakanlah pintu bathin dan disingkapkan realitas alam ghaib dari alam malakut dan Lauh Mahfudz seperti cahaya yang terang benderang. Untuk menyingkapnya dibutuhkan semacam tafsir mimpi. Sedang ilmu yang dihasilkan dari realita (zahir) dikira oleh manusia akan memunculkan kesadaran diri, dan bahwa keadaan sadar lebih utama, meskipun sebenarnya ia tidak bisa melihat sesuatupun dari alam ghaib. Bagaimana pun sesuatu yang terlihat antara keadaan sadar dan tidur tetap lebih utama sebagai pengetahuan daripada apa yang terlihat melalui indera.

Pasal Mengenai Cermin Hati

Disamping itu, Andapun mesti tahu bahwa hati seperti cermin, Lauh Mahfudz pun demikian. Karena di dalamnya terdapat gambaran dari semua realitas (mawjudat). Jika Anda hadapkan cermin satu dengan lainnya, maka masing-masing gambar pada setiap cermin akan saling menghiasi yang lainnya. Demikian pula semua gambar (suwar) pada Lauh Mahfudz akan tampak dalam hati jika ia telah suci dari nafsu dunia. Jika masih disibukkan dengannya, maka alam malakut akan tetap tertutup. Jika pada saat tidur manusia tak terhubungkan dengan obyek indera, maka ia akan menyaksikan esensi (jawhar) alam malakut dan akan terlihat sebagian gambar yang ada pada Lauh Mahfudz. Jika manusia menutup pintu indera hanya sekedarnya, maka ia hanya memasuki dunia khayal.

Karena itu, ia melihat sesuatu yang masih tertutupi pada bagian luarnya dan bukanlah hakikat murni yang tersingkapkan. Jika hati telah mati bersama si pemiliknya, maka pada saat itu tidak ada yang namanya khayal, dan tidak juga indera. Oleh karena itu, pada saat tersebut hati mampu melihat dengan tanpa keraguan ataupun khayalan. Dan ketika itu, diucapkan padanya:

“Maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.” (Q.S. Qaf [50]: 22).

Pasal Mengenai Hati, Ilham dan Alam Malakut

Ketahuilah! bahwa tak seorangpun dari anak Adam kecuali hatinya telah dimasuki sentuhan-sentuhan suci melalui jalan ilham, dan hal itu tidak masuk melalui indera, akan tetapi masuk dalam hati tanpa tahu dari mana asalnya, sebab hati termasuk alam malakut, dan indera tercipta untuk alam ini, yaitu alam al-mulk (alam kuasa). Karenanya ia menjadi penghalang jiwa dari menyaksikan alam malakut manakala tidak tersucikan dari aktifitas indera.

Pasal Mengenai di Balik Keterbukaan Hati

Jangan Anda kira kelembutan ini hanya terbuka pada saat tidur dan mati saja, tapi ia pun terbuka saat sadar bagi mereka yang ikhlas berjihad, ikhlas melakukan riyadah (latihan) dan menyelamatkan diri dari kekuasaan nafsu, amarah, akhlak tercela dan perbuatan buruk. Jika ia duduk di tempat sepi dan mengosongkan dirinya dari dari aktifitas indera, kemudian membuka mata hati dan pendengarannya, menjalankan fungsi hatinya sebagai bagian dari alam malakut, terus menerus menyebut kalimat Allah, Allah, Allah, dengan hatinya dan dengan tidak dengan lidahnya sampai ia tak mendapatkan informasi dari dirinya dan alam sekitarnya sedikitpun, dan yang ia lihat hanyalah Allah[13], maka kekuatan itu akan terbuka, apa yang ia lihat disaat tidur, ia bisa lakukan pada saat sadar, yang tampak adalah ruh para malaikat dan para nabi, gambar-gambar bagus yang indah dan mulia, saat itu tersingkaplah kerajaan langit dan bumi. Ia bisa lihat semua yang tak bisa dijelaskan dan tak bisa digambarkan, sebagaimana sabda Rasul Saw:
“Dibentangkan padaku bumi, seketika kulihat ujung barat dan timur.”[14]

Allah Swt menjelaskan:

“Dan demikianlah Kami perlihatkan pada Ibrahim tanda-tanda keagungan Kami (yang terdapat) di langit dan bumi.” (Q.S. al-An’am [6]: 75).

Karena semua ilmu para nabi melalui jalan ini dan bukan melalui jalan indera, seperti ditegaskan Allah Swt:

“Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan.” (Q.S. al-Muzammil [73]: 8).

Artinya terputus dari segala sesuatu, penyucian diri dari segalanya dan terus memohon kesempurnaan pada-Nya, ini adalah jalan (tariq) kaum sufi zaman ini. Sedang cara pengajaran, adalah jalan (tariq) para ulama. Semua ini dirangkum dari jalan kenabian. Begitu juga ilmu para auliya’, sebab ilmu itu tertanam dalam hati mereka tanpa melalui perantara, yaitu dari Hadirat Ilahi sebagaimana firman-Nya:

“Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya di antara ilmu-ilmu dari sisi Kami.” (Q.S. al-Kahfi [18]: 65).

Jalan ini tidak akan dipahami tanpa melalui latihan, dan jika tak dihasilkan dengan rasa, maka ia pun tak bisa dihasilkan melalui pengajaran[15]. Yang seharusnya dilakukan adalah mempercayainya hingga kita bisa mendapatkan kebahagiaan mereka, dan ini adalah sebagian keajaiban hati. Siapa yang tak melihat, ia tidak akan mempercayainya, seperti firman-Nya:

“Yang sebenarnya mereka mendustakan apa yang mereka belum mengetahuinya dengan sempurna, padahal belum datang kepada mereka penjelasannya.” (Q.S. Yunus [10]: 39), dan firman-Nya:

“Dan ketika mereka tidak mendapat petunjuk dengannya (Alqur’an) maka mereka berkata: “Ini adalah dusta yang lama.” (Q.S. al-Ahqaf [46]: 11).

Pasal Mengenai Semua Manusia Berhak Atas Rahasia Ketuhanan

Jangan Anda mengira semua ini khusus untuk para nabi dan para wali saja, sebab esensi anak Adam dari asal penciptaannya memang untuk tujuan ini, seperti unsur besi agar dibuat cermin yang bisa digunakan untuk melihat gambaran alam, kecuali yang berkarat dan membutuhkan penyepuhan, atau besi kering yang membutuhkan pengecatan sebab sewaktu-waktu bisa patah. Demikian juga hati, jika nafsu dan kemaksiatan mendominasinya, maka ia tidak akan mencapai derajat ini. Hal ini sebagaimana yang disabdakan Rasul Saw:

“Semua yang terlahir berada dalam fitrah (esensi) Islam.”,[16]

Allah berfirman:

“Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Anda Tuhan kami).” (Q.S. al-A’raf [7]: 172).

Begitupun anak Adam, fitrahnya adalah mempercayai akan ketuhanan Allah, seperti dalam firman-Nya:

“Fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.” (Q.S. ar-Rum [30]: 30).

Para nabi dan para wali adalah anak Adam, Allah berfirman:

“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu.” (Q.S. Fussilat [41]: 6).

Setiap yang menanam pasti memetik, siapa saja yang berjalan, pasti sampai, siapa yang memohon, pasti akan mendapatkan. Permohonan tidak akan berhasil tanpa mujahadah – permintaan orang yang telah renta dan arif telah melalui jalan ini – jika dua hal ini berlaku pada seseorang, maka Allah telah berkehendak menganugerahinya kebahagiaan dengan hukum azali hingga ia mencapai derajat ini.

Pasal Mengenai Nikmat dan Kebahagiaan Manusia Terletak Pada Ma’rifat Allah

Ketahuilah ! bahwa segala sesuatu memiliki rasa bahagia, nikmat dan kepuasan. Rasa nikmat akan diperoleh apabila ia melakukan semua yang diperintahkan oleh tabiatnya. Tabiat segala sesuatu adalah semua yang tercipta untuknya. Kenikmatan mata pada gambar-gambar indah, kenikmatan telinga pada bunyi-bunyi yang merdu, dan demikian semua anggota badan. Kenikmatan hati hanya dirasakan ketika mengetahui Allah (ma’rifah Allah), sebab ia diciptakan untuk melakukan hal itu. Semua yang tidak diketahui manusia, tatkala ia mengetahuinya maka ia akan berbahagia, seperti permainan catur, ketika mengetahuinya ia pun senang, jika ia dijauhkan dari permainan itu, maka ia takkan meninggalkannya dan tak akan sabar untuk kembali memainkannya. Begitu juga mereka yang telah sampai pada ma’rifah Allah[17], pun merasa senang dan tak sabar untuk menyaksikan-Nya, sebab kenikmatan hati adalah makrifat, setiap kali makrifat bertambah besar, maka nikmatpun bertambah besar pula.

Karenanya, ketika manusia mengetahui sang menteri, maka ia akan senang, lebih-lebih jika tahu sang raja, maka kebahagiaannya tentu lebih besar lagi.

Tak ada satu keberadaan pun di alam ini yang lebih mulia dari Allah Swt, sebab kemuliaan yang dimiliki, semua oleh sebab-Nya dan dari-Nya, semua keajaiban alam adalah karya-Nya, tak ada pengetahuan (ma’rifah).

Pasal Mengenai Alam dan Saripati Manusia

Ketahuilah ! bahwa jika anak Adam disarikan dari alam, padanya terdapat segala gambaran alam yang masih bisa kita temukan akarnya, sebab tulang-belulang ini seperti pegunungan, dagingnya seperti debu, bulu-bulunya bagaikan tumbuhan, kepalanya bagaikan langit, inderanya seperti bintang, penjelasan mengenai hal ini sangatlah panjang. Demikian bagian dalamnya pun menyimpan gambaran alam, sebab fungsi pencernaan yang ada dalam lambung mirip dengan seorang ahli masak. Kekuatan yang ada pada limpa sama dengan pembuat roti, kekuatan pada usus bagaikan tukang cukur, kekuatan yang memutihkan susu dan memerahkan darah bagaikan tukang sepuh, penjelasan mengenai hal ini cukup panjang, yang penting adalah hendaknya kamu mengetahui berapa banyak alam yang tersimpan bersamamu, yang terus sibuk melayanimu, sedang Anda malah mengabaikannya, dan mereka takpernah beristirahat, Anda bahkan tak mengenalnya dan tak bersyukur pada-Nya yang telah menganugerahkan semua itu untukmu.

Pasal Mengenai Pengetahuan Tentang Komposisi Jasad Badan dan Manfaat-Manfaat Anggota Tubuh

Ilmu ini sangatlah agung, kebanyakan manusia mengabaikannya, demikian juga ilmu kedokteran. Setiap mereka yang ingin melihat dirinya dan keajaiban karya Allah Swt dalam dirinya, membutuhkan minimal tiga sifat dari sfat-sifat ketuhanan.

Pertama, hendaknya mengethui bahwa yang menciptakan seseorang juga mampu membawanya pada kesempurnaan dan bukan pada sebaliknya, Ia adalah Allah Swt. Tak satu pun perbuatan di dunia yang lebih ajaib dari penciptaan manusia yang berasal dari air hina dan pembentukan fisik dengan bentuk yang sangat menakjubkan, sebagaimana firman-Nya:

“Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur.” (Q.S. al-Insan [76]: 2).

Maka untuk mengembalikannya setelah mati adalah lebih mudah lagi, sebab pengulangan selamanya lebih mudah daripada permulaan.

Kedua, pengetahuan tentang ilmu Allah Swt bahwa ia mencakup segala sesuatu. Sebab keajaiban dan keanehan ini tak mungkin ada kecuali dengan kesempurnaan ilmu.

Ketiga, hendaknya Anda tahu bahwa keramahan-Nya, rahmat-Nya dan perlindungan-Nya mengenai segala sesuatu, tak terbatas di saat Anda melihat tumbuhan, hewan dan kandungan bumi, semua berada dalam keluasan kuasa-Nya, bentuk yang baik dan warna yang indah.

Pasal Mengenai Uraian Bentuk Manusia Merupakan Kunci Mengetahui Sifat-Sifat Ketuhanan dan Termasuk Ilmu Mulia


Yaitu pengetahuan tentang keajaiban karya-karya Ilahi, pengetahuan tentang keagungan dan kekuasaan Allah Swt, yang merupakan ringkasan (sari) dari pengetahuan hati. Ilmu ini begitu mulia, sebab berbicara tentang karya Ilahi, sebab jiwa bak kuda, akal sebagai penumpangnya dan keduanya terhimpun dalam kalimat penunggang kuda (joki). Siapa yang tak mengenal dirinya dan mengaku mengenal lainnya, maka ia seperti seorang lelaki bangkrut yang tak memiliki makanan sedikitpun untuk dirinya dan mengaku menafkahi orang-orang miskin di kotanya.

Pasal Penutup

Jika Anda mengetahui kemuliaan, kehormatan, kesempurnaan, keindahan dan keagungan setelah Anda menyadari bahwa esensi hati adalah esensi yang paling mulia, yang semua itu telah dianugerahkan kepadamu dan kelak akan ditarik kembali, dan Anda justru tidak memintanya, malah mengabaikannya dan menghilangkannya, maka Anda akan sangat menyesal pada hari kiamat. Berjuanglah untuk mendapatkannya, tinggalkanlah segala kesibukan duniawi! Dan segala kemuliaan yang tidak tampak di dunia, maka di akhirat kelak akan menjadi kebahagiaan, keabadian tanpa kefanaan, kekuasaan tanpa kelemahan, pengetahuan tanpa kebodohan, keindahan sekaligus keagungan.

Sedang hari ini, tak seorang pun yang lebih lemah darinya, sebab ia termiskin dan kekurangan, akan tetapi kemuliaan akan ia alami esok jika ia tancapkan pengetahuan tentang kebahagiaan ini dalam inti hatinya, hingga ia bisa menyelamatkan dirinya dari perumpamaan binatang dan bisa mencapai derajat malaikat.

Jika ia kembali pada nafsu dunia, maka ia lebih memilih menjadi binatang pada hari kiamat, karena sebenarnya ia kembali ke asalnya yaitu tanah. Dan ia pun akan abadi dalam siksa.http://www.blogger.com/img/blank.gif

Kami berlindung kepada Allah Swt dari semua itu, kami meminta pertolongan-Nya, sebab Ia sebaik-baik Pemelihara dan Penolong, dan rasa syukur ini untuk Allah Swt, Tuhan semesta alam. Semoga keselamatan senantiasa dianugerahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad Saw dan keluarga berikut para sahabatnya.


Oleh: Taofik El Rahman

Selengkapnya...

30 Oktober 2011

kenapa selalu berpecah-belah?

Sesungguhnya kita tidak mengetahui tujuan perpecahan dan bergolong-golongan itu. Apakah perpecahan itu tercetus karena kepentingan dunia semata-mata, atau perkara manakah yang menyebabkan Saudara berpecah-belah karena dunia? Sesungguhnya perpecahan Saudara tentang urusan keduniaan itu suatu perkara yang aneh! Ya Allah, bagaimana hal ini bisa terjadi pada Saudara yang berilmu pengetahuan dan memakai sorban?!

Sesungguhnya seorang ulama yang membayangkan hubungannya dengan Allah dibalik alam tabi’i (alam tabiat) ini, seorang alim yang terdidik di madrasah Islam, yang melalui proses pembenahan syakhsyiyyah yang kokoh, mengetahui benar-benar bahwa adalah mustahil mempunyai hasrat dan tujuan yang bersifat keduniaan serta didorong oleh keserakahan hawa nafsu. Sesungguhnya dia tidak berpikir demikian untuk menghadapi perselisihan, masalah krisis pribadi dan bergolong-golongan karena kepentingan dunia.

Wahai, dai-dai yang menyeru ke jalan Allah, yang ingin mengikuti pimpinan Amirul Mu’minin ‘Alî kw atau sekurang-kurangnya yang memperhatikan sedikit banyak sejarah hidupnya niscaya dapat melihat bahwa Saudara telah terlalu jauh dari corak kepemimpinan beliau dan perjalanaan hidup beliau. Adakah Saudara mengetahui tentang sifat zuhud, ketakwaan dan kehidupan yang sederhana serta suci itu? Adakah Saudara melaksanakan dan mengamalkan yang demikian itu? Adakah Saudara memahami tentang jihad kepemimpinan yang agung ini yang terus-menerus menentang kezaliman, thaghut, dan penindasan serta tindakan beliau membela golongan yang teraniaya (tertindas), mustadh’afin dan tersiksa? Sekiranya Saudara telah memahaminya, kenapa saudara tidak ingin melaksanakannya?

Mereka yang sedang menyalakan api kerusakan dunia sekarang ini, serta menyebarkan huru-hara dan kekacauan adalah golongan yang berlomba-lomba untuk menguasai umat manusia (berebut pengaruh). Mereka mencoba mengeruk perbendaharaan mereka dan menghisap manfaat serta mengekalkan penjajahan dan penindasan terhadap negara-negara yang lemah dan tertindas di bawah kekuasaan ekonomi mereka.

Oleh karena itu, semestinya Saudara menghadapi peperangan setiap hari dengan orang-orang yang seperti ini. Saudara harus menempa perjuangan untuk membebaskan umat manusia dari golongan mustakbirin atau para penindas dunia yang menggunakan berbagai nama atau tipu muslihat, untuk membebaskan bangsa dunia, membangunkan mereka dan mempertahankan kemerdekaan mereka, tetapi di balik slogan-slogan ini mereka memasok senjata-senjata kepada pemimpin-pemimpin bangsa manusia yang tertindas. Inilah peperangan menurut logika dan perhitungan golongan yang mengejar dunia, serta mengikuti pertimbangan mereka yang serakah. Sementara peperangan yang sedang Saudara hadapi adalah menentang dan membongkar segala perhitungan mereka.

Sesungguhnya apabila kita tanyakan kepada mereka, "Mengapa mereka tidak hanya berperang dan bertarung?" Mereka akan menjawab, "Kami menghendaki kelangsungan keamanan negara tersebut dan mengeruk kekayaan kami untuk mereka."

Akan tetapi apabila Saudara ditanya, "Mengapa Saudara tidak berperang dan bertarung menghadapi mereka?" Apakah jawaban Saudara? Sedangkan Saudara-saudara tidak mempunyai kepentingan dunia seperti mereka untuk menghadapi pertentangan ini.

Sesungguhnya kedudukan Saudara seperti seorang pembeli yang mengambil barang dari ulama Islam yang dirujuk (marja’i), sedikit sekali mengeluarkan belanja kepada golongan yang lain untuk membeli perlengkapan perang guna menghadapi para penindas itu. Oleh karena itu, kenapa kita berselisih dengan mereka, adakah saudara dapat memperhatikan ini?

Saya sempat membaca lembaran-lembaran khusus bersifat dokumen yang dikeluarkan oleh Gereja Vatikan untuk dikirimkan ke Washington. Saya temukan di dalamnya perhitungan-perhitungan musuh-musuh Islam sedemikian rupa, sebagaimana yang saya sebutkan di atas, yang memusatkan perhatian kepada pusat-pusat pengkajian kita. Lalu, adakah setelah saya beberkan ini semua, Saudara masih juga cenderung kepada kepentingan dunia?

Walhasil, segala sebab yang membawa kepada perselisihan dan perpecahan yang menghilangkan tujuan suci tertentu adalah merujuk kepada cinta dunia. Jikalau perselisihan dalam bentuk ini masih terdapat di antara Saudara, ini berarti bahwa Saudara tidak atau belum ke luar lingkaran cinta dunia yang masih bersarang di hati Saudara. Hal ini menunjukkan kepentingan duniawi yang terbatas dan telah menyebabkan perlombaan yang begitu jelek di lingkungan Saudara.

Saudara menghendaki kedudukan itu. Sedangkan pada waktu yang sama orang lain pun menghendaki kedudukan yang sama pula. Oleh karena itu, cinta dan rakus kepada dunia menguasai hati, dari keadaan yang seperti ini tidak boleh tidak, akan mendorong kepada perpecahan, hasud dan dengki.

Adapun dukungan gerakan Islam "Hizbullah" yang mengorek rasa kecintaan kepada dunia dari hati mereka dan membersihkannya dari kecenderungan yang rendah itu, tidak akan mengalami kerusakan dan musibah seperti ini. Seandainya para Nabi as. berkumpul di sebuah kota yang sama pada hari ini, maka sudah pasti tidak akan terdapat perselisihan di antara mereka dan niscaya mereka akan membentuk suatu shaf atau angkatan perjuangan seperti bangunan yang tersusun rapi (bunyânun marshûsh). Karena mereka semua mempunyai tujuan yang tunggal. Hati mereka semuanya menghadapi dan menuju kepada Allah SWT semata. Dalam waktu yang sama mereka tidak menghadapi wabah cinta dunia dan mereka tidak menyukainya.

Apabila Saudara meneliti, sesuaikah semua amal dan tindakan Saudara sekarang ini dengan apa yang dilakukan dan dilalui oleh Imam ‘Alî kw?

Ingatlah, ketika ke luar dari dunia ini, niscaya Saudara akan dapati masih jauhnya perilaku kita dari corak kepemimpinan beliau. Dan ingatlah, bahwa Saudara harus bertabiat dan kembali kepada akhlak Islam, sekiranya Saudara ingin mengikuti langkah-langkah yang mulia itu. Pikirkanlah jalan yang akan menyelamatkan saudara dari azab Allah sebelum kesempatan itu terlepas. Ketahuilah bahwa perpecahan dan sikap bergolong-golongan seperti yang disebutkan tadi amat merugikan dan terhina. Sikap seperti ini adalah perbuatan keji, bahaya dan menghancurkan.

Adakah Saudara kini terlibat dengan perselisihan itu? Adakah kelompok dan mazhab Saudara mempunyai berbagai perpecahan pula? Kenapa Saudara tidak sadar? Dan kenapa pula Saudara tidak saling ingat-mengingatkan serta tidak mewujudkan saling pengertian (kasih sayang) dan persaudaraan di kalangan Saudara? Kenapa....? Dan kenapa...?

Perpecahan ini sungguh berbahaya dan akan membawa kerusakan yang tidak dapat dielakkan lagi, akan menjadi perangkap besar pada pusat-pusat pengkajian Islam kita. Keadaan yang demikian ini telah menghapuskan kedudukan Saudara di kalangan masyarakat dan merupakan bayangan Saudara di mata umat. Tidak diragukan, kondisi semacam ini tidak sekadar membahayakan dan memelaratkan Saudara, tetapi seluruh umat Islam turut terseret ke dalam perangkap ini.

Lebih jauh lagi keadaan semacam ini membahayakan Islam itu sendiri. Alangkah sedihnya sekiranya perbedaan dan krisis yang terjadi di kalangan Saudara itu membawa bahaya kepada umat Islam. Saudara niscaya akan terjerumus ke lembah dosa yang sulit diampuni sebab ia merupakan sebesar-besar maksiat dan penentangan terhadap Allah. Hal itu merusakkan masyarakat manusia dan membuka pintu yang seluas-luasnya kepada musuh-musuh Islam untuk menguasai umat dengan berbagai tipu daya mereka.

Semoga tangan-tangan keji tidak menyelusup ke dalam pusat-pusat pengkajian kita dan menanamkan benih-benih kemunafikan, perpecahan dan kekacauan di dalamnya. Anasir-anasir jahat itu sungguh berupaya menghasilkan pemikiran-pemikiran yang rusak sehingga menjadi beban syariat bagi Saudara untuk menghadapi krisis dan perpecahan. Sehingga masing-masing golongan memandang golongan lain bertanggungjawab terhadap kerusakan dengan berdasarkan kaidah hukum syar’i.

Kondisi seperti ini memungkinkan musuh-musuh Islam menghancurkan cita-cita kita yang tunggal, yaitu membebaskan umat Islam. Ketahuilah bahwa mereka yang terdidik di pusat-pusat pengkajian Islam ini saja yang dapat menjawab persoalan ini.

Sesungguhnya menjadi kewajiban bagi Saudara untuk berhati-hati dan mengingat masalah ini, dan janganlah Saudara termasuk dalam perangkap setan, sehingga salah seorang dari Saudara berkata, "Sesungguhnya dari segi syariat Saya diminta bertanggung jawab dalam masalah ini, sementara yang lain juga mengatakan bahwa secara syariat Saya mempunyai tanggung jawab melakukan hal ini, yang bertentangan dengan pihak sebelumnya." Dengan demikian timbullah pertentangan dan pertarungan di antara kedua golongan. Dalam keadaan semacam ini, setan mengambil kesempatan untuk mengambil tanggung jawab syariat sendiri terhadap manusia dan melalaikan mereka dari tanggung jawab yang sebenarnya, dan dalam situasi yang lain hawa nafsu juga menguasai manusia.

Sesungguhnya tidak terdapat dalam hukum syara’ dan tidak pula menjadi kewajiban keagamaan, membolehkan seorang muslim menghina dan mencela muslim yang lain, atau seorang muslim memburuk-burukkan saudara muslim yang lain dalam agama. Keadaan semacam ini tidak terdapat dalam hukum syariat Islam. Malahan itu merupakan ciri-ciri kecintaan dan kerakusan terhadap dunia yang juga disebut semangat keakuan dan mementingkan diri semata-mata. Lebih jauh lagi hal ini adalah pengaruh setan yang telah menyelusup di antara kita, sehingga menimbulkan keadaan yang kacau di antara kita. Permusuhan seperti ini bukanlah sifat orang-orang yang beriman, sebaliknya adalah sifat ahli neraka.

Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya yang demikian itu pasti terjadi, yaitu pertengkaran penghuni nereka." (QS. Shâd, 38:64). Neraka jahanam merupakan tempat yang layak bagi permusuhan dan pertengkaran, karena penghuni neraka saling bercakaran di antara satu dengan yang lain. Oleh karena itu, sekiranya saudara bertentangan di dunia pada jalan yang batil, sudah barang tentu itu merupakan gambaran perjalanan yang sama, yang dilalui oleh para penghuni neraka jahanam. Apakah saudara ingin mengambil tempat mereka?

Sebenarnya dalam perkara-perkara yang berhubungan dengan akhirat tidak akan terdapat pertarungan dan perpecahan. Ahli akhirat jauh berada di puncak dan mengawasi kepentingan dunia, mereka hidup dalam suasana kasih sayang dan bersih di antara satu sama lain. Hati mereka dipenuhi dengan pancaran kasih kepada Allah semata. Oleh karena itu kecintaan kepada Allah ini menjadi sebab alamiah yang membawa kecintaan hamba-hamba Allah kepada orang-orang yang beriman. Selanjutnya kasih sayang hamba-hamba Allah itu adalah di bawah naungan kasih sayang Allah SWT.

Sesungguhnya manusia akan terdorong memasuki api neraka jahanam karena amal-amalnya yang buruk, dan jalan hidupnya yang hina. Ya, amal orang-orang yang menyeleweng akan membawa mereka ke neraka. Rasulullah Saww bersabda, bahwa: "Kami akan diberi ganjaran setelah menemui kematian dan kebinasaan. Apabila seseorang tidak melakukan sesuatu yang mendorong ia ke neraka jahanam, maka ia akan menghadapi berbagai ujian hidup, yakni melalui peringkat kehidupan yang sulit dan penuh ranjau."

Sesungguhnya menerima dunia ini sama artinya menerima neraka dan bergelimang dalam apinya. Manusia tidak akan menyadari hakikat ini sampai ia berpindah ke alam akhirat. Pada waktu ini ia masih berpindah ke alam akhirat, ia masih ditutup oleh hijab dan beberapa penutup. Setelah berpindah ke alam akhirat, ia baru akan memahami apa yang difirmankan oleh Allah: "(Azab) yang demikian itu adalah disebabkan perbuatan tanganmu sendiri dan bahwasanya Allah sekali-kali tidak menganiaya hamba-hambanya" (QS. Ali Imrân, 3:182).

Di sana juga mereka memahami firman Allah: "Dan diletakkan kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang tertulis di dalamnya dan mereka berkata: Aduhai, celakalah kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan itu tertulis. dan Tuhanmu tidak menganiaya seorang juapun". (QS. Al-Kahfi 18:49).

Setiap apa yang dilakukan oleh manusia di dunia ini dan apa yang dilahirkan, akan dapat dilihat di akhirat nanti. Mereka akan melihat dengan nyata. Allah berfirman: "Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah pun, niscaya ia akan melihat balasannya dan barangsiapa kejahatan sebesar zarrah pun, niscaya ia akan melihat juga balasannya". (QS. Al-Zalzalah, 99:7-8).

Sebenarnya setiap amal manusia dan tindakan atau perbuatannya akan dibeberkan di sana seperti film yang menggambarkan dengan nyata keadaan di dunia dan pasti dipaparkan di akhirat nanti. Tidak ada seorang pun yang dapat menafikan segala tindakannya, karena yang kita lihat di hadapan kita kelak adalah amal-amal yang kita lakukan berdasarkan bukti yang diberikan oleh anggota-anggota panca indera kita sendiri yang menjadi saksi terhadap kita. Allah berfirman: "Kulit mereka menjawab: Allah yang menjadikan segala sesuatu pandai berbicara telah menjadikan kami pandai berkata (pula)". (QS. Fushshilat, 41:21).

Di sana Saudara tidak bisa mengingkari atau menafikan segala amal yang telah dilakukan. Sebab Saudara berada di hadapan Allah yang berkuasa menuturkan segala sesuatu dengan berupaya mengambil saksi dari segala sesuatu. Renungkanlah barang sejenak, bahwa Saudara akan berhadapan dengan yang mempunyai kekuasaan dan pandangan, Yang Mengetahui semua perkara. Ingatlah akibat buruk yang akan menimpa diri Anda yang lalai dan janganlah Saudara lupa terhadap azab kubur, alam barzakh serta kedahsyatan yang ada di dalamnya. Beramallah dengan seolah-olah Saudara melihat neraka jahanam.

Sesungguhnya seseorang yang melihat adanya akibat buruk itu akan mengubah corak hidupnya selama ini. Sekiranya Saudara benar-benar meyakini dengan mengakui perkara-perkara ini dan memperhatikan kehidupan saudara sendiri dengan dasar apa yang dikehendaki dan sebagaimana yang dilukiskannya, semoga dapat menjaga seluruh amal dan perbuatan dalam rangka berusaha memperbaiki dan membersihkan diri dan ruhani.

Oleh: Imam Khomeini



Source: Padly Rahman

Selengkapnya...

29 Oktober 2011

QUO VADIS MODERNISME

Mukadimah: Fenomena Postmodernisme

Di era milenium III ini, istilah postmodernisme, dibalik ambiguitas maknawi yang dikandungnya, berhasil menguncang cakrawala pemikiran falsafah kontemporer. Pandangan kritis-radikalnya terhadap konfigurasi dan pilar-pilar utama world view peradaban modern yang semenjak abad ke-17 megabadikan diri hingga mapan dan canggih, telah membuat banyak kalangan terhenyak. Para pemuka madzhab anyar ini, dapat disebut antara lain Paul Ricoer, Lyotard, Michel Foucault, Jaques Derida, Jurgen Habermas, Theodore Adorno, dan lain-lainnya. Tak kurang reaksi negatif dan kontradiktisionis muncul dari berbagai pihak, sehingga pemikiran postmo ini dianugerahi setempel bernada mengolok-olok: sebagai mode intelektual yang dangkal, kosong dan reaktif. Bahkan dalam kamus The Modern-Day Dictionary of Received Ideas Postmodernisme dirumuskan sebagai “Kata yang tak bermakna, Gunakan saja sesering mungkin”.

Dalam medan filsafat, postmodernisme menunjuk pada pengertian bagi segala bentuk refleksi kritis atas paradigma-paradigma dan atas metafisika pada umumnya. Walaupun aliran pemikiran ini terpilah-pilah dalam bentuk yang lebih khusus, namun kesemuanya secara khas melontarkan kritik tajam atas paradigma rasionalisme-positivistik sebagaimana yang talah diletakan visi dasarnya oleh Descartes di masa-masa awal kebangkitan Barat (Eropa). Dalam perspektif filsafat, karakter khas yang melekat dalam modernisme adalah, bahwa ia senantiasa berupaya mencari dasar segala pengetahuan (episteme, wissenschaft) tentang ta onta realitas, yakni: dengan jalan kembali ke subjek yang mengetahui itu sendiri baik secara pemahaman transedental maupun psikologis. Dan kepastian mendasar atas pengetahuan ”realitras eksternal” tersebut diukur melalui hukum logika. Dus, representasi yang benar dan tepat atau keserupaan objektif dari realitas eksternal adalah identik dan sertamerta merupakan gagasan-gagasan yang telah diorganisasikan secara logis.

Dengan demikian pula, pandangan epistemologis seperti ini telah menempatkan manusia pada posisi pusat eksistensi dalam kosmik, ia sebagai subjek murni dan dalam waktu yang bersamaan mengakibatkan realitas alam semesta sebagai objek murni. Atau meminjam istilah Merleau-Ponty, manusia menjadi kosmotheoros dan alam sebagai la grand object. Lebih jauh lagi, Fritjof Capra dalam bukunya Science, Society and The Rising Culture, memandang bahwa paradigma modern yang bertumpu pada prosedur reduksionis dengan mengansumsikan alam material secara mekanistik, dan kemudian memaksanya guna diformulasikan secara kuantitatif-matematis, telah mengakibatkan lahirnya krisis persepsi ekologis; yakni alam dipandang sebagai benda mati dan objek yang absah untuk di kuasai, diprediksikan dan dieksploiatasi.

Dan menurut baliau pula dualitas pikiran dan materi yang dilambangkan oleh pernyataan Descartes-cogito ergo sum-telah mendorong orang-orang Barat menyamakan identitas mereka dengan pikiran rasional dan bukannya dengan organisme yang utuh. Konsekuensinya, orang- orang Barat menjadi surut ke dalam pikiran semata, dan “lupa” rasio sebagai instrumen untuk mengetahui. Dan ini berarti telah memutuskan hubungan dirinya dengan alam dan lupa bagaimana bermasyarakat dan bekerjasama dengan beragam organisme hidup.

Terlepas dari penilaian pejoratif terhadap pandangan postmodernisme, dan perdebatan teoritis dalam wacana epistemologi sebagaimana telah diuraikan secara singkat di atas, yang jelas pandangan-pandangan tadi telah menawarkan sebuah perspektif baru menatap modernisme. Dan serangan-serangannya terhadap modernisme, terutama dalam segi epistemologinya (karena merupakan unsur dasar modernisme) merupakan pemicu positif bagi kita untuk bersikap kritis terhadap keseluruhan wacana modernisme yang kini makin manjalar secara global.

Dalam sejarah diskursus intelektual, kritik tajam terhadap realitas modern beserta ornamentasinya bukanlah hal yang asing atau sama sekali baru. Telah hadir sebelumnya kalangan intelektual dari ragam millieu sosio-kultural yang memandang secara negatif, pesimistik bahkan nihilistik atas modenitas, dengan cara, pendekatan dan pisau bedah analisis yang berbeda-beda. Namun pada intinya, mereka memandang bahwa dalam peradaban modern kiwari terdapat anomali, paradoks-paradoks dan kontradiksi mendasar dalam level pemikiran teoritis-filosofisnya, maupun dalam level praksis-historisnya.

Citra Kemanusiaan Dalam Pandangan Modernisme

Sepanjang sejarah kemanusiaan, pandangan tentang jatidiri atau citra atas eksistensinya merupakan basis yang membentuk suatu corak kebudayaan atau peradaban tertentu. Atas dasr tu, dalam rangka melacak dan membedah watak dasar sebuah peradaban,menggunakan pendekatan atas konsep citra kemanisiaan merupakan salah satu pendekatan yang efektif agar memperoleh pemahaman secara global da objektif.

Menurut pandangan Dr. Ali Syari’ati, dewasa ini terdapat empat mazhab pemikiran yang mengklaim diri selaku pemilik valid humanisme, yaitu: Liberalisme perbedaan-perbedaan antara mazhab Liberalisme Barat, Marxisme dan Eksistensialisme, namun secara hakiki memiliki fondasi pemikiran yang sebangun dan sejajar. Dalam perspektif evolusi kesejarahan, visi humanisme yang berkembang dalam wacana Intelektualisme Barat berakar dari puak-puak pemikiran yang hidup pada zaman Peradaban Yunani Kuno. Kemudian melalui liku-liku dialektika historikal-intelektual mencapai titik klimaks kematangan relatifnya pada dunia Eropa modern. Dan menurut analisis Dr. Ali Syari’ati pula, bahwa pada sejatinya teori humanisme Barat dibangun atas asas yang sama yang dimiliki oleh narasi besar da mithologi Yunani, yakni didasarkan atas dikotomi, kontradiksi dan konfrontasi antara langit dan bumi, alam dewa dan alam manusia. Dalam wacana mithologi ini, Para Dewa (Tuhan) adalah kekuatan yang memusuhi manusia dan bertindak despotik, serta membelenggu manusia agar lestari dalam penjara kelemahan dan kebodohannya.

Sebagai implikasi logis dari bangun pikir menempatkan permusuhan permanen antara Tuhan dan manusia, maka pada ujungnya mengakibatkan lahirnya tendensi mendominasi alam secara tak terbatas sebagai upaya menunjukan kekuatannya dihadapan Tuhan. Tragedi ini sekaligus juga menjadi sebuah preseden serius bagi seluruh agama, karena mengakibatkan tercitrakannya seluruh agama-tanpa kecuali-secara negatif.

Oleh karena itu pula model pandangan humanisme yang dijadikan sandaran teoritis dan praktis bangsa-bangsa Barat, sangat identik dengan negasi segala sesuatu yang transenden dan spiritual. Manusia dalam makna material per se yang dipahami sebagai realitas to ontoos on dan otentik dan karenanya dipandang paling otoritatif untuk dijadikan sumber legitimasi kebenaran. Kemerdakaan insani yang dipahami bangsa Barat kiwari, merupakan refleksi atas keterbebasan manusia dari segala bentuk unsur spiritual. Hatta realitas soul sebagai unsur spiritual yang substantif dan melekat sebagai bagian padu dari eksistensi kemanusiaannya dipandang sebagai ilusi, aksiden atau produk imaginasi. Sebagai akibatnya, kemanusiaan hari ini adalah kemanusiaan yang pincang, kemanusiaan yang tidak mengakomododasikan dimensi etis-spiritual insaninya yang natural dan parenial. Kesemuanya itu kemudian terlefleksikan dalam seluruh perikehidupan manusia saat ini, sehingga secara evolusioner berbalik arah menjadi penghancur kemanusiaan itu sendiri dalam level mondial. Yakni dalam bentuk krisis kompleks dan multidisional yang mengancam secara serius eksistensi manusia.

Secara lebih lanjut dapat pula kita simpulkan bahwa ide-ide materalisme, atheisme, sekulerisme, hedonisme, dan yang sejenisnya pada hakikatnya merupakan fenomen-fenomen eksesif dalam cakrawala intelektual yang terlahir dari tendensi emotif-traumatis terhadap agama, dan karenanya adalah pseudo-ilmiah.

Citra Cakrawala Dalam Pandangan Modernisme

Sebagaimana telah diurai secara sekilas di awal tulisan ini, paradigma rasionalisme-posivistik secara substansial berpijak pada “doktrin” cogito ergo sum. Dalam dimensi kesadaran manusia, ini mengakibatkan lahirnya subordinasi dan terjadinya superioritas fakultas rasional dengan watak operasionalnya yang intensional, linier, terfokus dan analitis terhadap fakultas intusional dengan watak khasnya yang cenderung padu, holistik dan linier. Dalam situasi ini, intuisi tidak difungsiskan dalam berhubungan dengan alam raya, dan rasio secara agresif mereduksi, mendiferensiasi, mengkuantifikasi, mengklarifikasikan, dan mengeneralisasi objek-objek inderawi untuk dikonfigurasikan dalam sebuah tatanan logis.

Dalam dunia sains dan teknologi, metode pemikiran analitik yang diwariskan Descartes ini telah memberikan manfaat kepada manusia dalam pengembangan teori-teori ilmiah dan pelaksanaan proyek-proyek teknologi yang kompleks. Namun disisi lain, tatkala metode reduksionis ini dipercaya sebagai sebuah cara jitu dalam memahami segala fenomena dan diaplikasikan dalam disiplin ilmu-ilmu lain (termasuk ilmu humaniora), maka mengakibatkan terjadinya fragmentasi dalam menatap realitas sosio-kultural manusia.

Pandangan manusia modern terhdap alam raya yang menempatkan secara ekstrim sebagai objek mutlak, dan dianggap tak berpartisipasi dalam proses pembentukan eksistensi manusia. Kenyataan ini berefek pada tumbuhnya sikap teknokratis. Alam diperlakukan sebagai objek penguasaan, dimanfaatkan dan dibuang. Akibatnya eksplorasi atas sumber daya alam tidak berbasiskan pada ukuran kebutuhan akan tetapi pada kehendak materialistik an sich. Maka pengguanaan secara tidak efisien atas sumber-sumber daya alam, merebak dalam kehidupan masyarakat modern, dan kian memompa manusia untuk lebih menemukan dan mengeksplorasi sumber-sumber baru. Dus, krisis sumber daya alam terutama energi menjadi tak terhindarkan dan kerusakan ekosistem yang cukup serius mengancam manusia.

Semua teori sejarah yang lahir sejak masa Aufklarung menafsirkan sejarah sebagai proses yang melibatkan manusia dan alam dalam pertentangan satu sama lain. Sejarah dipandang sebagai pembebasan manusia dari cengkraman alam. Perkembangan sejarah menunjukan proses makin berdayanya manusia dalam melepaskan diri dari ketergantungan terhadap alam. Sejauh umat manusia beremansipasi melepaskan diri dari ketergantungannya, ia menuju kebebasan penuh. Akan halnya, progresivitas merupakan implikasi dari proses dialektis tersebut. Sehingga inti dari dialektika ini adalah perlunya penguasaan. Yakni manusia hanya dapat membebaskan diri dari alam dengan menaklukannya. Dalam bingkai analisis historis ini, Theodore Ardono bahkan mempersamakan prinsip penguasaan. Dengan rasionalitasnya manusia menaklukan alam kepadanya. Namun kendatipun demikian, menurut dia, proses rasionalisasi atau penguasaan atas alam ini, tidak menjamin diperolehnya kebebasan. Ini berbeda dengan pandangan Herbert Spencer yang memprediksikan bahwa segala bentuk peperangan akan lenyap seiring dengan penyebaran ilmu pengetahuan dan teknologi serta berkembangnya hubungan niaga lintas Bangsa.

Khatimah: Agama Sebagai Pandangan Dunia Alternatif

Kesadaran tunggal rasional-materialistik manusia modern, mengakibatkannya telah berpisah dengan spiritualitas. Dan kemudian dalam proses relasi dinamisnya dengan alam, meneguhkan manusia pada posisi sentral, yaitu sebagai pengandali dan penguasa tunggal dalam ruang kosmik-secara tanpa kontrol. Sentralisme ini meresap dalam konteks kehidupan interaksi sosialnya, dan akibatnya mental teknokratis dan agresif juga teraktualisasikan dalam ranah interaksinya dengan sesama manusia. Kombinasi hegemonik ideologi liberalisme-kapitalisme dalam level sosial-politik berikut implikasinya seperti etika survival of the fittest merupakan cermin nyata atas fenomena ini.

Peta realitas dalam perspektif modernisme, secara dualistik sebagai kenyataan subjek-objek, spiritual-material dan seterusnya mengakibatkan terjadinya objektivasi semena-mena terhadap alam dan kemudian merambat pula dalam atmosfer kehidupan interaksi manusia. Imperalisme secara politik-militer dan kultural sebagaimana terekam dalam kenyataan sejarah dan kekinian adalah ekspresi konkretnya. Dalam konteks kehidupan sosial-politik, masyarakat pun menjadi objek yang direkayasa.

Supremasi ilmu-ilmu empirisme dalam kontatasi modernisme mangakibatkan kebenaran empirisme menjadi standard utamanya. Alhasil nilai-nilai kebenaran religius termaginalisasi. Disorientasi moral-etis pun marak dalam wujud kriminalitas, depresi mental, schizophrenia, dan sebagainya. Bahwa dalam wacana modern, manusia dalam sudut eksistensinya sebagai makhluk rasional, secara sepihak berarti dalam titik puncak determinasi relatifnya. Segenap daya intelegensi, kehendak, kreasi, dan segala manifestasinya sejauh teralami dan teruji adalah sebagai intisari kompleksitas bangunan peradabannya. Sebutan peradaban modern sebagai peradaban antrphosentris nampaknya cukup relevan dan tepat demi mendeskripsikan eksistensinya. Kelahiran dan pertumbuhannya dapat dipandang sebagai antithesis atas konstruksi peradaban sebelumnya yang terbentang dalam pengalaman sejarah barat yang theosentris.

Dalam struktur sebuah kebudayaan maupun peradaban dimana pun dan kapan pun, faktor pandangan dunia merupakan fondasi yang menjadi basis bagi lahir dan berkembangnya tatanilai dan norma, serta keseluruhan bangunannya. Maka yang menjdai inti kekuatan yang menopang suatu bangunan peradaban adalah pada dimensi pandangan-dunianya. Anomali, paradoks ataupun kehancuran dalam sistem ide-nya akan berefek secara menyeluruh pada aspek dan dimensi lainnya. Sementara dewasa ini kita, menyaksikan kritik-kritik tajam yang secara bertubi-tubi dan meyakinkan mampu membuktikan kesalahan-kesalahan fatal pada pandangan dunia modern. Karenanya, dapat kiranya diambil sebuah hipotesis bahwa peradaban modern tengah berada diujung kehancurannya.

Dengan demikian kehadiran sebuah pandangan dunia alternatif, guna mengambil alih modernisme yang telah sekian lama malang melintang dalam sejarah kemanusiaan sangat dibutuhkan dan dinantikan kehadirannya. Kemudian pandangan dunia seperti apakah yang berkemampuan mengambil alih peran modernisme?. Dapatkah pandangan dunia keagamaan mengambil peran dalam momentum ini? Menurut penulis, jawabannya adalah harus dan pasti. Namun ini sangat tergantung dari sejauhmana generasi masa kini mampu secara cerdas membumikannya dalam ranah sejarah, sehingga di masa depan terbangun sebuah peradaban yang mampu memberikan garansi pasti bagi kemaslahatan segenap ummat manusia. Karena agama sendiri adalah semata-mata hidup atau mati, berperan atau terpinggirkan tergantung ditangan yang meyakininya. Wallahu ‘alam. *****

Oleh: Dedi Suryadi [SekJend Liga Muslim Indonesia]

Selengkapnya...

27 Oktober 2011

REFLEKSI: KEBEBASAN !

Mungkin agak sulit bagi kebanyakan kita untuk memahami konsepsi Tawhid sebagai Pembebasan. Hal ini karena secara mindset kita lebih mengakrabi kebebasan dalam pengertian material an sich. Kebebasan lebih dimaknai sebagai suatu kondisi serba boleh setiap individu untuk bertindak berdasarkan kehendaknya. Terbebas dari segala tekanan maupun aturan, tanpa mempertimbangkan asal-usul maupun sumber kemunculan dari kehendak itu sendiri. Boleh di bilang, wacana seputar kebebasan hampir diidentikkan dengan hak pembelaan manusia ketika berhadapan dengan sebuah kekuatan yang membelenggunya. Ia seolah tersekat oleh sesuatu yang bersifat profan, privaci dan sekuler. Hampir jarang –jika tidak ingin disebut tidak sama sekali- ia dikaitkan dengan anugerah Sang Pencipta yang sesungguhnya teramat trasenden. Demikian kebebasan dalam visi liberalism individualistic yang menjadi pemahaman mayoritas kita dewasa ini.

Sementara kebebasan dalam makna hakiki tidaklah demikian. Kebebasan didefinisikan dengan merujuk pada potensi intrinsic manusia yang mencitrakan keunikan eksistensialnya dengan makhluk-makhluk lain. Kebebasan merupakan ruang terbuka yang kondusif bagi teraktualisasikannya kecerdasan intuitif dan kecerdasan intelektual dalam dimensi ruang dan waktu serta kesejarahan manusia. Kedua kecerdasan manusia ini memilki dasar mutlak aktualisasi karena merupakan citra kemanusiaanya. Tanpa keduanya manusia seolah setara dengan makhluk lainnya, dan kehilangan kemuliaan serta keunikannya. Tanpa keduanya manusia tak lebih organism hidup yang tak jauh beda dengan binatang. Dalam realitas social kita, tidak berfungsinya kecerdasan intelektual atau akal sehat kita menjadikan seseorang menyandang predikat orang gila. Derajat kemanusiaannya secara social turun, dan kemampuanyna untuk berfungsi secara social pun terganggu.

Artinya Kebebasan dalam Islam merupakan kebebasan yang bertujuan. Yakni bertujuan untuk menjaga dan memeliha serta mengoptimalkan anugerah Ilahiyah yang secara unik dimilikinya. Sehingga seorang manusia dapat menjalankan fungsi kepemimpinan (khalifah) di alam ini, dengan mendayagunakan kekuatan Ilahiyahnya termasuk potensi material yang ada di bumi untuk tujuan yang melampaui batasan material.

Demikianlah secara tekstual makna Tawhid sebagai Tahriiru-n Naas!


Oleh: Dedi Suryadi [SekJend Liga Muslim Indonesia]

Selengkapnya...

15 Oktober 2011

Profil Liga Muslim Indonesia

Sesungguhnya Allah SWT, dengan segala Rahmat, Keperkasaan dan Kekuasaan-Nya atas Rencana dan Tujuan diciptakannya alam semesta ini, berkehendak agar Anak Adam hidup di dalam kemuliaan. Dibedakannya kejadian Anak Adam dengan kejadian makhluk-makhluk-Nya yang lain, dan dikaruniakan-Nya Anak Adam dengan nurani, akal budi dan intuisi agar Anak Adam dapat meraih derajat tertinggi harkat insaninya melalui peniruan kepada atribut-atribut Ruhani-Nya. Semua ini di tetapkan oleh-Nya agar Anak Adam mampu memikul amanah sebagai khalifah-Nya di muka bumi, guna menabur rahmat bagi sekalian alam.

Untuk memenuhi Iradah-Nya itu, Allah SWT menurunkan Petunjuk-Nya berupa Al-Kitab, melalui para utusan-Nya yang terpercaya, yaitu para Nabi dan Rasul, dari Adam AS hingga Muhammad SAW, dengan kitab-Nya yang paling akhir dan paripurna, yakni Al-Qur’an. Dalam praksisnya, kedua unsur ini saling melengkapi; kitab berperan konstruktif dalam merefleksikan kedalaman spiritual, keluhuran moral dan kecemerlangan intelektual yang dibutuhkan manusia dalam kesaharian hidupnya, sedangkan Nabi sendiri adalah personifikasi ideal nilai-nilai agung kamanusian yang terkandung di dalam Al-Kitab, baik dalam kapasitasnya sebagai hamba-Nya, sebagai khalifah-Nya maupun sebagai penabur rahmat bagi sekalian alam.

Nilai-nilai agung kemanusian telah diteladankan olehNabi Muhammad SAW tatkala beliau memimpin sebuah komunitas plural yang menjadi cikal bakal civil society, yakni “Al-Madinah Al-Munawwarah” yang merupakan tonggak-tonggak monumental sekaligus parameter ideal masyarakat beradab sepanjang masa.Keberpihakannya kepada kaum yang lemah dan tertindas; komitmennya kepada keadilan,persamaan, dan persaudaraan; kesungguhannyadalam menegakkan wibawa dan supremasi hukum; kepeduliannya akan nasib kaum perempuan;kecintaannya kepada ilmu dan peradaban demi sebesar-besar kemaslahatan ummat; dan yang terpenting keberhasilannya dalam menegakan pilar-pilar kemanusian semata-mata dimungkinkan oleh kepiawaiannya dalam menaklukan hati baik para sekutu maupun seterunya, bukan dengan pedang dan tetesan darah – adalah factum et datum historicum(fakta dan data sejarah) yang tak terbantahkan.

Walaupun pribadi Nabi Muhammad SAW kini telah tiada, namun keberlanjutan misi dan peran sosial kenabiannya pantang mengenal kata henti, karena misi suci mewujudkan persamaan, persaudaraan, kebebasan, dan keadilan serta pembebasan manusia dari segala bentuk dan jenis perbudakan tetap menjadi tugas dan tanggungjawab bagi setiap individu muslim yang sadar, tak terkecuali Ummat Islam Bangsa Indonesia.

Source: Liga Muslim Indonesia

Selengkapnya...